logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 21 Oktober 2006 NASIONAL
Line

Aktivis Masjid Tewas Tertembak Brimob

SUKOHARJO - Seorang petani yang juga aktivis masjid, Marino (38), warga Muningan RT 01 RW 02, Desa Combongan, Sukoharjo tewas tertembak. Peluru berasal dari anggota Brimob Polda Jateng di bawah kendali operasi (BKO) Polres Sukoharjo. Timah panas bersarang di perut kiri korban diduga menjadi penyebab kematiannya.

Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Dr Oen Solo Baru, namun jiwanya tidak tertolong. Dia dikabarkan meninggal di lokasi kejadian karena pendarahan hebat.

Tertembaknya seorang aktivis masjid tersebut terjadi Jumat (20/10) sekitar pukul 02.00 di rumah orang tuanya, Gito Tariman (63) di Kampung Pasekan, Combongan, Sukoharjo.

Dini hari itu Marino sehabis mengairi areal persawahan milik mertuanya, pulang karena diesel yang digunakan untuk menyedot air kehabisan bahan bakar.

Selain itu, Marino bersama keponakannya, Widodo (36), pulang dari sawah bermaksud untuk makan sahur. Marino dari sawah naik sepeda onthel bronjong yang di dalamnya berisi mesin diesel. Adapun Widodo membawa peralatan selang. Keduanya berjalan beriringan menuju rumah.

Seperti yang dikemukakan istri Marino, Ny Yanti Riyani (36), suaminya yang pulang dari sawah dituduh mencuri diesel. Padahal diesel yang dibawa suaminya bukan hasil pencurian, melainkan miliknya sendiri.

Kepulangan Marino bersama Widodo dari sawah seperti sudah ada yang mengawasi.

Saat itu, pada waktu yang hampir bersamaan petugas melakukan patroli sehubungan adanya kabar di Kampung Pasekan terdapat aktivitas perjudian.

Mencium kehadiran petugas yang melakukan operasi perjudian, para pejudi dikabarkan membubarkan diri.

Keributan

Sementara itu, Marino yang tiba di halaman rumah orang tuanya, dituduh ikut berjudi. Karena tidak ikut berjudi, Marino tentu saja mengelak tuduhan petugas.

Kejadian itu memanas. Petugas sempat mengeluarkan tembakan peringatan dan terjadi saling dorong. Selain ada Widodo, kejadian itu juga diketahui Sarman (43), kakak Marino, yang mendengar suara gaduh di depan rumah.

Keributan itu akhirnya berbuntut. Peluru yang diletuskan Brigadir Polisi Dua (Bripda) Sutrisno untuk kali kedua bersarang di perut kiri Marino. Petani lugu dan aktivis masjid tersebut tersungkur bersimbah darah di hadapan saudaranya.

Meski ada dugaan Marino tewas tertembak karena dituduh berjudi, istrinya berkeyakinan kalau suaminya dituduh mencuri diesel.

''Padahal mesin diesel yang ditaruh di dalam bronjong bukan hasil pencurian. Itu milik suami saya yang sering digunakan untuk mengairi sawah,'' ucap Ny Yanti Riyani yang masih terlihat sedih kehilangan suaminya yang meninggal secara tragis.

Kini pihak keluarga berharap tertembaknya Marino diusut tuntas. Melalui dua pengacara keluarga korban yaitu Edi Santoso SH MH dan Badrus Yaman SH, perkara ini diusut secara perdata dan pidana.

Keluarga korban mendesak, agar petugas menghukum anggota kepolisian yang melakukan penembakan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kini kasus tersebut diadukan ke Propam Polwil.

Keluarga korban menyesalkan dan menyayangkan kecerobohan petugas yang tega menembak mati Marino yang tidak melakukan tindak kejahatan.

''Mestinya tidak harus ditembak mati, namun bisa dilakukan dengan cara hanya untuk melumpuhkan,'' tandas Edi Santoso yang mewakili keluarga korban ataupun dari Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM) dalam keterangan pers.

Terkait adanya dua versi yang berbeda soal tuduhan Marino sebagai pejudi dan pencuri, hal itu diserahkan kepada petugas untuk mengusutnya.

''Dengan peristiwa ini FKAM dan keluarga korban menggugat hingga ke Kapolri agar siapa yang bersalah dalam perkara ini dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya di mata hukum,'' tandas Edi yang juga dibenarkan Badrus Yaman.

Kapolwil Surakarta Kombes Yotje Mende mengatakan, merupakan hak dari setiap warga untuk mencari keadilan. Karena itu, pihaknya mempersilakan keluarga korban menempuh jalur hukum. ''Silakan saja. Bagi kami juga tidak masalah,'' katanya.

Kelalaian

Bripda Sutrisno kini ditahan di Mapolwil Surakarta. Dia adalah anggota Brimob Polda Jateng yang di BKO-kan untuk pengamanan Lebaran.

Atas kejadian itu, siang harinya polisi menggelar jumpa pers mendadak di ruang Pusat Pengendali Komando Operasi (PPKO) Mapolwil Surakarta.

Selain Kapolwil Surakarta, hadir pula dua perwira menengah Polda Jateng, yakni Dir Reskrim Kombes Zulkarnen dan Dan Sat Brimob Kombes Dicky Atotoy.

Bahkan, agar penjelasannya lebih mudah dimengerti, Kapolwil sampai-sampai harus meminta dua anak buahnya, Kasubag Reskrim Kompol Bambang Sugiarto dan Kasubag Intelkam Kompol Budi Sutrisno menjadi petugas peraga.

Keduanya di dalam ruang pertemuan itu memperagakan bagaimana terjadinya pergumulan antara Marino yang diperankan Kompol Budi dan Bripda Sutrisno yang diperankan Bambang.

''Senjata itu meletus dari jarak sangat dekat kurang dari 5 cm. Ini justru menguatkan kami, kalau kejadian itu bukan kesengajaan. Pelaku menembak korban setelah terjadinya pergumulan,'' tegas Yotje Mende.

''Apa pun yang terjadi, jelas ada kelalaian dari anggota kami, tapi bukan kesengajaan. Karena itu, selain menghadapi persidangan disiplin, tersangka juga bakal menghadapi tuntutan pidana. Sesuai KUHP, Bripda Sutrisno akan kami jerat dengan Pasal 359,'' katanya.

Dari penyelidikan sementara, ditemukan jelaga di sekitar luka lubang peluru pada tubuh korban. Dia pun berasumsi bahwa sisa serbuk mesiu yang demikian banyak dan menempel itu, sebagai bukti bahwa jarak tembaknya begitu dekat yang diperkirakan kurang dari 5 cm.

Ada upaya dari anggota polisi itu untuk mempertahankan diri, sebab korban sebelum tewas sempat meneriaki maling dan menyekapnya dari belakang.

''Ada tembakan peringatan, sebelum terjadinya insiden itu. Namun saya belum tahu, apakah ada upaya korban untuk merebut senjata,'' jelasnya.

Kehadiran Bripda Sutrisno di lokasi kejadian ditemani rekannya Briptu Tupono serta Brigadir Mulyono. ''Sebenarnya ada lima orang anggota Brimob yang di BKO-kan di Polres Sukoharjo selama Ramadan ini. Mereka didatangkan untuk mengantisipasi kasus-kasus kejahatan menonjol,'' paparnya.

Pada malam nahas itu, sebenarnya mereka sedang mengejar tersangka pencuri kendaraan bermotor bernama Sugiyono, warga Teras Boyolali, tapi gagal.

Tim kemudian meluncur ke Dukuh Pasekan, Combongan, Sukoharjo karena ada informasi kegiatan perjudian kartu. Dari tujuh pelaku judi, dua ditangkap dan lainnya melarikan diri.

Briptu Tupono dan Bripda Sutrisno berboncengan sepeda motor mengejar lima pelaku yang kabur. Adapun Brigadir Mulyono tetap di lokasi menjaga tersangka pejudi Sri Widodo dan Dani Winarto.

''Ketika itulah, anggota kami bertemu dengan korban di halaman rumah orang tuanya dan terjadilah musibah itu,'' ujarnya.

Sementara itu, hasil autopsi yang dilakukan di Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal RS Dr Moewardi menunjukkan korban ditembak dari jarak dekat. ''Peluru menembus perut dan mengeram,'' ujar dokter H Rorry Hartono SpF yang memimpin autopsi.

Dia mengatakan, proyektil peluru menembus lambung kiri mengakibatkan pendarahan di organ dalam korban. (G11,H34,san-60v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA