logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 21 Oktober 2006 WACANA
Line

Mudik, Perhelatan Ekonomi Kerakyatan

  • Oleh Susidarto

PROSESI mudik dan perhelatan ekonomi kerakyatan, merupakan fenomena tersendiri belakangan ini. Maklum di tengah-tengah prosesi mudik lebaran, ternyata terkandung potensi ekonomi kerakyatan yang demikian besarnya.

Mengapa disebut ekonomi kerakyatan, karena dilakukan oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat. Lho, kok bisa demikian? Jawabnya sederhana, karena yang mudik adalah rakyat, kemudian yang membuang uang adalah rakyat, dan yang menggunakan adalah rakyat sementara yang menikmati adalah juga rakyat.

Mudik jelas akan menggulirkan perekonomi pedesaan yang di saat biasa jauh dari hingar bingar. Kawasan pedesaan tempat asal para migran yang mudik lebaran, adalah potret daerah yang sepi dari kegiatan ekonomi, menjadi sumringah, cerah dan gemebyar oleh kegiatan "buang-buang" uang dari para pemudik.

Mudik lebaran menjadi magnet tersendiri bagi kaum urban. Sekurangnya tiga alasan mendasar. Pertama, banyak waktu libur. Cuti massal Idul Fitri 2006 selama 9 hari. Untuk yang mengambil cuti tahunan, maka liburan lebaran kali ini akan menjadi semakin panjang. Tak aneh, kalau selain mudik lebaran, tempat/lokasi wisata akan banyak dibanjiri pengunjung. Mereka, para pemudik akan banyak membelanjakan uangnya di tempat itu.

Kedua, para pekerja/pegawai memperoleh pendapatan ekstra berupa THR /bonus Lebaran di tempat mereka bekerja. Pendapatan tersebut dapat digunakan untuk konsumsi, memperbaiki rumah keluarga di pedesaan, membeli tanah, ternak sebagai investasi di tanah kelahiran (kampung) mereka, karena sebagian mereka menganggap kehidupan di kota bersifat temporer (sementara) dan masa tua mungkin akan kembali ke kampung halaman.Aktivitas mudik lebaran membawa dampak yang tidak kecil bagi perekomomian daerah tujuan.

Memang belum pernah ada yang membuat penelitian mendalam mengenai masalah ini, namun, kalau mau berhitung dengan jernih, maka dana yang dibelanjakan oleh para pemudik di daerah tujuan mudik, sebenarnya cukup besar. Dana yang cukup besar ini akan memutar roda perekonomian daerah.

Banyak industri rumah tangga yang akan menuai panen. Industri kerajinan tangan, industri pakaian jadi, industri pertanian, peternakan, dan makanan (oleh-oleh), warung makan, akan banyak diburu para pemudik. Kalau demikian banyak sektor ekonomi yang terpengaruh dengan fenomena mudik, maka efek ganda ekonomi yang mampu tercipta juga akan semakin membesar.

Akhirnya, mudik lebaran tidak hanya ditunggu-tunggu oleh para pemudik itu sendiri, namun juga para pelaku/dunia usaha yang senantiasa mendapatkan berkah luberannya. Meski musiman, para pebisnis yang jeli mempersiapkan diri dengan baik, sehingga bisa optimal pada saat hari H para pemudik membelanjakan uang sebanyak-banyaknya.

Ketiga, mudik juga dipakai sebagai ajang untuk bersilaturahmi serta bermaaf-maafan dengan keluarga di kampung halaman. Selain juga bernostalgia dengan rekan atau sanak keluarga yang lainnya. Dalam bahasa Jawa di kenal dengan istilah kangenan dengan kolega lama di kampung halaman.

Catatan Penutup

Melihat dampak ekonomi yang dihasilkan oleh mudik lebaran demikian besar, tidak terlalu mengherankan kalau fenomena ini ditunggu banyak kalangan. Rezeki lebaran, mereka biasa menyebutnya, akan memungkinkan banyak warga meningkat penghasilannya. Demikian demikian, multiplier effect yang dihasilkan dari fenomena mudik lebaran merupakan sesuatu yang bisa dihitung secara matematis.

Momentum mudik lebaran hendaknya bisa dijadikan ajang perbaikan ekonomi ke depan, mengingat kehadirannya yang begitu strategis untuk mempengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat pinggiran (pedesaan).

Bagaimanapun juga, mudik lebaran tetap menjadi upacara menarik. Dengan demikian, budaya mudik memiliki daya pikat serta daya tarik tersendiri yang luar biasa. Dengan mudik itulah pemudik menjadikan "arena bergengsi" untuk menunjukkan tampilan yang bercorak metropolis.

Di samping itu juga dapat bertemu dengan sanak keluarga serta kawan lama yang berada di kota lain sebagai ajang tukar-menukar informasi dan pengalaman.

Pada saat bersamaan memungkinkan terjadi perpaduan antara budaya perkotaan dan budaya pedesaan. Mudik Lebaran juga sebagai seremonial spiritual yang memiliki nilai sosial yang besar. (11)

--- Susidarto, praktisi perbankan, pemerhati masalah sosial-ekonomi.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA