logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 17 Oktober 2006 NASIONAL
Line

Gedung Pertamina Tak Punya Proteksi

JAKARTA- Kepala Keselamatan dan Kesehatan Lingkungan Pertamina, Singgih menginstrusikan kepada Kepala Dinas Kebakaran DKI Jakarta, Martono untuk segera melokalisasi titik api sehingga tidak menyebar. ''Tolong segala macam data (file) yang ada di lantai direksi yang terbakar segera diamankan dan tidak boleh diubah letak posisinya,'' kata Singgih.

Martono mengakui Gedung Pertamina tidak memiliki proteksi kebakaran yang cukup baik sejak 23 Agustus 2004. Sebanyak sembilan titik penting proteksi kebakaran tidak berfungsi dengan baik, sehingga melanggar Perda 3/1992.

''Beberapa hydran, pemercik air, alarm kebakaran, tanda penunjuk arah, lampu penerang darurat, kipas penahan asap, kabel suplai listrik, lift kebakaran, dan payung kebarakan tidak berfungsi,'' katanya.

Menurut Martono, pihaknya sudah mengirimkan surat teguran ke pihak direksi Pertamina untuk segera memperbaiki proteksi kebakaran yang dimilikinya, namun saat itu tidak dihiraukan.

''Yang jelas mereka sudah melanggar Perda Kebakaran,'' tandasnya.

Peristiwa tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Para karyawan Pertamina nampak menonton dari lantai bawah, beberapa meter dari gedung Pertamina yang terbakar. Sebagian dari mereka mengenakan masker pelindung.

''Seluruh karyawan sudah diinstruksikan untuk tidak memasuki kantor hingga polisi selesai melakukan penyidikan terhadap motif terjadinya kebakaran,'' ujar Singgih.

Sekitar pukul 10:00 WIB api terlihat mulai bisa diatasi, namun 30 menit kemudian kembali menyala. Petugas pemadam kebakaran dibuat pontang panting. Mereka hilir mudik untuk naik ke lantai 18, 19, dan 20 melalui tangga darurat.

''Yang paling parah adalah lantai 19, sebab semuanya terbakar. Beberapa dokumen juga tidak bisa diselamatkan, sementara itu asap tebal masih terus mengepul, menghalau pandangan petugas yang ingin memadamkan api,'' ujar Martono.

Menurutnya, segala macam data (file) yang ada di lantai 18 sampai 20 dilokalisasi dan tidak diubah letak posisinya.

''Sebab itu untuk memudahkan pihak kepolisian mengetahui sumber penyebab kebakaran di lantai tersebut, yang sejauh ini masih merupakan murni kebakaran,'' ujarnya.

Berita kebakaran di Pertamina pun sampai ke Menteri Negara BUMN, Sugiharto yang kemudian meluncur ke gedung Pertamina, dan tiba sekitar pukul 11:00. Dia meminta kepada salah seorang staf Pertamina untuk memberikan penjelasan tentang situasi kebakaran tersebut.

Selamat

Sugiharto mengatakan, data-data penting yang ada di lantai 18-20 tersebut semuanya selamat.

''Data base Pak Ari Soemarno (Dirut Pertamina) sudah ada back up,'' jelasnya.

Dikatakan, data yang terbakar hanyalah data mengenai informasi manajemen Pertamina, dan bukanlah data sentral operasional yang terbakar. ''Penyebab kebakaran masih diteliti oleh pihak forensik, apakah memang ada penyebab lain seperti sabotase atau memang hanya kebakaran murni,'' tambahnya.

Sugiharto menampik bahwa data yang terbakar tersebut adalah data-data yang berkaitan dengan dugaan korupsi di Pertamina.

''Masih terlalu dini untuk bicara seperti itu, dan saya tidak dalam posisi menjawabnya,'' kata dia.

Data-data yang terbakar, sudah ada back up file-nya, sehingga kerugian akibat kebakaran itu tidak terlalu banyak.

''Nanti biar tim dari Pertamina yang mengalkulasi, sehingga pihak asuransi membayar ganti ruginya,'' tandas dia.

Akibat kebakaran yang terjadi di kantornya, Dirut Pertamina, Ari Soemarno yang tengah berada di Cilacap terpaksa membatalkan kegiatan Safari Ramadan jajaran direksi Pertamina. Ari didampingi Wakil Dirut, Iin Arifin Tahyan dan Direktur Pengolahan, Soeroso mencarter helikopter, dan tiba di Kantor Pusat Pertamina Jl Perwira Jakarta Pusat, sekitar pukul 11:11 WIB.

Menanggapi peristiwa tersebut, Anggota Komisi VII, Alvin Lie mengusulkan agar dibentuk sebuah Panitia Kerja (Panja) Pertamina berkait dengan kasus kebakaran tersebut. Pembentukan Panja tersebut adalah suatu yang logis, mengingat Pertamina adalah BUMN yang strategis, yang mendapatkan subsidi sebesar Rp 60 triliun per tahun.

''Ada kebakaran di Pertamina, ya wajar saja kalau dibentuk Panja. Karena subsidinya kan begitu besar. Kalau ada ketidakberesan atau kelalaian sehingga terjadi kebakaran, ya wajar kita pertanyakan,'' kata politikus asal Semarang tersebut.

Dia khawatir kebakaran tersebut memusnahkan banyak dokumen penting, seperti dokumen tentang VLCC, HOM C, keterlibatan Mr MR, dan kasus-kasus lainnya yang patut dipertanyakan.

''Dokumen-dokumen yang saya sebutkan itu sudah sering disorot saat raker dengan Pertamina, namun belum ada jawaban yang memuaskan bagi kami. Itu akan kami pertanyakan lagi, karena kami khawatir itu memboroskan Pertamina. Apa artinya subsidi begitu tinggi, jika yang disubsidi terus melakukan pemborosan,'' tambahnya.(H27,F4-49a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA