| Kamis, 19 Oktober 2006 | EKONOMI |
Bunga KPR Diminta Turun LagiSEMARANG- Pengembang perumahan berharap perbankan menurunkan suku bunga kredit kepemilikan rumah (KPR) menyesuaikan dengan BI rate. Tingkat suku bunga KPR saat ini dinilai masih terlalu tinggi dan memberatkan konsumen. Kondisi ini mengakibatkan penyerapan pasar properti masih lemah. Sehingga banyak developer yang tidak bergairah membangun rumah stok, dengan alasan masih mempertimbangkan daya jualnya. Sunarko, Sekretaris Real Estat Indonesia (REI) Jateng, mengatakan developer kini berupaya mengembangkan berbagai program pemasaran sebagai strateginya, baik rumah menengah ke bawah maupun kelas atas. Di antaranya, memberikan subsidi suku bunga dan iming-iming hadiah atau bonus. Umumnya, perbankan saat ini mematok suku bunga KPR 14-16%. Sebelum penurunan BI rate sebesar 50 basis poin menjadi 10,75%, suku bunga KPR berkisar 16-17%. Meski demikian penurunan suku bunga KPR sebesar 1% belum mampu memengaruhi pasar properti secara signifikan. Ia berharap nantinya suku bunga KPR bisa mencapai kisaran 12%, apabila BI rate sampai satu digit. "Apabila suku bunga kian bisa ditekan, maka akan lebih mampu menggairahkan bisnis properti," katanya Rabu (18/10). Indikasi lesunya pasar properti juga terlihat pada pameran REI Expo beberapa waktu lalu. Transaksi yang tercatat dalam pameran yang digelar rutin itu mengalami penurunan. Karenanya besaran BI rate dalam kisaran angka satu digit sangat diharapkan pelaku bisnis ini. Apabila bisnis properti bergairah, bukan tidak mungkin bisnis ikutan lainnya, seperti kayu, besi, dan material ikut berkembang. Bahkan untuk rumah sederhana sehat (RSH), subsidi yang diberikan pemerintah belum banyak terserap. Ia mengatakan perlu adanya berbagai upaya mendongkrak pasarnya. Upaya itu juga sebagai langkah mengatasi angka back log yang tinggi. "Selain meringankan beban suku bunga, kalau perlu penjualan RSH mampu membebaskan uang muka. Selama ini, kendala utama pengembangan pasar RSH berupa uang muka dan tingginya angsuran yang harus dibayar," katanya. (H22-33) |