| Jumat, 20 Oktober 2006 | SEMARANG |
DTKP Diminta Serius Tegakkan Kontrol
SEMARANG- Dinas Tata Kota dan Permukiman (DTKP) diminta serius menegakkan fungsi kontrol terhadap rencana detail tata ruang kota (RDTRK) melalui pengendalian izin di Kawasan Tembalang. Apabila tidak diatur sejak sekarang, kawasan itu dikhawatirkan memunculkan potensi risiko konflik cukup tinggi. ''Ke depan pertumbuhan permukiman dan pembangunan sarana tertentu bisa jadi memacu konflik. Seperti yang terjadi beberapa saat lalu, kebutuhan permukiman dengan rumah susun mahasiswa (rusunawa), ternyata memunculkan protes dari warga sekitar yang secara ekonomis dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap pendapat penduduk setempat. Ini masalah yang juga memerlukan antisipasi,'' ujar Agung Budi Margono, anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, kemarin. Dengan kondisi itu, lanjut dia, Pemkot dan instansi yang ada di Kecamatan Tembalang tentu saja memerlukan kajian. Hasil analisis itu penting untuk mengantisipasi masalah yang nantinya muncul, baik efek sosial, ekonomi, maupun yang lain. Upaya strategis itu bisa diketahui salah satunya dari kajian lingkungan, baik Amdal maupun UKL/UPL yang dibuat. Karena itu, pendirian bangunan yang masih belum dilengkapi syarat Amdal seharusnya segera mengurus dokumen dimaksud. Langkah itu, tegas Agung, tidak hanya berlaku pada Kawasan Tembalang, namun juga harus dilakukan pada kawasan lain, terutama daerah konservasi seperti Gunungpati dan kawasan pendidikan di Bendan yang banyak berdiri perguruan tinggi. ''Bangunan baru tanpa kajian lingkungan, dinas harus tegas tidak mengeluarkan izin mendirikan bangunan (IMB), apalagi bila tidak sesuai peruntukan.'' Sangat Penting Agung menilai, antisipasi terhadap kondisi kawasan Tembalang yang pertumbuhannya relatif cepat sangat penting. Apalagi, bila rencana Undip ke depan memindahkan seluruh fakultas di Pleburan ke kota atas terealisasi. Dengan bertambahnya jumlah mahasiswa maka risiko pertumbuhan juga tinggi. Dia mencontohkan kemungkinan munculnya petak-petak bangunan yang mungkin tidak beraturan, karena kebutuhan permukiman makin tinggi. Sementara itu, dari pantauan di lapangan terlihat pengurukan di sisi timur Perumahan Graha Estetika telah berhenti sejak Rabu (18/10) lalu. Yang ada di lokasi hanyalah beberapa alat berat yang sedang meratakan tanah yang telah dikumpulkan sebelumnya. Sementara pada malam harinya, truk-truk kontainer dan pengangkut alat berat yang selama ini menambang perbukitan di kawasan Sigar Bencah terlihat mulai meninggalkan lokasi penambangan. Sekitar pukul 22.00, puluhan truk tersebut terlihat beriringan meninggalkan lokasi penambangan yang tanahnya selama ini dipergunakan untuk menguruk perumahan Graha Estetika itu. (H12,H23-37) |