| Jumat, 20 Oktober 2006 | SEMARANG |
PasananMenepis Anggapan Pesantren TerbelakangMEMASUKI gerbang Kompleks SMA Unggulan Pondok Pesantren Nurul Islami Wonolopo Mijen, kemegahan sebuah lembaga pendidikan akan segera tertangkap. Hamparan sawah menghijau mengelilingi bangunan kampus berdinding putih dengan halaman yang luas. Dari kejauhan bangunan beratap hijau tersebut terlihat jelas. Fasilitas yang tersedia antara lain gedung sekolah, asrama, masjid, kantin, laboratorium, dan lapangan olahraga. Besar bangunan sekolah yang berdiri di atas lima hektare lahan itu kontras dengan bangunan rumah penduduk yang berada di sekelilingnya. Meski lokasinya berada jauh dari jalan raya dan hiruk pikuk kota, bukan berarti sekolah itu tertinggal. Justru suasana tersebut menjadi nilai lebih karena peserta didik bisa belajar lebih tenang dan nyaman. Apalagi dengan kelengkapan fasilitas yang dimiliki. Tak diragukan lagi kualitasnya. Bahkan, Badan Akreditasi Sekolah Provinsi Jateng menyatakan sekolah ini dengan akreditasi A. Keberadaannya, menepis anggapan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan terbelakang. Wakil Urusan Kurikulum Bidang Pesantren Abu Khoir mengatakan, pengembangan lembaga pendidikan ini berkonsep sekolah berasrama, yang memadukan sekolah konvensional dan pesantren modern. Dalam visi dan misi tertulis, SMA Unggulan Pondok Pesantren Nurul Islami melaksanakan pendidikan yang mengutamakan pengembangan ilmu pengetahuan teknologi, sedangkan pendidikan pesantren berupaya menyantrikan siswa-siswi untuk mendorong pendalaman dan pengalaman Alquran dan hadis. ''Yang membedakan sekolah ini dengan sekolah lainnya adalah pengembangan konsep pendidikan formal yang juga menekankan pemahaman agama melalui sistem pesantren,'' katanya. Intensifkan Ibadah Oleh karena itu, selama Ramadan ada berbagai kegiatan yang dirancang untuk menumbuhkan amal ibadah mereka. Siswa yang berjumlah 78 orang itu diintensifkan untuk mengerjakan ibadah shalat tahajud dan tasbih yang dimulai pukul 03.00. Seusai sahur bersama, mereka melaksanakan shalat subuh berjamaah, diteruskan dengan tadarus Alquran dan mengaji kitab salaf. Mereka dibagi dalam lima kelas yang disesuaikan dengan latar belakang tingkat kemampuan dan pemahaman masing-masing. Hal itu dimaksudkan agar mereka bisa mengikuti materi pendidikan dengan baik. ''Pagi hari mereka berada di kelas untuk menerima pelajaran seperti biasa. Pelajaran agama tambahan, kami pusatkan di masjid,'' katanya. Siang hari seusai sekolah, selepas shalat zuhur, mereka diharuskan iktikaf di masjid. Penyampaian materi agama juga dilaksanakan sore hari menjelang berbuka puasa. Biasanya santri secara bergiliran menjadi pembicara dalam kuliah tujuh menit atau kultum. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Inggris, Indonesia, Arab, dan Jawa. Kegiatan terus berlanjut hingga malam hari. Tarawih dan tadarus berlangsung hingga pukul 23.00. ''Mulai Tahun Pelajaran 2006/2007, kami juga menerima peserta didik yang tidak tinggal di asrama. Namun, kami tetap memperhatikan kualitas pendidikan, baik sekolah umum maupun diniyah-nya,'' katanya. (Moh Anhar-37n) |