logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 20 Oktober 2006 SEMARANG
Line

Ngenteni Dhul

Kue Kering Suguhan Wajib Lebaran

COBALAH perhatikan apa yang tersaji di atas meja ruang tamu Anda, sanak saudara, atau kerabat lain saat Lebaran. Kemungkinan besar, Anda akan menemukan banyak roti kering di meja. Kendati bukan suguhan eksklusif mengingat hampir semua keluarga menyajikan, rasanya kurang afdol jika tidak meletakkan beberapa toples roti kering di atas meja. Padahal, mungkin para tamu atau bahkan kita sudah bosan karena saat silaturahmi dari rumah ke rumah selalu disuguhi cemilan yang sama. Namun, menjelang Idul Fitri permintaan konsumen terhadap makanan itu tetap banyak. Selain di toko-toko kue, banyak juga yang langsung memesan di pembuat kue perorangan.

Momen itu nampaknya dimanfaatkan benar oleh Sovi (34). Warga Jalan Kelud Raya yang mengaku berjualan kue kering dan makanan kecil seperti nastar, putri salju, kastangle, prastile, dan sebagainya hanya selama Ramadan. Sehari-hari ibu dua anak itu berprofesi sebagai guru privat. Alasan dia berjualan kue kering cukup sederhana. ''Ya buat nambah pendapatan sekaligus sangu untuk mudik,'' ujarnya.

Sovi mengaku kegiatan itu rutin dilakukannya setiap tahun. Sampai saat ini ia sudah mengerjakan pesanan kue kering sebanyak 30 kilogram. Kendati tidak tahu jumlah persisnya, pesanan tahun ini meningkat dibandingkan dengan tahun lalu. Harga kue buatannya bervariasi. Sovi mematok harga Rp 30.000 hingga Rp 45.000. Selain warga sekitar, pelanggan kebanyakan adalah teman-teman, keluarga, dan para relasi.

Tidaklah mudah baginya untuk memenuhi semua pesanan. Pasalnya, dia juga harus mengasuh anak-anaknya yang masih balita. ''Untung saya dipinjami dua pembantu dari saudara saya. Tanpa mereka, pesanan para pelanggan tak mungkin selesai.''

Turun 50 Persen

Jika pembuat kue industri rumahan seperti Sovi kebanjiran pesanan, tidak begitu halnya dengan para penjual kue kering di Jalan Dargo. Sebagian besar pedagang di sana mengalami penurunan omzet sampai 50%. Namun, hal itu bukan berarti turunnya minat warga akan kue kering. Salah satu penjual, Tjuk Lan, menduga penurunan pendapatan yang dialaminya karena saat ini banyak muncul pembuat roti kering dalam skala industri rumahan di kampung-kampung.

Pemilik Toko Sumber Rezeki ini mengatakan, tahun lalu ia sempat kewalahan melayani pembeli. ''Kami saat itu bahkan sampai tidak sempat beristirahat karena pelanggan luber.'' Dia menjelaskan, kalau tahun lalu ada sebagian pembeli yang berasal dari luar kota seperti Kudus dan Demak, sekarang pelangannya hanya dari dalam kota.

Widya (40), pemilik toko kue lain di jalan yang sama mengatakan, pembelian kue kering di tempatnya tidak mengalami kenaikan. ''Volume penjualan sebelum dan sesudah Ramadan tidak berbeda. Jumlah pembeli tahun ini juga turun dibandingkan dengan Ramadan tahun lalu.'' (Ida N, Roosalina, Budi Winarto-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA