| Sabtu, 21 Oktober 2006 | EKONOMI |
Merespons Penurunan BI RatePENURUNAN- BI rate telah ditempuh sejak Mei 2006, meskipun demikian banyak pengusaha yang menilai bahwa suku bunga kredit yang ditawarkan sektor perbankan masih sangat tinggi terutama jika dikaitkan dengan masih lemahnya daya beli masyarakat akibat tingkat inflasi tahun 2005 sebesar 15% yang membuat mereka tidak dapat secara otomatis menyesuaikan, harga barangnya sesuai biaya yang harus dikeluarkan atas dana yang dibeli di sektor perbankan (cost of fund). Menjadi pertanyaan yang menarik, apakah penurunan BI rate benar-benar telah direspon sektor perbankan secara positif dan mungkinkah bagi BI untuk menurunkan rate yang lebih besar tidak sekadar 50 basis poin? Beberapa model matematika dikembangkan BI untuk memantau dan memprediksi kinerja ekonomi makro nasional termasuk kapan waktu yang tepat untuk menentukan penurunan tingkat suku bunga. Dalam ilmu ekonomi dikenal istilah time lag atau jeda antara kebijakan tersebut diputuskan dengan efektivitas operasional dari kebijakan terhadap sistem ekonomi yang berjalan. Pada periode jeda, biasanya pelaku bisnis melihat respon dari sistem atas kebijakan yang ditetapkan. Hanya dalam satu bulan DG BI menurunkan BI rate 2 kali atau sebesar 100 basis poin, sepertinya DG BI tidak mempertimbangkan jeda tersebut. Waktu yang begitu singkat, satu bulan, dari penurunan ke penurunan BI rate berikutnya dapat terjadi karena belum ada respon sektor perbankan yang signifikan sehingga struktur suku bunga kredit masih tetap tinggi atau arus masuk modal yang masuk masih lebih tinggi dibandingkan arus modal keluar sehingga cadangan devisa terus meningkat dan nilai tukar rupiah tetap stabil. Dalam konteks ini, alasan pertama mungkin lebih mendasari pertimbangkan DG BI saat memutuskan penurunan kembali BI rate 50 basis poin pada 5/10/2006 lalu. Momentum percepatan aktivitas perekonomian masih ditempatkan pada skala prioritas kedua, BI sebenarnya dapat saja menurunkan BI rate sebesar 100 basis poin pada awal September jika momentum waktu ditempatkan sebagai prioritas yang utama. Dengan demikian tidak perlu harus menunggu satu bulan untuk menurunkan 100 basis poin. BI tampaknya masih sangat mempertimbangkan kondisi dan respon ekonomi eksternal dibandingkan domestik, sekaligus memberikan pertanda bahwa kepercayaan terhadap produktivitas ekonomi domestik belum menjadi variabel yang utama dalam mempengaruhi keputusan penurunan BI rate tersebut. Hal ini bisa dimengerti, karena ekonomi nasional sangat terintegrasi dengan ekonomi dunia, maka penurunannya pun harus secara hati-hati, sedikit demi sedikit sehingga tidak direspon negatif para petualang modal. Yang dikhawatirkan jika alasan ini benar, adalah kemungkinan terjadinya mismatch yaitu saat kebutuhan riil mendesak untuk menurunkan suku bunga, tiba-tiba suku bunga internasional melonjak di atas prediksi. Akibatnya bisa diduga, kebijakan BI bisa berbeda dengan kebutuhan domestik, BI tiba-tiba bisa saja menaikkan suku bunganya untuk menghindari pelarian modal meskipun variabel indikator ekonomi domestik sangat membuka peluang bagi BI untuk menurunkan suku bunganya. Penyesuaian Lambat Efektivitas penurunan BI rate dalam menstimulasi perekonomian sangat ditentukan oleh respon sektor perbankan. Kebijakan ini akan sia-sia jika sektor perbankan tidak memberikan respon yang positif. Apa artinya BI rate menurun jika suku bunga kredit yang ditawarkan sektor perbankan tidak beranjak dari angka sebelum BI rate diturunkan. Berdasarkan data yang tercatat di BI, pertumbuhan kredit tahun 2006 meningkat 22,63. Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kredit tahun 2005 yang mencapai 26,87%. Sedangkan sampai dengan Juli 2006, pertumbuhan kredit baru mencapai 5,76%. Hal ini bisa terjadi karena produktivitas dunia usaha masih lesu akibat daya beli masyarakat yang lemah atau tingkat suku bunga kredit yang relatif masih tinggi. Menjawab pertanyaan yang saya ajukan, salah satu Dirut Bank Perkreditan Rakyat (BPR) milik pemerintah daerah menyampaikan alasannya mengapa cenderung bertahan pada suku bunga kedit yang tinggi dan tidak segera merespon penurunan BI rate dengan melakukan penyesuaian suku bunga kredit banknya Struktur dana pihak ketiga didominasi simpanan jangka panjang (deposito) yang dibeli dengan cukup mahal menjadi alasan utama yang membuatnya bertahan pada suku bunga kredit sebelumnya. Disamping itu, ada target laba dari pemilik yang masih harus diupayakan sehingga penurunan suku bunga kredit dikhawatirkan akan mengurangi pendapatan. Sementara tingkat risiko usaha para debitur masih sangat besar akibat tingginya persaingan usaha dan rendahnya daya beli masyarakat. Dari sisi profesi, ia pun harus lebih hati-hati agar risiko operasional tidak melenceng mengarah ke penyimpangan. Kondisi riil yang terjadi di sub sektor BPR, substansinya mungkin tidak berbeda banyak dengan bank-bank umum yang hingga saat ini loan to deposite ratio-nya masih berada pada tingkat 60%, artinya masih banyak dana pihak ketiga yang belum disalurkan. Mereka cenderung menyimpan dalam bentuk sertifikat BI meskipun akhirnya net interest marginnya sangat rendah. Bank Indonesia tampaknya tidak bisa menyerahkan penyesuaian suku bunga kredit sepenuhnya kepada pasar perbankan. Harus ada "paksaan" dari BI agar para bankir memberikan respon yang cepat atas kebijakan BI dalam menurunkan BI rate. Instrumen suku bunga merupakan instrumen yang paling riil mempengaruhi perubahan likuiditas atau jumlah uang beredar. Meskipun hingga saat ini masih menjadi perdebatan yang tidak pernah berakhir, jumlah uang beredar diyakini merupakan minyak pelumas dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Bank sebagai lembaga intermediasi berfungsi menyalurkan dana berlebih dari masyarakat untuk menggerakkan perekonomian. Apabila dana masyarakat banyak disimpan ke dalam sertifikat BI ini menjadi petunjuk bahwa Direksi bank tidak mampu menjadi bankir yang profesional. Ini merupakan kebijakan yang kurang pas meskipun dari sisi kemanan dibenarkan terutama di saat ekonomi kita sedang bersusah payah bersaing dalam kompetisi pasar global. (11) Penulis adalah mahasiswa S3 FE Undip, dosen Pascasarjana STIE BPD Jateng |