logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 20 Oktober 2006 NASIONAL
Line

Korut Genjot Produksi Plutonium


SEOUL - Korea Utara memiliki posisi tawar yang kuat dalam krisis nuklir dengan cara menggenjot produksi plutonium. Para pakar memperingatkan, Korea Utara bisa saja menutup reaktor nuklir dan memanfaatkan batangan-batangan bahan bakar yang sudah terpakai serta menggunakan reaktor itu untuk memproduksi bahan baku senjata nuklir, yakni plutonium.

''Dengan cara itu, Korut ingin menunjukkan bahwa mereka benar-benar mengembangkan senjata nuklir,'' kata Baek Seung-joo, ketua Kajian Militer Korea Utara pada Lembaga Analisis Pertahanan Korea di Seoul.

Program nuklir Korut dipusatkan di reaktor Yongbyon, sekitar 100 km sebelah utara Pyongyang. Reaktor itu memiliki fasilitas untuk mendaur ulang bahan bakar reaktor yang sudah terpakai menjadi plutonium. Agen intelijen Amerika Serikat sebagaimana dikutip New York Times mengatakan, plutonium yang dipakai untuk bahan tes senjata nuklir 9 Oktober lalu adalah produksi reaktor Yongbyon. Korut pada Mei 2005 memang pernah menyatakan akan menutup sementara reaktor Yongbyon untuk mengekstraksi batangan bahan bakar.

Menurut pakar nuklir, ekstraksi itu bisa menghasilkan bahan baku untuk membuat dua atau tiga bom atom. Reaktor itu tampaknya pernah beroperasi sekitar setahun, dan bisa saja sudah mampu memproduksi cukup bahan baku untuk membuat bom nuklir lagi.

Reaktor Yongbyon mengolah batangan bahan bakar dan mengubahnya menjadi material fisil. Dari bahan inilah, bisa diekstrasi plutonium untuk membuat bom atom.

Diperkirakan, Korut telah menghasilkan cukup bahan baku dari Yongbyon untuk membuat enam sampai delapan bom nuklir. Sebagian pakar berpendapat, Korut mampu memproduksi belasan bom nuklir.

''Untuk memproduksi plutonium, bahan-bahan itu harus diolah dengan cepat, kemudian diekstrasi menjadi plutonium 239,'' kata Daniel Pinkston, Direktur Program Nonproliferasi Asia pada Center for Nonproliferation Studies, California.

Jual Senjata Nuklir

Pakar Amerika Selig Harrison, yang mengunjungi Pyongyang bulan lalu, mengatakan seorang diplomat Korea Utara memberitahu dia kalau negeri itu berniat segera mengolah batangan bahan bakar lagi.

''Dia menjelaskan, tujuan pengolahan bahan bakar itu untuk memperoleh lebih banyak plutonium bagi senjata nuklir,'' kata Harrison September lalu di Beijing.

Harrison mengatakan Korea Utara merencanakan pengolahan bahan bakar itu dimulai pada musim gugur (akhir September), tidak sampai akhir tahun ini.

Laporan Badan Riset Kongres juga menegaskan kemampuan Korut. ''Korea Utara memiliki penambangan uranium berskala industri, reaktor untuk pengolahan uranium. Korut juga memiliki reaktor produksi bahan bakar, reaktor nuklir dan reaktor daur ulang bahan bakar nuklir. Artinya, segala sesuatu yang dibutuhkan untuk memproduksi plutonium 239,'' demikian laporan tersebut.

Di Washington, Presiden AS George W Bush memperingatkan, Korut akan ''dimintai pertanggungjawaban'' apabila ketahuan menjual senjata nuklirnya ke pihak-pihak lain. Amerika Serikat tampaknya sangat mencemaskan kemungkinan negeri komunis itu menjual senjata nuklir.

Bush menegaskan, Amerika akan menggunakan segala cara untuk menghentikan transfer senjata atom dari Korut. ''Korea Utara akan menghadapi konsekuensi berat kalau melakukan perbuatan itu,'' kata dia.

''Jika data intelijen kami menemukan kalau mereka hendak mentransfer senjata nuklir, kami akan menghentikannya. Kami akan mencegat kapal-kapal yang membawa senjata itu, atau pesawat yang mengirim bahan nuklir itu kepada pihak lain,'' kata Bush kepada televisi ABC.

Pesan untuk Kim

Pemerintah Bush tidak mengungkit kemungkinan menggunakan kekuatan militer terhadap Pyongyang dan bersikukuh Amerika Serikat akan menempuh segala upaya diplomatik untuk mengakhiri krisis nuklir itu.

Dari Seoul dilaporkan, utusan khusus Presiden China Hun Jintao mengadakan perundingan ''signifikan'' dengan pemimpin Korut Kim Jong-il.

Tang Jiaxuan, delegasi pejabat pemerintah China, membawa pesan, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Liu Jianchao kepada wartawan di Beijing.

Dia menggambarkan kunjungan ke Pyongyang itu ''signifikan'' dalam berusaha menyelesaikan krisis tersebut.

Pertemuan itu diduga sebagai yang perundingan pertama Kim dengan pejabat negara lain yang diumumkan sejak uji coba bom nuklir itu.

''Ini merupakan kunjungan sangat penting dengan latar belakang perubahan besar dalam situasi di semenanjung Korea,'' kata Liu.

Kantor berita Korut KCNA membenarkan kedatangan delegasi itu namun tidak menyebut pertemuan apa pun

Sementara itu Menlu AS Condoleezza Rice dan Menlu Korsel Ban Ki Moon, kemarin, memperingatkan Korut bahwa negara itu akan menghadapi ''konsekuensi lebih berat jika melakukan uji coba nuklir kedua''.

''Jika Korut melakukan uji coba nuklir kedua, kami sependapat bahwa hal itu akan memperburuk situasi sekarang dan itu tidak akan pernah terjadi.''

''Kami sependapat bahwa apabila hal itu terjadi, maka konsekuensinya akan lebih berat,'' kata Ban dalam konferensi pers.

Rice mengatakan kunjungannya itu bertujuan menegaskan kembali komitmen AS untuk membela Korea Selatan.(rtr-gn-niek-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA