| Jumat, 20 Oktober 2006 | NASIONAL |
Waspadai 73 Titik Longsor
SEMARANG - Para pemudik diimbau untuk mewaspadai lokasi-lokasi rawan longsor. Dinas Pertambangan dan Energi Jawa Tengah mengidentifikasi ada 73 titik rawan longsor di jalur utama dan 87 titik di jalur alternatif. Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Jateng Ir Eddy Haryono Dipl Eng, Kamis (19/10) menjelaskan, jalur utama yang rawan longsor adalah Prupuk - Bumiayu - Ajibarang - Purwokerto, Banjarnegara - Wonosobo - Parakan - Temanggung, Buntu - Banyumas - Purwokerto, Wanareja - Majenang, Majenang - Karangpucung - Lumbir - Wangon, Magelang - Ungaran - Semarang, Magelang - Purworejo, Surakarta - Karanganyar - Tawangmangu Cemorosewu, Purwodadi - Surakarta, dan Surakarta - Wonogiri - Ngadirojo - Sidoharjo - Purwantoro. Selain jalan utama, potensi longsor juga ada di jalur-jalur alternatif. Beberapa di antaranya adalah jalur Pejagan - Ketanggungan - Prupuk, Pemalang - Purbalingga, Pekalongan - Karangkobar- Banjarnegara, Weleri - Sukoharjo - Parakan, Kendal/Kaliwungu - Boja - Ungaran, Gombong - Sempor - Banjarnegara, Wonosobo - Kepil - Purworejo, Banjarnegara - Wadaslintang, Wadaslintang - Kebumen, Wanaraje - Cilacap, Gringsing - Plelen (Alas Roban), Pati - Grobogan, Sragen - Karangpandan, Gemolong - Karanggondang - Tingkir - Salatiga, dan Boyolali - Selo - Grabag. ''Data sudah kami sampaikan ke Dinas Binamarga. Kami berharap, instansi itu bisa menyiagakan alat berat di sekitar lokasi rawan longsor,'' tutur dia. Pancaroba Dia juga menjelaskan, berdasar ramalan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Jateng, saat ini Jawa Tengah sudah memasuki musim pancaroba. Hujan memang belum banyak, namun potensi longsor tetap ada dan harus diwaspadai. Longsor justru terjadi pada awal dan puncak musim hujan. Pada saat kemarau, tanah bagian tengah dan atas lereng banyak yang rekah. Pada masa-masa awal musim hujan, air langsung masuk ke rekahan-rekahan itu dan mengalir di sepanjang bidang gelincir. Hal itulah yang menyebabkan tanah longsor. Dia mengingatkan, mata air keruh di lereng merupakan salah satu tanda bakal longsor. Gerakan tanah itu juga bisa terjadi pada puncak musim hujan. "Sebab saat itu tanah sudah jenuh air,'' ungkap dia. Jalur Selatan Sementara itu, Sekda Jateng H Mardjijono mengatakan, di jalur selatan Jawa Tengah, perlu dibangun jalan layang atau fly over untuk menghindari perlintasan kereta api sebidang. Fly over itu dibutuhkan di Jalan Raya Sumpiuh Banyumas dan Jalan Raya Karanganyar Kebumen. Arus lalu lintas yang melewati jalur nasional itu cukup padat, apalagi selama masa angkutan Lebaran. Pemkab Banyumas misalnya, sebaiknya mulai mengusulkan pembangunan fly over itu kepada Pemerintah Pusat. Dengan demikian, pembangunannya dibiayai APBN. Tentunya, APBD Provinsi dan APBD Kabupaten bisa mengeluarkan dana pendamping. ''Fly over juga diperlukan di jalur tengah, yakni di perlintasan sebidang Paguyangan Bumiayu, ungkap dia di sela-sela pemantauan perlintasan kereta api sebidang di Sumpiuh, Kamis (19/10). Usulan ini bisa dimasukkan dalam Tahun Anggaran 2008. Sebab APBN 2007 sudah disetujui DPR RI. Menurut Mardjijono, jika fly over tidak segera dibangun, kemacetan akan semakin parah, terutama dalam kurun waktu 10-20 tahun mendatang. Bupati Banyumas Aris Setiono yang mendampingi kunjungan Sekda menjelaskan, perlintasan di Sumpiuh ini miring sehingga membahayakan pengendara sepeda motor. Apabila perlintasan licin, sepeda motor sering selip. Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Asekbang) Setda Banyumas Didi Rudwianto menambahkan, Direktorat Perhubungan Darat telah memasang CCTV di dekat pintu perlintasan tersebut. CCTV itu untuk mengontrol tingkat kemacetan di jalan itu saat kereta api melintas. ''Sudah seminggu ini dipasang. Pada arus mudik sekarang, kamera diarahkan ke barat, karena volume kendaraan terbesar dari arah itu,'' ungkap dia. Tingkat kepadatan kereta api yang melewati perlintasan itu cukup tinggi. Pada hari biasa, 50 kali kereta api melewati jalur tersebut. Pada masa angkutan Lebaran ini, naik menjadi 70 kali. Dengan kata lain, rata-rata setiap 20 menit, melintas kereta api. Dampak setiap kali kereta api melintas, antrean kendaraan bisa mencapai 1 kilometer dari arah barat. Dari arah timur juga bisa sepanjang itu. Padahal, 1 kilometer dari arah barat, terdapat Pasar Sumpiuh yang juga berpotensi menimbulkan kemacetan. Salah satu polisi yang bertugas di pos pengamanan Lebaran di perlintasan Sumpiuh menjelaskan, puncak kemacetan biasanya mulai H-3 Lebaran. Pada angkutan Lebaran kali ini, puncak kemacetan juga terjadi pada hari yang sama. Direktorat Jenderal Perhubungan Darat juga memasang CCTV di pintu perlintasan kereta api di Karanganyar Kebumen. Tujuannya, untuk memantau tingkat kepadatan kendaraan di jalur selatan. Jalan layang untuk menghindari perlintasan kereta api sebidang, sudah dibangun di jalur pantura, yakni di Kaliwungu Kendal. Dipadati Pemudik Jalur mudik di pintu masuk Jateng di jembatan Sungai Cisanggarung, Losari, Kabupaten Brebes, dipadati ribuan pemudik. Mereka menggunakan sepeda motor, mobil pribadi maupun bus. Ribuan kendaraan pemudik terlihat merayap memasuki perbatasan Jateng-Jabar tersebut sejak pukul 08.00 hingga pukul 13.00 saat sinar matahari terasa menyengat. Di atas jembatan itu, Satlantas Polres Brebes membagi menjadi dua arus dalam empat lajur. Arus selatan tujuan keluar Jateng menuju Jabar di atas jembatan itu dibagi menjadi dua lajur, demikian juga dua lajur menuju Jateng. Sementara itu, petugas polisi gabungan dari Polsek Losari, Satlantas Polres Brebes dan Brimob Pekalongan turun mengatur lalu-lintas yang terlihat tersendat. Kapolda Jateng Irjen Drs Dody Sumantyawan HS SH yang memantau berjubelnya kendaraan pemudik dari lantai dua Pos Pengamanan Jembatan Cisanggarung meminta Kapolres Brebes AKBP Drs Agus Sukamso MSi untuk selalu memberi pengarahan ke personel di lapangan dalam mengadapi arus kendaraan pemudik. ''Ya kita beri kesempatan pada pengendara sepeda motor dulu. Baru secara bergantian ke mobil pribadi dan bus agar tidak bersenggolan. Bila perlu anggota Satlantas mengawal supaya arus menjadi lancar. Di atur yang baik,'' tutur Kapolda yang memantau arus kendaraan pemudik yang masuk Jateng, Kamis (19/10). (G6,G17,G22, D12-64m) |