logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 20 Oktober 2006 NASIONAL
Line

Rem Blong, Bus Nyangkut


TERSAMPIR DI DINDING: Diduga akibat rem blong, bus Tri Kusuma jurusan Semarang-Purwokerto tersampir di ujung dinding jalur penyelamat di Jalan Tol Km 2 Seksi C Jalur A wilayah Kelurahan Tandang, Tembalang, Semarang, Kamis (19/10). (30n)

SEMARANG - Selang dua hari setelah kecelakaan karambol akibat rem blong yang dialami truk trailer di Jl Setiabudi, kasus serupa kembali terjadi di jalan tol Km 2 Seksi C Jalur A, Kelurahan Tandang, Tembalang, Kamis (19/10), lebih kurang pukul 14.30.

Adalah bus Tri Kusuma jurusan Semarang-Purwokerto yang mengalami kejadian nahas itu. Akibatnya, bus bernopol R-2918-AA itu menyangkut di ujung dinding jalur penyelamat yang ada di jalur tersebut. Tak ada korban jiwa dalam kecelakaan tunggal itu. Seluruh awak bus berikut sepuluh penumpangnya selamat. Kendati demikian, tujuh orang, termasuk sopir bus, Moch Sodikin (54), warga RT 4 RW 4, Kedungrandu, Patikraja, Banyumas, harus menjalani perawatan intensif di RS Bhayangkara dan RS Roemani Semarang akibat luka yang dialami.

Korban adalah Puput Haryadi (19) warga RT 7 RW 3, Desa Warut, Rembang, Muhamad Ariyanto (32) warga RT 3 RW 5, Purwosari, Kudus, Kirno (39) warga Kampung Tawuti, Desa Bader, Kroya, Kasni (24) warga RT 2 RW 8, Gelanggang, Pati. Mereka dirawat di RS Bhayangkara. Korban yang menjalani perawatan di RS Roemani adalah Deni Restu (20) dan Baroroh Barit (21), keduanya warga Juwana, Pati.

Tidak adanya korban jiwa dalam kecelakaan itu tak lepas dari ketenangan Moch Sodikin. Begitu mengetahui rem busnya tidak berfungsi, dia segera membanting setir ke kiri setelah mengetahui ada jalur penyelamat yang terdapat di jalur tersebut.

"Saya tahu di jalur itu ada jalur penyelamat. Sebab tiap hari saya melalui jalur itu. Saya berusaha masuk jalur penyelamat agar tidak menabrak pengguna jalan lainnya," ungkap dia saat ditemui di rumah sakit.

Namun begitu masuk jalur penyelamat, dia kaget. Pasalnya, bukannya berhenti, bus yang dikendarainya justru melaju tak terkendali hingga akhirnya tersampir di ujung dinding jalur penyelamat.

Untungnya, bus tidak sampai jatuh ke bawah. Padahal, separo badan bus sudah melewati dinding jalur yang berketinggian enam meter itu. Sodikin menduga, hal itu terjadi lantaran kerasnya tanah di jalur penyelamat itu.

"Berbeda dengan jalur penyelamat di daerah Kretek, Wonosobo. Di sana kondisinya bagus. Begitu masuk, bus bisa berhenti karena tanahnya tidak keras. Ini tidak, kita sampai terpental beberapa kali dan hampir nyungsep ke bawah,î ujar Sodikin sembari menahan perih luka di dada dan kakinya.

Pecahan Gear Box

Menurut keterangan Sodikin, bus mengalami rem blong setelah masuk jalan tol dari arah selatan Jl Setiabudi. Sekitar tiga kilometer sebelum jalur penyelamat, rem tiba-tiba tidak berfungsi. Dia berusaha tidak panik meski jalur itu kondisinya menurun. Dia pun segera mengurangi laju bus dan mengurangi gigi perseneling ke tingkat rendah.

Akan tetapi, hal itu mengakibatkan, gear box perseneling pecah hingga laju bus pun kembali kencang. Dia sempat berteriak kepada sepuluh penumpang untuk segera pindah ke bagian belakang.

"Saya sudah menggunakan rem angin tapi tetap saja bus melaju kencang. Kemudian saya ingat ada jalur penyelamat dan segera banting setir,î katanya.

Kepala Induk PJR Tol Iptu Umbar Wijaya mengatakan, dugaan rem blong itu diketahui dari pecahan gear box yang ditemukan dua kilometer dari tempat kejadian. Tidak ada tanda-tanda bus melakukan pengereman.

Sementara itu, Kepala Cabang PT Jasa Marga Semarang Ir Agus Purnomo menampik tudingan bila kondisi jalur penyelamat tidak terawat. Kecelakaan itu, kata dia, terjadi akibat kencangnya laju bus dan tidak ada pengereman yang mengakibatkan rem blong. (H21-64n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA