| Jumat, 20 Oktober 2006 | WACANA |
TAJUK RENCANAZakat pun Butuh Keteladanan- Untuk mengeluarkan zakat pun dibutuhkan keteladanan. Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan para menterinya yang beragama Islam utuk memenuhi kewajiban membayar zakat 2,5 persen, hal itu harus dimaknai bukan sebagai sikap riya' (pamer) bahwa dia telah mengeluarkan zakat, melainkan untuk memberikan tuntunan yang sudah sepatutnya. Kewajiban agama yang sudah gamblang memang sering mudah diabaikan. Bisa karena sikap easy going sehingga kurang mau menyerap ajaran sebagai sebuah pemahaman yang menyebabkan benar-benar tidak tahu, atau sudah tahu tetapi bersikap masa bodoh karena tiadanya internalisasi sikap. - Dalam tuntunan agama, zakat mendapat porsi sangat penting sebagai sikap keberpihakan kepada orang-orang tidak mampu. Perintah-perintah tekstual dalam Alquran secara jelas memosisikan kewajiban zakat bergandeng dengan perintah ritual, misalnya "tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat", sehingga boleh dikatakan penyisihan sebagian dari pendapatan atau harta milik itu diharapkan merupakan pancaran persepsi pelaksanaan semua ibadah ritual. Secara sosial, makna strategis zakat sudah sering digambarkan sebagai muara dari semua aktivitas keagamaan dan pengejawantahannya. Lalu bagaimana dengan efektivitas manajemennya? - Sepintas kita boleh saja berpikir naif, kalau memang berniat mengeluarkan zakat, untuk apa berpikir tentang efektivitasnya. Artinya, apakah kewajiban yang sudah dikeluarkan itu kelak akan membawa manfaat bagi penerimanya? Namun kita juga boleh berpikir strategis, kalau ingin mengentaskan orang atau sekelompok orang dari lilitan kemiskinan, cukupkah dengan memenuhi kewajiban zakat lalu kita anggap semuanya sudah selesai? Tidak adakah cara-cara sistematis untuk merancang pengentasan kefakiran masyarakat melalui pola zakat yang lebih efektif? Kalau Presiden SBY tergerak untuk mengingatkan para menterinya, cukup sampai di situkah? - Memang konsep dasar zakat fitrah adalah mengajak fakir miskin bergembira ketika semua orang bergembira merayakan Idul Fitri, dengan memberikan peluang kepada mereka untuk memiliki sesuatu yang pada hari-hari biasa mungkin tidak mudah mereka dapatkan. Namun seiring dengan dinamika dan tantangan hidup sekarang, pola tersebut dirasakan perlu lebih diperkuat lagi dengan pilar perhatian yang lebih bernuansa masa depan. Mobilisasi zakat mal merupakan salah satu solusi lewat pengelolaan oleh lembaga-lembaga, baik swasta maupun pemerintah. Prinsip "memberi kail, bukan ikan" walaupun masih jauh, tetap merupakan bentuk yang perlu terus dieksplorasi. - Apa yang dilakukan oleh peraih Nobel Perdamaian dari Bangladesh, Muhammad Yunus dengan Bank Grameen-nya merupakan bentuk keberpihakan nyata kepada rakyat miskin untuk dientaskan melalui pola "memberi kail". Dia dan banknya dinilai berjasa mengentaskan jutaan rakyat miskin melalui kredit lunak tanpa agunan, dengan nasabah yang sebagian besar kaum miskin perempuan. Model Yunus dan Grameen itu kemudian ditiru oleh lebih dari 100 negara. Keterkaitan antara pengentasan kemiskinan dan cita-cita perdamaian menunjukkan, kepercayaan diri untuk menempuh hidup membutuhkan modal, ketenteraman, dan masa depan yang memiliki kejelasan. - Pada bulan Ramadan setiap menjelang Idul Fitri, kita sering menyaksikan pemandangan pembagian santunan berupa bahan-bahan pokok yang membuat hati terenyuh. Mereka, dari anak-anak hingga orang tua, berdesak-desakan, rebutan, dan saling sikut secara sengit. Kalau bukan karena memang sangat membutuhkan, apakah mungkin mereka sampai ngotot-ngototan seperti yang terjadi dalam berbagai momen pembagian sumbangan langsung tunai (SLT) beberapa waktu lalu? Kesimpulannya, betapa banyak rakyat yang masih membutuhkan uluran tangan, dan zakat merupakan solusi yang harus makin diefektifkan. Presiden sudah benar ketika menyentil para menterinya. |