logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 21 Oktober 2006 NASIONAL
Line

kisah

Penuturan Ibu Bayi Kembar Siam

"Saya Tidak Ngidam dan Doyan Makan"


SM/ Achmad Hussain DIRAWAT: Bayi kembar siam sampai kemarin masih dirawat di Kamar Bayi Berisiko Tinggi RS Dr Moewardi menunggu operasi pemisahan. (57v)

Kondisi ibu bayi kembar siam sudah semakin baik. Ia baru mau bercerita bagaimana awalnya bisa mendapatkan anugerah dari Tuhan seperti itu. Wartawan Suara Merdeka menuliskan kisahnya berikut ini.

BAYI kembar siam dari pasangan Tarip Aryanto ( 26 ) dan Eka Sri Handayani ( 25), masih dirawat di Kamar Bayi Risiko Tinggi ( KBRT) RS Dokter Moewardi, Jebres, Solo.

Dua bayi yang lahir Rabu Pon (18/ 10) dengan berat 4,2 kg itu, terus menjalani pengawasan. Selain itu, kondisi ibu bayi kembar siam tersebut, yakni Eka Sri Handayani juga semakin membaik.

Menempati kamar nomor 2 Bangsal Mawar III di lantai tiga, ibu muda itu masih terbaring di tempat tidur. Tidak seperti sehari sebelumnya, kemarin dia sudah mau menceritakan kelahiran dua anak pertamanya itu, meski sangat terbatas.

''Sebelum mengandung, saya malah tidak ngidam sama sekali; makanan apa saja saya makan,'' paparnya, dengan infus yang masih menancap di tangan kanan.

Ditemani beberapa kerabat dan tetangga, dia tampak lebih tenang. Mengenakan blus panjang kembang-kembang warna hitam-putih, raut wajahnya mulai cerah dan tidak terkejut dengan kedatangan wartawan yang sejak pagi berupaya menemuinya.

Namun, dia tetap keberatan saat diambil gambarnya. Suaminya, Tarip, tak terlihat di antara keluarga dan tetangga, karena sedang membeli obat di luar ruang itu.

Eka mengatakan, saat mengandung, usia kandungannya juga normal dan tidak jauh berbeda dari usia kandungan umumnya, yakni sembilan bulan kurang dua hari. Kondisinya selama mengandung bayi kembar siam itu juga tidak ada yang aneh. Justru dia merasa sehat dan sering wira-wiri ke rumah suami di Mojosongo dan ke rumah ibu kandungnya di Kedunglumbu, Pasar Kliwon.

Wanita yang menikah dengan Tarip Aryanto pada 2005 itu tidak menyangka sama sekali, jika anak pertamanya lahir kembar siam. Dia sempat kaget dan shock, meski sebentar.

Soal anak pertamanya yang lahir sebagai kembar siam itu, juga baru sebatas didengar dari cerita suami dan keluarganya. Dia sendiri sejak melahirkan kedua putranya itu belum diperbolehkan menjenguk. ''Saya sebenarnya ingin melihat, tetapi belum diperkenankan, karena kondisi saya belum pulih benar,'' lanjutnya.

Tak jauh beda dengan suaminya, dia juga mengaku bingung jika kedua anaknya harus dipisahkan dengan operasi. Yang membuatnya resah adalah soal biaya operasi yang pasti akan mahal. Kalau keluarga yang menanggung, dia pesimis akan mampu membiayai. Meski pihak rumah sakit sudah mengupayakan pembiayaan gratis, tetapi dia tetap bingung.

''Sampai sekarang belum jelas, kapan operasi pemisahan itu. Yang penting, menantu saya sehat dulu,'' ujar wanita paro baya yang duduk bersandar tembok di dekat ranjang.

Dia adalah mertua Eka, yakni Lasmiyati (45). Ibu dua anak itu mengatakan, saat Eka mengandung tidak ada tanda mencurigakan. Semua berjalan biasa, dan keluarga juga gembira saat melihat menantunya mengandung.

Meski bingung soal biaya operasi pemisahan cucunya, dia tetap bersyukur karena semua selamat.

Bahkan jika nantinya dioperasi dan dipisahkan, keluarga sangat berharap kedua bayi itu selamat sampai tumbuh dewasa.

Soal biaya operasi, keluarga mengaku pasrah. Namun jika memerlukan biaya besar, keluarga tidak akan sanggup. Untuk biaya selama melahirkan sampai menebus resep obat saja, pihak keluarga berurunan mengumpulkan dana Rp 2 juta lebih. Terlebih keluarga muda itu belum memiliki tabungan.

Eka hanya bekerja di sebuah swalayan, dan Tarip hanya buruh sebuah proyek bangunan di Solo . Bagaimana kalau ada donatur? Dia mengaku kalau ada yang mau membantu, pihak keluarga tidak keberatan.

Meski didera kebingungan dan ketidakpastian pemisahan dua bayi mungil itu, pasangan muda tersebut sudah mempersiapkan nama.

''Nama depannya diberi awalan Muhammad,'' lanjut dia.(Achmad Hussain-64a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA