| Sabtu, 21 Oktober 2006 | KEDU & DIY |
Walaupun Boros, Tetap Pulang KampungYOGYAKARTA - Mudik menjelang Lebaran sudah menjadi tradisi bagi sebagian masyarakat. Kendati dari tahun ke tahun sepertinya semakin berkurang, namun masih ada saja yang berniat untuk pulang kampung. Pasalnya, masyarakat perantauan biasanya masih mempunyai sanak saudara di daerah. Karena itu, meskipun boros di ongkos, mudik tetap harus dilakukan. ''Pripun malih, sedulur-sedulur ting dusun taksih kathah, nek mboten wangsul mangkih dirasani,'' tutur Amir, perantauan dari Gunungkidul yang sudah bertahun-tahun di Jakarta, ketika baru saja turun di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Dia rela mengeluarkan biaya cukup tinggi untuk ongkos angkutan dan pengeluaran selama di kampung. Tabungan selama satu tahun harus dibongkar untuk mencukupi kebutuhan mudik bersama istri dan kedua anaknya. Dia sendiri tidak bisa menghitung karena pengeluaran bisa tidak terduga, untuk ongkos transportasi saja sekali jalan bisa Rp 1.000.000, belum kelak untuk kembali ke Jakarta plus pengeluaran di kampung. Tidak hanya Amir, pemudik lain pun juga mengungkapkan hal sama. Mereka tak peduli dengan biaya, yang penting bisa pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga, kerabat, tetangga dan teman lama. Namun, arus mudik kali ini tidaklah seramai tahun-tahun sebelumnya. Situasi di bandara, terminal dan stasiun belum menunjukkan lonjakan penumpang. Tidak terlihat berjubel, meskipun tampak cukup banyak penumpang turun maupun berangkat. Di Stasiun Lempuyangan, arus mudik memang cukup banyak, tapi masih seperti pada hari-hari libur biasa. Lonjakan penumpang tidak begitu mencolok. Padahal diperkirakan kemarin merupakan puncak arus mudik. Dugaannya, lebih banyak pemudik menggunakan kendaraan sendiri untuk pulang kampung. Luar Kota Sementara itu, keramaian mulai terlihat di pusat-pusat perbelanjaan, jalan utama dan pasar. Di Malioboro, mulai tampak kendaraan plat luar kota, sebagian besar Jakarta, Bandung, Surabaya. Sisanya kota-kota lain di Jawa Tengah, seperti Semarang. Menanggapi soal pemudik, sosiolog UGM, Tadjudin Nur Effendi mengungkapkan tradisi mudik memperlihatkan masyarakat masih kuat memegang tradisi budaya yang diyakini sejak kecil. Mereka hidup lama, mencari uang di kota besar dan tetap kembali ke kampung halaman ketika Lebaran tiba. Kondisi serupa ternyata tak hanya di Indonesia. Bahkan di negara maju seperti Australia ada pula tradisi mudik menjelang Paskah. Perantauan yang tinggal di kota besar pulang ke kampung halaman untuk merayakan hari besar tersebut. Pakar sosiologi UGM, Sunyoto Usman menilai masyarakat kampung belum bisa berasimilasi dengan kehidupan di kota. Mereka tak bisa sepenuhnya menjadi orang kota dengan berbagai kompleksitas dan akhirnya tetap menjadi bagian dari budaya asli di tempat dia dilahirkan dan dibesarkan. (D19-24) |