logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 21 Oktober 2006 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

George W Bush dan Simalakama Irak

- Sudah lebih dari tiga tahun pemerintahan Saddam Hussein digulingkan lewat invasi Amerika Serikat dan sekutunya. Namun Irak bukannya bertambah baik seperti diharapkan Washington, malah semakin hancur. Perang saudara antara kaum Suni dan Syiah berkembang hebat. Setiap hari jatuh korban jiwa. Puluhan ribu warga minoritas Suni - yang menjadi warga kelas satu di era Saddam - dilaporkan mengungsi ke luar negeri untuk menyelamatkan diri. Tampaknya dendam Syiah tidak bisa lagi direm karena mereka menderita di bawah rezim Saddam. Setiap kali bom meledak dan memakan korban jiwa, pasti ada bom susulan yang berbau pembalasan.

- Dalam situasi semacam itu, pemerintahan hasil pemilu demokratis kelihatannya tidak bisa berbuat apa-apa. Ratusan ribu tentara Amerika pun sama bingungnya. Militer AS dan Inggris, yang tadinya menduga bakal pulang cepat, bagai terpaku di bumi Irak. Pasukan pendudukan bersenjata paling canggih di dunia itu tidak berdaya menghadapi gerilya kota yang dilancarkan oleh faksi berbeda: ada gerilyawan Suni pendukung Saddam, gerilyawan Syiah, dan Al Qaedah. Presiden George W Bush Bush coba menenangkan pemerintahan PM Nuri al-Maliki bahwa pasukan Amerika tidak akan meninggalkannya sendirian sampai Irak benar-benar aman dan terkendali.

- Jaminan tersebut dikemukakan, ketika seruan agar pasukan Amerika ditarik pulang semakin santer. Rakyat Amerika, juga Inggris, yang dahulu mendukung invasi dan pendudukan atas Irak, sekarang berubah haluan. Sebagian berubah karena kini sadar alasan penggulingan Saddam hanya dicari-cari, sementara yang lain berubah semata-mata hanya karena tidak ingin melihat lebih banyak serdadu AS-Inggris tewas secara tragis di Irak. Mayoritas masyarakat dunia sejak dahulu secara terang-terangan dan diam-diam menentang invasi tersebut. Tekanan yang bertambah kuat di dalam negeri kemungkinan bisa memaksa Bush mengingkari janji kepada PM Maliki.

- Tetapi melihat perkembangan terakhir, penarikan pasukan AS-Inggris tampaknya perlu dipikir ulang. Pemerintahan PM Maliki pasti takkan mampu sendirian mengatasi situasi. Angkatan bersenjata baru dan kepolisian Irak jelas bakal kewalahan. Apalagi mereka termasuk sasaran utama gerilyawan. Dalam beberapa kali serangan, sejumlah rekrutmen angkatan bersenjata dan kepolisian tewas ketika mereka bahkan belum sempat mengenakan pakaian seragam. Konflik di Irak termasuk paling pelik di muka bumi ini, karena menyangkut isu keyakinan. Juga banyaknya faksi yang terlibat. Mendudukkan mereka di meja perundingan, kini agaknya sudah terlambat.

- Meninggalkan Irak dalam keadaannya sekarang sungguh tidak bertanggung jawab. Negara itu telah terjerumus ke jurang paling dalam. Inilah buah simalakama yang dipanen dari kebohongan dan tindakan terburu-buru Washington. Semua tahu, dalih Saddam membuat senjata pemusnah massal adalah kebohongan belaka. Alasan paling masuk akal dari tindakan Bush adalah perasaan berlebihan bahwa dia pahlawan demokrasi dan polisi dunia yang punya hak untuk menyingkirkan seorang tiran. Dia juga coba mengakomodasi gerakan perlawanan Irak di luar negeri, yang gencar melancarkan kampanye anti-Saddam menjelang invasi Maret 2003.

- Saddam Hussein mungkin memang tiran. Dia menindas kaum Syiah dan Kurdi, memperkaya diri dan keluarganya. Tetapi realitas menunjukkan, begitulah selalu situasi di banyak negara berkembang. Pemimpinnya memerintah dengan tangan besi. Kaum oposisi ditangkapi, diculik, dan kemudian hilang tanpa bekas. Rakyat Irak bisa jadi telah terselamatkan dari mulut harimau, namun bukankah sekarang mereka masuk mulut buaya? Washington bertanggung jawab untuk menyelamatkan mereka. Sungguh pengecut jika Bush melepas tanggung jawab hanya karena ingin menyelamatkan nyawa tentaranya dan menghemat dolar untuk rekonstruksi Irak.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA