| Jumat, 20 Oktober 2006 | WACANA |
Surat PembacaRumah Kosong Tak Dapat Bantuan ?Ibu saya, Ny Tjokrodihardjo punya rumah di Desa Nangsri, Kelurahan Srihardono Kecamatan Pundong, Bantul Yogyakarta yang ditempati sampai hari tuanya. Saya anak satu-satunya tinggal di Kota Depok, Jawa Barat. Beberapa tahun terakhir ibu saya sakit-sakitan dan tetirah ke Depok hingga akhirnya meninggal. Rumahnya di Nangsri dijaga dan dirawat Bapak Suwardjo, putra Bude yang rumahnya memang gandeng dengan rumah ibu yang sama-sama rumah warisan. Saat gempa 27 Mei lalu, rumah ibu roboh total. Saya ahli waris tunggal almarhumah yang sudah tidak bekerja lagi tetap mengharapkan kucuran dana seperti yang dijanjikan pemerintah. Tetapi nampaknya harapan itu jauh panggang dari api. Sungguh menyedihkan, bahkan menyakitkan ketika ketua RT Marjuki dan kepala dukuh Jawadi menyatakan bahwa rumah warga yang kosong (suwung) tidak akan memperoleh dana dari pemerintah serta tidak dimasukkan dalam Daftar Usulan Penerima Bantuan Dana Rekonstruksi. Saat ditanya apa dasar hukumnya, Jawadi mengatakan sesuai perintah lisan Pak Lurah. Pak Lurah Sugiharto membenarkan bahwa rumah-rumah korban gempa yang kosong memang tidak didata. Ditanya dasar hukumnya, dia mengatakan memang tidak ada. Tapi merupakan kebijakan Bupati Bantul yang disampaikan secara lisan pada rapat koordinasi dengan para lurah. Saya meragukan, apa benar Pak Bupati Drs HM Idham Samawi menentukan kebijakan yang kurang bijak tersebut. Apalagi selama ini beliau dikenal sebagai orang, yang mencintai warganya. Contoh, saat harga cabe merosot dan petani gelisah, beliau ambil kebijakan membelinya dengan harga yang menguntungkan petani. Juga saat para guru ingin melanjutkan studi agar bisa "mengimbangi" tuntutan zaman, beliau berikan bantuan dan kesempatan untuk kuliah lagi. Begitu juga saat tukang becak bermimpi ingin punya becak sendiri, Pak Idham turun tangan menyediakan becak untuk diangsur. Tetapi mengapa kini berubah saat menangani warganya yang terkena gempa. Bukankah rumah-rumah yang kebetulan sedang "kosong" adalah milik warga Bantul yang hak dan kewajibannya sama seperti lainnya. Saya prihatin. Seharusnya selaku bupati berpikir cermat dan bertindak realistis sebagai seorang negarawan, bukan politisi. Amir Hidayat Jl Sadewa III/134 Rt 1/Rw 18, Depok *** Parsel Ana randa manggon ngarep omahku; Yeh ruh aku deweke ngguya ngguyu; ... Saben dino aku diparingi roti. Itulah sepenggal tembang Jawa yang dulu sangat populer, menggambarkan budaya memberi sejak zaman bahuela sudah ada. Kita ingat waktu kecil ajaran orang tua untuk memberikan kue kepada sesama teman. Nah, budaya memberi yang dikenal sebagai parsel kini membuahkan kontroversi. KPK membuat fatwa dilarang memberi parsel kepada pejabat dan penyelenggara negara. Akibatnya pengusaha parsel merasa dirugikan karena dengan aturan itu penjualan dagangannya turun drastis. Ironisnya, pejabat swasta juga takut aturan itu. Seakan KPK bagai monster yang siap mencaplok siapa saja yang melanggar aturan. Budaya parsel sejak dulu sudah ada. Isinya belum beragam misal roti, kemasan kaleng permen, sirup, minuman ringan, coklat dan sebagainya. Sekarang bermacam ragam muatannya. Ada keramik, barang elektronik dan barang yang siap merompalkan gigi jika dimakan. Pelarangan memberi parsel dimaksud mengandung unsur suap. Tapi pengusaha berdalih, sejauh mana pengaruh parsel terhadap korupsi. Bukankah korupsi bisa dilakukan dengan pemberian nomor rekening dan lainnya. Ke depan bisa sedikit dimodifikasi aturannya. Pejabat dan penyelenggara negara halal menerima parsel dan halal pula menyedekahkan kepada bawahannya. Agus Eko Santoso Pondok R Patah Blok K1/21, Demak *** Untuk Sdr Dewanto Saya menanggapi pernyataan Sdr Dewanto Samodro, 17 Oktober 2006 di Surat Pembaca mengenai ''Bingung Bersikap''. Pertama, salut atas keberanian Sdr mengungkapkan pikiran dan pendapat dan berharap teman lain juga berpikiran kritis. Kedua, maaf jika saya bukan pihak yang diharapkan memberi tanggapan. Mengenai golput, ada banyak alasan mengapa orang menjadi golput. Namun apa pun alasannya, menurut saya, hal itu bukan peran serta yang tepat dalam menjalanan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Sdr perlu menghargai diri sendiri, pemikiran, pilihan, keputusan Sdr. Keberanian memilih dalam pemilu, berarti berani mengambil risiko dan mempertanggungjawabkan konsekuensinya. Para pemimpin yang kita pilih tidak hanya butuh suara kita, tetapi juga dukungan kontinyu dalam berbagai bentuk. Sebagai pemilih, kita juga harus aktif dan produktif, tidak hanya pasif dan konsumtif. Kita tidak bisa hanya duduk setelah memberikan suara dan menunggu keajaiban datang dalam bentuk perdamaian dan kesejahteraan. Semua harus diusahakan bersama dan terpadu antara yang terpilih dan pemilih. Ada kalimat bijak: ''Jangan tanyakan apa yang negara berikan untukmu, tetapi tanyakan apa yang kau berikan untuk negara''. Kita harus belajar menyukuri segala perbaikan meski belum sempurna, menghargai usaha yang telah dilakukan walau belum maksimal. Tugas kita menyempurnakan dan memaksimalkan semua proses tersebut. Yang perlu selalu diingat, jangan sampai idealisme tidak mampu membingkai realitas. Jangan sampai kita menjadi generasi yang tidak bijaksana. Semoga Sdr Dewanto menjadi contoh bagi kaum muda atau mahasiswa untuk ikut peduli pada kondisi negara. Darnadini Kresnowati Mahasiswi Jur Komunikasi Undip *** Penggemar Sepeda Onthel, Bersatulah Sepeda onthel/sepeda kuno merupakan sarana transportasi yang unik, langka, antik, ramah lingkungan dan menyehatkan. Ketika orang belum mengenal motor, perjalanan jauh ditempuh dengan sepeda onthel. Tapi kini pasti sepeda onthel diidentikan dengan kemiskinan dan keterbelakangan serta makin tergeser kendaraan bermotor. Sekarang ketika udara mulai gerah karena terlalu banyak asap kendaraan bermotor, kebisingan yang disebabkan deru kendaraan yang memekakkan telinga, banyak masyarakat perkotaan terkena penyakit ISPA. Dengan bersepeda sebenarnya menghemat biaya dan BBM, mengurangi polusi udara/suara serta membuat badan sehat. Sepeda kuno sekarang hanya dipakai sebagian petani dan pekerja biasa. Kalau ada yang berkualitas seperti Gazalle, Humber, Simplex pastilah hanya ada pada kolektor. Karena punya nilai historis tinggi, kiranya perlu ada upaya pelestarian. Old Bikers VOC Magelang, komunitas penggemar sepeda kuno mengajak rekan dari klub di Jateng/DIY untuk membentuk jaringan/link. Tujuannya melestarikan kendaraan ini, mengkampanyekan gerakan kembali bersepeda dan menjalin tali persaudaraan. Silakan tulis nama klub/perkumpulan, kepengurusan, alamat sekretariat, kontak person dan lainnya. Sebagai informasi, tanggal 12 November 2006 akan diadakan Jambore Sepeda Kuno Tingkat Nasional di Surabaya. Peminat bisa hubungi Sdr Dedy telepon (031) 70084411. Bagus Priyana Dukuh I/240 Rt 4/Rw 3, Magelang *** Soal Anakku Berbeda Membaca berita belum lama ini tentang seminar "Anakku Berbeda" cukup menggelitik pemikiran saya. Kebetulan saya ibu dari enam anak yang semuanya sarjana. Mereka tidak semua pintar, ada yang sedang, bahkan pas-pasan. Saya tidak ingin anak bersekolah favorit tapi kalau mampu silakan saja. Prinsip saya dalam mendidik anak yaitu memberi contoh baik, mengajari disiplin dan menghargai uang, mendekatkan diri dengan agama. Walau nantinya menjadi bos tetap bersahaja dan tidak sombong. Mereka kini tumbuh menjadi pekerja keras karena tidak pernah saya manjakan dengan uang, Doa orang tua sangat penting dan faktor ini yang kadang dilupakan. Pesanku pada orang tua, beri contoh yang baik pada anak-anak> Contoh adalah pelajaran yang paling baik, ajari menghargai uang dan beri kasih sayang tanpa memanjakan. Untuk generasi muda agar kerja keras jangan mudah putus asa, dekatlah pada yang di atas dan hormat pada orang tua. Untuk orang tua dan generasi muda jangan sekali-sekali sombong sebab bisa menghancurkan diri sendiri. Kunsri Hastuti SH Jl Pahlawan 28, Magelang |