logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 19 Oktober 2006 NASIONAL
Line

Warga Jateng di Perantauan (3-Habis)

Awalnya Hanya Kerja Praktik

USIANYA masih 18 tahun. Namun siapa sangka Arif (18), lulusan SMK 7 (STM Pembangunan) Semarang itu setiap bulannya berpenghasilan Rp 1,2 juta.

Pendapatan sebesar itu, masih ditambah dengan fasilitas tunjangan kesejahteraan, fasilitas tempat tinggal plus segala isinya seperti kompor gas dan kulkas dengan isinya.

''Kalau tidak ingin membebani orang tua, pilihlah SMK. Lulus bisa langsung kerja,'' ucap Arif yang baru tiga bulan bekerja di PT Advanced Interconnect Technologies (AIT), di Jl S Parman Kav 201 Batamindo Industrial Park, Muka, Kuning, Kota Batam itu.

Kisah sukses lulusan SMK yang beralamat di Jl Simpanglima itu menarik perhatian rombongan Komisi E DPRD Jateng yang dipimpin Drs HM Iqbal Wibisono SH MH saat menyambangi PT AIT dalam rangka kunjungan kerja ke Batam dan Provinsi Riau belum lama ini.

''Bisakah akses itu ditularkan kepada SMK lain di Jateng?'' tanya Ketua Komisi E itu.

Berdasarkan keterangan Training Superintendent PT AIT, Arif Rahman Hakim, SMK 7 hanyalah salah satu dari tiga SMK yang menjalin kerja sama dengan perusahaan yang bergerak di bidang perakitan semi konduktor alat-alat elektronik itu. Dua lainnya adalah SMK (STM Pembangunan) Cimahi dan salah satu SMK di Yogyakarta.

''Mereka bisa bekerja di sini karena pernah praktik kerja lapangan (PKL) di perusahaan. Setelah siswa menyelesaikan pendidikan di sekolah dan dalam penilaian kami layak, mereka kami rekrut menjadi karyawan,'' jelasnya.

Untuk bisa bekerja di perusahaan milik asing itu, imbuh Arif, calon karyawan harus memenuhi persyaratan secara kemampuan akademik, perilaku, dan psikologis. Dari sejumlah 3.927 orang yang bekerja di PT AIT, 87 % lulusan SMK, sementara itu D3/D4 sebanyak 10 %, serta sisanya lulusan S1 dan S2.

Bambang Sugiharto MPd dari Dinas P dan K Jateng menambahkan, jalinan kerja sama SMK dengan perusahaan itu berkait dengan SMK 7 telah mendapatkan sertifikat ISO 9001:2000.

Di Jateng, ada 18 SMK yang sudah memperoleh sertifikat tersebut. Cuma akses sekolah-sekolah itu tidak semulus SMK 7.

Berawal PKL

Ya, akses lulusan sekolah itu bisa bekerja di PT AIT berawal dari PKL. Saat rombongan legislatif Jateng dan Kepala SMK 7, Drs Bunyamin MPd dan Kepala SMK Karimunjawa, Atang Mintarya berdialog dengan perwakilan perusahaan, juga ada 17 siswa SMK itu yang sedang melaksanakan PKL.

Para siswa itu turut menyambut ''orang tua'' mereka.

Ari Yulianto, salah satu peserta PKL SMK 7 mengungkapkan, meski sifatnya PKL para siswa tetap mendapatkan uang saku dari perusahaan tersebut.

Selain itu, tempat tinggal selama 12 bulan di Batam juga disediakan oleh perusahaan.

''Kalau kondisi perusahaan seperti itu, siapa yang tak ingin bekerja di tempat tersebut?'' tukas dia.

Bayu (18), siswa asal Boja, Kabupaten Kendal menambahkan, selama PKL mereka mendapatkan uang saku rata-rata Rp 800.000 per bulan. Uang sebesar itu akan bertambah kalau para siswa ikut kerja lembur.

Batam adalah surga bagi pencari kerja, siapa pun ingin mengecap ''manisnya'' pulau yang berdekatan dengan Singapura itu.

Namun kalau tak memiliki keterampilan dan pendidikan yang memadai, jangan sekali-kali beradu nasib ke kawasan yang "menjanjikan" masa depan lebih baik itu. (Widodo Prasetyo-60a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA