| Sabtu, 21 Oktober 2006 | NASIONAL |
Polda Periksa Warga JatengSEMARANG - Polda Jateng memeriksa beberapa warga yang diduga terlibat dalam kasus penembakan terhadap pendeta Irianto Kongkoli di Palu, Sulteng pada Senin (16/10) lalu. "Memang ada indikasi warga kita yang berangkat ke sana (Palu). Namun, kami masih melakukan penyelidikan, apakah mereka ini benar terlibat dalam kasus tersebut atau tidak," kata Kapolda Jateng Irjen Dody Sumantyawan di Mapolda, kemarin. Ia menyatakan, memang tidak ada larangan bagi siapa pun pergi ke daerah tertentu dan daerah mana saja. Namun, jika diketahui melanggar hukum dan aturan, maka yang bersangkutan harus bertanggung jawab atas tindakannya. Disinggung apakah beberapa warga diperiksa karena yang bersangkutan pergi ke Sulteng saat kejadian, Kapolda mengaku, masih melakukan penyelidikan dan belum dapat memberikan informasi lebih terperinci. "Kami masih terus melakukan koordinasi dengan Polda Sulteng dan Mabes Polri. Informasi yang kami dapat ada beberapa nama yang diduga berasal dari Jateng," tuturnya. Dia mengungkapkan, beberapa nama masuk dalam daftar pencarian orang yang sedang diselidiki guna mencari identitas warga yang terlibat. "Sekarang ini baru penyelidikan dan pencocokan informasi yang kami terima. Jadi kami belum dapat menyebutkan inisial dan kelompok dari mana, yang pasti mereka berasal dari Jawa Tengah," katanya. Mengenai jumlah warga Jateng yang diperiksa, Dody enggan menyebutkan. Ia hanya mengungkapkan pihaknya memeriksa lebih dari satu orang. Sisa Radikalisme Di lain pihak, Wapres Jusuf Kalla menyatakan, aksi teror yang masih berlangsung di Poso bukan konflik komunal. Melainkan sisa radikalisme yang pengungkapan pelakunya membutuhkan peran aktif warga setempat bekerja sama dengan aparat keamanan. "Daerahnya sangat luas, ribuan polisi tidak akan bisa (menjaga keamanan) apabila masyarakat sendiri tidak turut (membantu)," kata Wapres di Istana Wapres. Menurutnya, teror-teror yang berlangsung dalam tiga tahun terakhir bukan lagi konflik komunal. Sebab pelakunya adalah kelompok-kelompok kecil orang yang masih memendam sisa radikalisme ditambah adanya campur tangan pihak dari luar Poso. Bentuk kerja sama yang bisa diberikan masyarakat adalah melaporkan kepada polisi setiap kali mendapati orang yang melakukan aksi teror. Seperti membuat bahan peledak atau melakukan penembakan. "Pemerintah ingin secepatnya masalah ini selesai. Kalau bisa minggu depan. Ini diusahakan sebaik mungkin oleh kepolisian. Tidak ada yang ingin di daerah itu masih berlanjut pembunuhan," imbuhnya. (H30,dtc-60v) |