| Jumat, 20 Oktober 2006 | SEMARANG |
Kesetaraan Gender Tak Hilangkan Kodrat PerempuanSEMARANG - Kampanye kesetaraan gender di Indonesia berbeda dari woman liberalism di negara-negara barat. Kesetaraan gender di Indonesia tidak berarti menghilangkan kodrat perempuan yang harus menjalani proses menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. Ketua Bidang Kerja Sama Pusat Studi Gender Jateng, Dra Fatimah Usman MSi mengatakan, beberapa tahun lalu sebagian wanita kita mulai terpengaruh gerakan woman liberalism. Salah satunya, keengganan mereka menyusui bayinya. Padahal, air susu ibu (ASI) memberi banyak manfaat. ASI bukan hanya nutrisi, tetapi juga memengaruhi pertumbuhan otak bayi. Bahkan ASI jauh lebih baik dibandingkan air susu kaleng yang berasal dari sapi. ''Air susu sapi tak mengandung nutrisi untuk otak karena sapi memang tak butuh zat-zat semacam itu,'' kata dia. Fatimah mengungkapkan hal itu, Kamis (19/10), saat menjadi narasumber Berkah Obrolan Sahur Ramadan 1427 H. Pagi itu, sebagai moderator adalah Asisten Direktur Suara Merdeka Adi Ekopriyono dan host Bima Erlangga dari Radio Female. Acara diselenggarakan Hotel Ciputra, Suara Merdeka, Radio Female 96.1 FM, Yamaha Mataram Sakti, Djarum Super Mezzo, dan produk minuman serbuk Marimas. Pendengar Radio Female bisa bertanya melalui SMS 08157690961 atau telepon (024) 8447154. Acara itu diwarnai debat antara narasumber dan pendengar melalui telepon. Saat itu, Fatimah sedang menjelaskan pandangan Islam tentang poligami. Penelepon bernama Basuki meminta Fatimah memberikan penegasan apakah poligami itu halal atau haram. Rupanya, narasumber tak mau terjebak dengan pertanyaan itu. Dia kemudian menjelaskan dalam kondisi tertentu, Islam memperbolehkan poligami. Fatimah mencontohkan perang Uhud, seperti pada zaman Nabi Muhammad SAW. Saat itu, banyak laki-laki menjadi korban dan banyak perempuan menjadi janda. Dengan menikahi janda-janda itu maka rezeki anak-anak yatim bisa lebih terjamin. ''Jadi, konteks poligami pada zaman nabi tersebut adalah untuk menjamin rezeki anak-anak yatim,'' kata dia. (G6-56d) |