| Jumat, 20 Oktober 2006 | SEMARANG |
Warga Binaan Lebih PentingSETIAP hari pada bulan Ramadan, kecuali subuh, para napi/tahanan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kedungpane melakukan shalat berjamaah di Masjid At Taubah, yang terletak di sebelah aula lapas. Memang tidak semua dapat menunaikan shalat berjamaah di masjid itu. Menurut data yang tercatat di lapas, dari total 691 napi/ tahanan, sekitar 500 orang di antaranya adalah muslim. Penghuninya kebanyakan warga Kota Semarang. Mereka yang dapat melakukan shalat berjamaah hanya sekitar 120 orang. Seusai shalat Zuhur, di masjid itu pula diadakan siraman rohani dan membaca kitab kuning hingga menjelang waktu asar. Selesai shalat Asar, petugas biasanya membagikan nasi bungkus kepada para warga binaan untuk berbuka puasa. Seusai tarawih, tiap hari sekitar 24 warga binaan menyelenggarakan tadarus yang dibimbing seorang tahanan yang namanya tidak asing lagi didengar. Dia tak lain adalah mantan Kakanwil Depag Jateng, Chabib Thoha. Menurut Plt Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kedungpane, Dwi Agus Setiabudi Bc Ip SH MH, Chabib Thoha memang sangat berjasa dalam pembinaan keagamaan di lingkungan lapas. "Banyak kegiatan seperti membaca kitab kuning dan lain-lain terbantu Pak Chabib Thoha. Maklum, tenaga dai di sini sangat terbatas. Kalau tak ada beliau, pasti kegiatan-kegiatan keagamaan di sini akan sangat sulit direalisasi," ungkap Dwi. Untuk memulai kegiatan itu, kata ayah dari dua anak yang mulai aktif di LP Kedungpane sejak September lalu, terasa susah. Dia menuturkan, awalnya dirinya sampai harus turun tangan sendiri ngoprak-oprak warga binaan untuk diajak shalat tarawih berjamaah. "Namun lama-lama Alhamdulillah banyak yang ikut," ucapnya. Kesibukan Dwi selama Ramadan ini banyak terkuras. Dia mengaku sampai-sampai dirinya tak dapat hadir memenuhi undangan-undangan Muspida. "Masalahnya, saya punya tanggungan terhadap warga binaan di sini, yang lebih penting. Jadi, saya lebih memberatkan yang di sini." Dwi juga menyinggung, hingga menjelang Lebaran ini belum ada satu pun dari pihak Pemerintah Kota (Pemkot) ataupun anggota DPRD Kota yang membesuk ke LP Kedungpane. "Padahal, 95% warga binaan di sini adalah orang Semarang." (Yunantyo Adi-56s) |