| Sabtu, 21 Oktober 2006 | NASIONAL |
Sebelum Meninggal Mengucap TahlilKEMATIAN tragis Marino (38) warga Muningan RT 01 RW 02, Combongan, Sukoharjo akibat tembakan aparat tidak bisa diterima pihak keluarga. Bahkan koleganya sesama aktivis masjid juga penasaran dengan tragedi yang menimpa petani lugu itu. Pukul 07.00-14.00 saat jenazah Marino terbaring di meja instalasi autopsi RS Dr Moewardi, mereka setia berjam-jam menunggu di luar ruangan. Wajah mereka tampak tegang, duduk tidak tenang dan menerawang. Sesekali mereka bertanya siapa yang datang karena banyak juga polisi yang hadir menunggu hasil autopsi. Di kursi tunggu sisi barat seorang pria berbaju batik tampak kuyu. Matanya sembab, diam menatap pintu ruangan. ''Saya ingat benar, saat mau mengembuskan napas terakhir, adik saya mengucap tahlil satu kali, setelah itu diam,'' ujar Sarman (43). Selain mengucap kalimat itu, adiknya yang tergeletak di pangkuannya tidak banyak berpesan. Dia hanya memegang perutnya yang berdarah. Sebagai kakak, dia sudah menanyakan kepada keluarga lain. Mereka meminta kasus itu diusut tuntas dan diproses hukum. Alasannya, dugaan mencuri diesel atau bermain judi sangat jauh dari pribadi Marino yang setiap harinya sebagai takmir Masjid Al-Falah. Jangankan berjudi, adiknya setiap hari hanya bekerja sebagai buruh tani. Pagi ke sawah dan saat terdengar azan selalu pulang untuk shalat. Selain buruh tani, kesibukan lainnya hanya di masjid dan kadang azan. Dia mengaku, sangat kehilangan adiknya, apalagi meninggal di hadapannya sendiri pukul 02.00. Saat dia hendak berangkat sahur mendengar suara gaduh di depan rumah ayahnya. Saat itu dilihat adiknya ditangkap polisi karena diteriaki berjudi. Melihat hal itu dia keluar dan melerai. Namun, tembakan sekali ke udara mengejutkannya. Yang membuat dia terperanjat, satu kali letusan diikuti tubuh adiknya yang terkapar bersimbah darah. ''Sebenarnya pukul 21.00 saya ajak pulang tetapi dia tidak mau,'' ujar pria bertubuh kekar yang menyahut. Dia adalah adik korban yakni Sariman (31). Dia tak menyangka, korban akan meninggal di hadapannya dan kakak tertuanya secara tragis. Korban sejak pukul 13.00 di sawah untuk menyedot air bersamanya dan Widodo. Sore pulang dan usai shalat kembali lagi. Saat diajak pulang korban tidak mau. Pukul 02.00 dia juga mendengar ribut-ribut. Saat dia keluar rumah, kakaknya Sarman sudah ada di lokasi. Mereka berdua mencoba melerai polisi yang hendak menangkap Marino. Namun, suara tembakan merenggut nyawa kakaknya. Dia juga mendengar lafal tahlil sekali keluar dari mulut kakaknya itu sebelum meninggal. ''Tidak ada pesan apa pun, setelah itu dia diam,'' katanya. (H34,G11,san-46v) |