logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 20 Oktober 2006 NASIONAL
Line

NU Tunggu Hasil Rukyat 22 Oktober

SEMARANG-Warga Nahdlatul Ulama (NU) menunggu hasil rukyat (melihat bulan-Red) untuk menentukan 1 Syawal 1427 H. Sebelum ada kepastian hilal bisa dirukyat, diharapkan tidak ada kiai atau ulama NU yang mengumumkan datangnya Idul Fitri.

Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Lajnah Falakiyah NU Jateng Ahmad Izzuddin MAg, Kamis (19/10). Dikatakannya, NU akan melakukan rukyat bersama di puncak Menara Al-Husna Masjid Agung Jawa Tengah (MAJ), Minggu (22/10) sore. Bersama Lajnah Falakiyah NU, rukyat itu juga diikuti oleh Depag, Biro Kesra Setda Jateng, Pengadilan Tinggi Agama Jateng, dan IAIN Walisongo.

''Dalam penentuan 1 Syawal kali ini, NU memang bersikap sangat hati-hati, mengingat tipisnya kemungkinan hilal bisa dilihat,'' ujar Izzuddin, yang pengasuh Pesantren Daarun Najaah Jrakah, Tugu tersebut.

Dikatakannya, di seluruh Indonesia tinggi hilal dari ufuk mar'i untuk awal Syawal 1427 H berkisar antara minus 0 derajat 30 menit sampai dengan plus 0 derajat 36 menit. Di Pantai Ujungnegoro, Batang, ketinggian hilal mar'i 0 derajat 21 menit, sedangkan untuk menara Masjid Agung Jawa Tengah (MAJ) akan digunakan sebagai tempat rukyat, tinggi hilal 0 derajat 19 menit.

PWNU telah menginstruksikan agar Pengurus Cabang NU (PCNU) di 35 kabupaten/kota se-Jateng melakukan rukyat di tempat terdekat, dan mengoordinasikan hasilnya dengan Lajnah Falakiyah NU Jateng. Selain di MAJ, rukyat juga dilakukan di Pantai Kartini dan Pantai Telukawur (Jepara), Sluke (Rembang), Ujungnegoro (Batang), Pantai Alam Indah (Tegal), dan Pantai Ayah (Kebumen).

''Kalau dalam rukyat itu ada yang menyatakan melihat bulan, dia akan disumpah oleh para hakim dan ulama,'' kata Izzuddin,

Terkait adanya perbedaan pendapat dalam penetapan 1 Syawal, Izzuddin mengatakan, warga nahdliyyin diminta mengedepankan tasamuh (toleransi-Red). ''Tak boleh kita merasa lebih benar, apalagi merasa paling benar, dibandingkan yang melaksanakan shalat Id pada hari Senin.''

Versi Muhammadiyah

Sementara itu Wakil Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jateng Drs H Rozihan SH MAg menyitir hadis Rasulullah, baina amraini illahtara aisarahuma ma lam yakun isman. ''Jika ada dua perkara yang pelik, sepanjang tidak berdosa, pilihlah yang lebih ringan di antaranya,'' kata Rozihan, Selasa (17/10).

Pernyataan tersebut dikutip dari kitab Tafsir Albaghawi jilid I, ketika menafsirkan Surah Albaqarah 184, berkaitan dengan penetapan awal Ramadan dan kemungkinan khilafiyah dalam soal itu.

Menurut dia, Muhammadiyah yang menetapkan 1 Syawal, Senin (23/10), pemerintah yang berdasar hisab imkanurrukyah dan menggenapkan puasa 30 hari, serta Nahdlatul Ulama (NU) yang memilih menunggu hasil rukyat, memiliki dasar yang berbeda.

''Berdasarkan hitungan, pada 23 Oktober hilal sudah wujud di atas ufuk. Keyakinan Muhammadiyah, kalau sudah di atas horison berapa pun derajatnya, tetap sudah masuk bulan Syawal,'' ujar dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Unissula tersebut.(H9-64)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA