logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 19 Oktober 2006 NASIONAL
Line

Mantan Menteri Diplot Dubes

JAKARTA - Kabar yang menyebutkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menawari kursi dubes bagi para menteri Kabinet Indonesia Bersatu yang menjadi korban reshuffle beberapa bulan lalu, bukan isapan jempol. Rabu (18/10), Presiden memasukkan dua mantan menterinya di antara 24 dubes baru yang dilantik.

Dua bekas menteri yang ikut dilantik Presiden di Istana Negara itu adalah mantan Menkeu Jusuf Anwar dan mantan Menteri Perindustrian Andung Nitimihardja. Jusuf Anwar dipercaya menjadi Dubes RI untuk Jepang merangkap Mikronesia, sedangkan Andung sebagai Dubes RI untuk Meksiko, Honduras, dan Kosta Rika.

Pelantikan ke-24 dubes yang baru itu dihadiri sejumlah pejabat negara, antara lain Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua DPR Agung Laksono, Wakil Ketua DPR Zaenal Ma'arif, Ketua MK Jimly Asshiddiqie, dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu.

Selain dua mantan menteri, di antara dubes baru terdapat sejumlah nama yang sudah cukup populer. Salah satunya adalah Salim Said.

Pengamat militer ini dipercaya menjadi Dubes RI untuk Republik Ceko. Ada pula mantan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong. Politisi Partai Golkar ini diangkat sebagai Dubes RI untuk Republik Cile.

Amris Hasan yang juga mantan Ketua Komisi I DPR dari PDI-P pun kebagian tugas menjadi Dubes RI untuk Selandia Baru dan Samoa. Adik mantan presiden BJ Habibie, Fanny Habibie, dilantik sebagai Dubes RI untuk Kerajaan Belanda.

Nama lain yang dilantik Presiden SBY adalah Wardhana (Singapura), Luthfi Rauf (Slovakia), Suprijanto Muhadi (Suriname dan Guyana), Muzzammil Basyuni (Suriah), Azairin Pohan (Polandia), Abduh Dalimunthe (Serbia Montenegro).

Selanjutnya, Erman Hidayat (Afghanistan), Faizal Ismail (Quwait dan Bahrain), Bom Soerjanto (Papua Nugini), Sjahril Sabaruddin (Uzbekistan dan Kirgistan), Tadjudin Noer (Sudan), Awang Bahrain (Turki), Nadjib Riphat (Vatikan), Daulat Hotman Pasaribu (Korut), Mangasi Sihombing (Kroasia dan Bosnia - Herzegovina), Linggawati Arti (Swedia dan Latvia), Sunchen Manurung (Argentina dan Paraguay), serta Dalimoniaga (Brasil).

Gerakan Terdepan

Dalam sambutannya, Presiden mengatakan, duta besar adalah gerakan terdepan politik luar negeri Indonesia. Ia juga mengatakan bahwa para duta besar harus memperjuangkan kepentingan nasional di dalam hubungan antarbangsa.

Menurut dia, dunia telah dan akan terus berkembang. Para duta besar diminta terus memperjuangkan kepentingan bangsa dan mengembangkan pendekatan-pendekatan baik seni maupun teknik. Ia juga meminta para duta besar tersebut kreatif, inovatif, dan pragmatif.

''Duta besar adalah gerakan terdepan dari politik luar negeri kita bersama-sama Menteri Luar Negeri. Karena itu, suarakanlah dan perjuangkan kepentingan Indonesia dan kepentingan nasional dalam hubungan antarbangsa,'' pinta Presiden. (A20-60m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA