logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 20 Oktober 2006 NASIONAL
Line

Hikmah Ramadan

Orang-orang yang Bahagia


Oleh: Mudjahirin Thohir

HARI-hari menjelang Lebaran, muncul sejumlah panorama sosial bernapaskan keagamaan. Panorama sosial itu bagaikan drama kolosal. Para aktor yang terdiri atas para soimin (orang-orang yang mengaku berpuasa), beraksi mengikuti skrip teks demi teks yang dihafalkannya. Mereka beraksi dalam setting pentas (stage): rumah, masjid, dan pasar. Mereka beradaptasi atas peran ganda yang dimainkan, yakni sebagai hamba Tuhan dan sebagai makhluk sosial.

Atas peran ganda itu, rumah bagi mereka bukan saja sebagai tempat tinggal, melainkan juga sebagai setting pertunjukan. To give and to take. Siapa berinteraksi dengan siapa, dengan cara bagaimana, dan dalam bentuk seperti apa. Inilah teks pertama yang harus dibaca dan harus dimainkan di balik kata, silaturahmi pada saat Idul Fitri.

Jika rumah dibaca sebagai pentas, di mana interaksi simbolis itu dilangsungkan, idiom yang mengedepan adalah,"Tunjukkan rumahmu, maka saya akan tahu siapa kamu."

Akibatnya, rumah bagus, baju bagus, dan penyediaan aneka rupa makanan, mendapat rasionalisasi. Rasional meski terkadang nampak berlebihan.

Jika masjid dilihat sebagai lokus di mana Tuhan "bersinggasana", para aktor akan datang berombongan untuk mengisi "buku tamu", kemudian secara bersama menjalankan peran penting berzikir dan berdoa. Yang terjadi, beragama menjadi seperti ritual seremonial.

Sementara pasar, semacam mal, menjadi penyedia casting dan berbagai atribut para aktor ketika pertunjukan sosial itu berjalan. Saat itulah overlapping sering terjadi, yakni antara untuk kepentingan Tuhan dan untuk harga diri.

Marilah kita amati bagaimana drama itu berjalan dan dijalankan. Drama bertitel itu Persiapan Idul Fitri. Para aktivis mushala menggelar ritual khataman Alquran, meskipun bentuknya seperti permakluman sosial. Para santri berzikir dan memanjatkan doa-doa panjang di masjid pada tengah malam hingga menjelang pagi. Suaranya membahana, bagaikan kor para malaikat yang bertasbih di atas singgasana dan memohon ampunan atas dosa yang telah dilakukan. Mereka juga memohon serangkaian ibadahnya dicatat dan meminta sejumlah harapan dalam syair-syair panjang.

Dalam pentas satunya lagi, orang-orang menyerbu mal dan pasar-pasar tradisional. Mereka memburu pakaian baru dan makanan berbagai jenis. Banyak pula yang tergiur dengan tulisan,"Potongan 70% setiap barang yang ditawarkan" yang terpasang di etalase kaca. Mereka lantas memborong apa saja. Bahagia sekali nampaknya. Melihat hal itu, si penjual bernyanyi-nyanyi kecil,"Masuklah ke tokoku, kau kan kujebak. Baru rasa."

Skrip Idul Fitri

Dua pentas kolosal itu tidak terlepas dari skrip naskah Idul Fitri. Ia mewujud sebagaimana yang terbayang, yakni menurut liturgi religi atau berdasar fenomena budaya. Untuk itu, mari kita lihat alur ceritanya. Pada pentas pertama, manusia membaca teks firman Tuhan tentang Lailatul Qadar. Ia dipahami sebagai suatu malam yang datang pada saat waktu menunjuk bilangan-bilangan ganjil pada sepuluh hari terakhir. Suatu misteri yang agung, karena lebih dari seribu bulan kelipatan pahalanya. Ia harus diraih dengan aksi di masjid. Beriktikaflah di sana, jangan di tempat lain. Begitulah salah satu bunyi teksnya.

Semoga Allah berkenan memberi karunia kepada mereka yang memburunya. Namun saya juga berdoa semoga Allah tidak menyia-nyiakan mereka yang tidak melakukan dengan cara serupa. Bisa jadi mereka yang akhir ini lebih memilih berdialog dengan Tuhan di rumahnya sendiri.

Mereka memilih tempat yang lebih sunyi. Tidak ada yang tahu sehingga terlepas dari pamrih pribadi. Bahkan saya berharap agar Tuhan juga menebarkan karunia-Nya kepada mereka yang memilih berdialog dengan cara yang amat berbeda.

Misalnya, dialog para dokter dengan Tuhan dalam rangka menyelamatkan jiwa pasiennya. Dialog para nelayan yang tengah mengais rizki di lautan. Dialog para kuli yang membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan anak istri setiap hari. Butiran cucuran keringat mereka, semoga berubah menjadi sepadan pahalanya dengan bilangan tasbih orang-orang yang beriktikaf di masjid tengah malam.

Saya berharap telah berkeyakinan bahwa sifat rahman dan rahim Allah itu tidak dibatasi ruang dan waktu. Sifat rahman dan rahim Allah juga tidak diukur lewat tata cara menurut bahasa manusia. Dengan begitu, ibadah tidak harus diwujudkan dalam bentuk ucapan zikir dan doa.

Penyebab orang-orang berbelanja, memburu pakaian baru yang indah, semoga karena terdorong oleh keinginan mengagungkan Allah Yang Maha Indah dan mencintai keindahan (Innallaha jamilun, yuhibbul jamal).

Pakaian baru yang dikenakan nanti, adalah untuk mendekati Zat Yang Maha Indah itu dan bukan karena dorongan berlebih untuk dipuja atau karena iri atau takut kalah bersaing dengan tetangga.

Bagi yang tidak mampu membeli pakaian baru, tak perlu berkecil hati. Bukankah pepatah Arab mengatakan, Laisal ied liman labisan jadid, fa innamal ied liman tho'atahu yazid. Dalam Idul Fitri, meningkatkan ketaatan kepada Tuhan itu, lebih diutamakan dari sekadar keindahan dalam wujud berpakaian.

Itulah potret dari suatu pertunjukan bertajuk, Yaumul Ied, Yaumus Sa'id. Yakni Idul Fitri adalah Hari Kebahagiaan Bersama. Suatu pertunjukan kolosal yang menggerakkan naluri dan nurani kaum muslim di negeri ini setiap tahun. Dalam suatu pertunjukan, setiap aktor ingin mengekspresikan kebahagiaannya.

Setelah itu, lantas bagaimana? Itulah persoalan yang lebih penting untuk dijawab. (64m)

- Dr H Mudjahirin Thohir MA, kepala Puslit Sosbud Lembaga Penelitian Undip, wakil ketua PWNU Jawa Tengah


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA