| Sabtu, 21 Oktober 2006 | NASIONAL |
Jalur KA di Pantura Disabotase
SLAWI -Jalur kereta api (KA) di pantai utara (pantura), tepatnya kilometer 136 antara Suradadi dan Larangan, Kabupaten Tegal, kemarin diduga disabotase oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Pelaku memasang batu seukuran kepala manusia di atas rel. Sejauh ini belum diketahui motifnya. Meski ada kejadian tersebut, kata Pengawas Operasi (Wasiops) IV B Tegal PT KA Daop IV Semarang, Wawan Ariyanto SE, tidak menggangu perjalanan KA. Dia mengungkapkan, upaya sabotase tersebut sebenarnya dilakukan dua kali. Kejadian kali pertama pada pukul 18:45. Saat itu KA Argo Anggrek tambahan (Lebaran) dari Surabaya menuju Jakarta menabrak batu seukuran kepala manusia. Batu tersebut hancur, dan KA tetap dapat melanjutkan perjalanan. "Kejadian itu langsung dilaporkan ke Stasiun Brebes," kata dia. Kejadian berikutnya pukul 19:05. KA Kaligung (bisnis) Semarang-Tegal menabrak batu besar serupa dan di lokasi yang sama. Kendati demikian, batu tersebut tidak sempat menghambat laju KA yang dipadati pemudik dari Semarang itu. Kejadian tersebut langsung dilaporkan petugas KA Kaligung di Stasiun Larangan. Personel Pos Pengamanan yang menerima laporan itu langsung menuju lokasi kejadian. "Di lokasi kejadian, batu-batu besar itu sudah hancur," kata dia. Berakibat Fatal Wawan mengatakan, tindakan tersebut dapat berakibat fatal terhadap perjalanan KA, sebab bisa terguling. Dia menduga pemasangan batu itu merupakan tindakan kriminal. ''Dengan harapan, jika kereta terguling dimungkinkan terjadi penjarahan," kata dia. Kapolres Tegal, AKBP Drs Asep Suhendar MSi melalui Kapolsek Kramat, AKP I Ketut Wirnita mengatakan, setelah mendapat laporan tersebut jajaranya langsung menyisir di jalur utama KA tersebut. Namun, hingga pukul 20:30 belum ditemukan apa-apa. "Kami masih melakukan penyisiran rel KA dari Larangan hingga Maribaya," katanya. Selain menyisir, pihaknya juga memberikan imbauan kepada masyarakat di sekitar rel KA supaya tidak menaruh batu di atas rel. Sebab, tindakan tersebut dapat membahayakan warga sendiri. Jika tertabrak KA, batunya bisa terlempar dan dikhawatirkan mengenai warga. Penilik Ekstra Kepala Daop IV Semarang, Rono Pradipto mengatakan, setelah ada kejadian yang diduga sabotetase perjalanan KA itu, pihaknya mulai pukul 00:00 langsung menerjunkan 120 petugas Juru Penilik Esktra (JPE). Petugas tambahan itu untuk membantu keberadaan Juru Penilik yang ada sebanyak 60 orang. Mereka bertugas menyisir dari stasiun KA tertentu ke stasiun terdekat. ''Petugas itu memang sudah kami siapkan cukup lama untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan perjalanan KA di wilayah kami,'' kata dia, semalam. Untuk jarak penyisiran, rata-rata mencapai lima kilometer. Menyangkut gangguan perjalanan KA, pihaknya sudah bisa mengidentifikasi, antara lain berupa pencurian material KA, seperti penambat ikatan rel. Jika itu terjadi, maka rel akan goyang dan KA dapat anjlok. Selanjutnya pencurian kabel telepon milik PT KA. Kondisi itu bisa menganggu, sebab sarana komunikasi tersebut untuk melakukan koordinasi dalam mengatur perjalanan kereta. Gangguan lainnya yang sudah diidentifikasi adalah pelemparan batu. ''Kalau sabotase seperti itu (pemasangan batu di tepi rel-red), baru kali ini terjadi. Selama ini belum pernah terjadi,'' tandas dia. (D12,H3-46a) | ||||