| Sabtu, 21 Oktober 2006 | NASIONAL |
Jalur Penyelamat Jalan Tol Sesuai StandarSEMARANG -Tengara tak memadainya kondisi tanah di jalur penyelamat yang terdapat di Jalan Tol KM 2 Seksi C Jalur A wilayah Kelurahan Tandang, Tembalang, Semarang, dibantah oleh PT Jasa Marga Semarang. Menurut Kepala Cabang PT Jasa Marga Semarang, Ir Agus Purnomo, kondisi tanah dan pasir yang ada di jalur penyelamat itu sudah sesuai dengan standar. "Kami sudah melakukan pemantauan. Hasilnya, tanah dan pasir di jalur tersebut sudah sesuai dengan ketentuan. Jadi tak ada masalah dengan kondisi jalur penyelamat itu," ungkap Agus Purnomo, Jumat (20/10). Seperti diberitakan sebelumnya, Bus Tri Kusuma jurusan Semarang-Purwokerto mengalami rem blong saat melaju di turunan jalan tol seksi C di wilayah Kelurahan Tandang. Sopir bus, Moch Sodikin (54), berinisiatif mengalihkan laju kendaraan ke jalur penyelamat yang terdapat di jalur A. Namun, bus bernopol R-2918-AA itu tersangkut di ujung dinding jalur penyelamat. Tak ada korban jiwa dalam kecelakaan tunggal tersebut. Tujuh penumpang mengalami luka-luka, termasuk sopir. Sodikin menduga kerasnya kondisi tanahlah yang mengakibatkan laju bus tidak berhenti. Menurut Agus Purnomo, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan dan pengecekan mengenai kondisi tanah dan pasir. Tak ditemukan adanya dugaan seperti yang dikatakan sopir bus itu. Kendati demikian, pihaknya mengaku sudah melakukan sejumlah perbaikan di jalur penyelamat satu-satunya yang ada di Jalan Tol Kota Semarang tersebut. "Secara rutin kami sudah melakukan pemeliharaan tanah dan pasir di jalur tersebut. Sebab, di jalur itu kondisi jalannya menurun," kata Agus Purnomo di sela-sela proses penarikan bus yang tersangkut tersebut. Tidak Layak Jalan Bus tersebut telah berhasil ditarik ke jalan tol setelah pihak PT Jasa Marga Semarang mendatangkan sebuah crane. Butuh waktu lebih kurang satu jam untuk menarik bus tersebut. Lebih lanjut Agus Purnomo menuturkan, justru kalau tidak ada jalur penyelamat, kemungkinan kecelakaan itu bisa lebih buruk lagi. Dinding beton jalur penyelamat, kata dia, juga sesuai dengan standar ketentuan. Buktinya, kata dia, dinding beton tersebut mampu menahan laju bus yang mempunyai berat sekitar dua ton. Mengenai tidak berhentinya bus saat masuk ke jalur penyelamat, Agus menduga itu karena bobot bus yang berat. Ditambah lagi, bus melaju dalam kecepatan tinggi dan tidak ada pengereman karena rem tidak berfungsi. Lebih jauh dia mengharap setiap pemilik angkutan maupun awak bus, sebelum mengoperasikan armada, supaya mengecek segala peralatan dan kondisi kendaraannya. "Sepertinya banyak angkutan yang kurang terkontrol dan tidak layak jalan. Padahal, itu standar baku sebelum mengoperasikan angkutan," tandasnya sembari mengimbau agar para pemilik angkutan melengkapi dengan armadanya dengan sabuk pengaman. Ditambahkan, untuk mengantisipasi kecelakaan di jalan tol, pihaknya dalam waktu dekat akan memperbanyak rambu-rambu lalu lintas.(H21-60a) |