| Jumat, 20 Oktober 2006 | EKONOMI |
Stok Beras untuk 3 Bulan DistribusiJAKARTA- Guna mengantisipasi gejolak harga pada pascalebaran, Perum Bulog menyiapkan stok beras selama tiga bulan distribusi di masing-masing wilayah. Lembaga ini juga siap melakukan operasi pasar (OP) beras di empat provinsi yaitu, Irian Jaya Barat, Papua, Bengkulu dan Kalteng. Hal itu dikatakan Dirut Perum Bulog, Widjanarko Puspoyo di sela-sela buka puasa bersama, kemarin. Menurutnya, antisipasi tersebut diperlukan, karena pada pascalebaran (November-Januari 2007) adalah masa paceklik yang cukup panjang. Widjan (panggilan Widjanarko Puspoyo-Red) mengingatkan, pada masa paceklik tersebut para spekulan beras akan bergerak. Untuk itu dia minta semua pihak lebih waspada dan mengantisipasinya. "Kami sudah meneruskan perintah OP kepada Divisi Regional (Divre) Bulog di empat daerah yang sangat membutuhkan. Harga OP beras ditetapkan Rp 200 per kg di bawah harga eceran tetap (HET) di daerah bersangkutan," katanya. Dalam hal OP beras, kata dia, Bulog belum menetapkan berapa banyak volumenya, dan jumlahnya tergantung kepada permintaan masing-masing pemda. Widjan mengatakan pihaknya, telah melaporkan masalah gejolak harga beras kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada rapat kabinet paripurna. Dia menjelaskan rata-rata harga beras berada di level stabil tinggi Rp 4.500 per kg (beras setara kualitas cadangan beras pemerintah/CBP). Harga tertinggi, katanya, terjadi di Kalteng Rp 6.200 per kg. Tetapi, harga beras kualitas medium versi Badan Pusat Statistik (BPS) rata-rata mencapai Rp 6.000 per kg. "Meski harga tinggi, tetapi masih dalam batas toleransi," katanya. Menyinggung masalah stok, Widjan mengutip penegasan presiden dalam rapat kabinet, dimana Indonesia dengan penduduk yang cukup besar perlu stok sebanyak 2 juta ton. Jumlah stok sebanyak itu, kata dia, dinilai aman bagi kepentingan kebutuhan penanggulangan kerawanan bencana di negeri ini. Presiden SBY, kata dia, menegaskan perlunya pengadaan maksimal dari dalam negeri. Tetapi jika tidak memungkinkan bisa saja diimpor dari luar negeri. "Presiden menilai, impor merupakan masalah politik tetapi juga harus dilihat secara objektif." Dia mengingatkan kemungkinan terjadinya kemunduran masa tanam dan panen, karena hujan diperkirakan BMG baru merata di Jawa pada Desember. Ini mengandung arti, beras baru mulai masuk pasar pada Maret 2007, atau setidaknya mundur dua bulan dibandingkan kondisi normal.(tri-59) |