logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 17 Oktober 2006 NASIONAL
Line

HIKMAH RAMADHAN

Puasa dan Sedekah

  • Oleh: Muchoyyar

SM/dok

HAMPIR setiap insan hamba Allah SWT terdapat kecenderungan untuk menghiasi hidupnya dengan cinta atau senang dunia yang bersifat sementara dan kurang peduli terhadap kesenangan hari esok yang abadi. Hal itu terjadi karena hamba Allah belum yakin betul bahwa kehidupan akhirat itu lebih indah dan sangat baik dari kehidupan duniawi.

Islam mengajarkan kepada seluruh umat manusia bahwa setiap manusia pasti akan mengalami kematian dan akan kembali menuju akhirat. Hari akhir merupakan hari pertanggungjawaban amal perbuatan setiap individu di hadapan Allah. Apakah dia pantas untuk mengisi tempat yang indah (surga) atau tempat penuh siksa (neraka). Kaya, pandai, jabatan dan keluarga tidak cukup untuk menjadi jaminan kebahagiaan dan atau penyiksaan di alam akhirat. Ibadah kepada Allah SWT, amal saleh yang penuh keikhlasan dan amal-amal yang baik lainnya adalah kunci ajaib untuk membuka pintu surga dan memasukinya dengan penuh kebahagiaan.

Nabi Muhammad SAW memberikan kabar gembira kepada umat-umat yang beriman bahwa bila datang bulan suci Ramadan akan dibuka pintu-pintu surga, terkunci pintu-pintu neraka dan akan diborgol tangan-tangan setan. Maka dengan demikian, kerjakanlah kewajiban puasa ini dengan sadar dan ikhlas dalam pelaksanaannya dan ikuti adab berpuasa dengan sempurna sehingga tujuan puasa akan tercapai ialah menjadi manusia yang berkualitas (muttaqin).

Memberi sedekah di bulan suci Ramadan seperti memberi makan/kebutuhan-kebutuhan pada orang lain yang sangat mengharapkan adalah perbuatan terpuji. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: ''Barang siapa memberi makanan untuk berbuka bagi orang-orang yang berpuasa, maka ia akan mendapat pahala sebanyak orang yang berpuasa pula, tidak kurang sedikit pun.'' (HR Tirmidzi).

Jadi, memperbanyak sedekah, infak dan zakat mal dan lain-lain di bulan suci Ramadan itu adalah perbuatan yang sangat terpuji. Suatu ketika sahabat Anas bertanya kepada Rasulullah SAW: ''Ya Rasulullah, kapankah sedekah paling baik dilakukan?'' Rasul menjawab: ''Sedekah yang paling baik adalah sedekah di bulan Ramadan.'' (HR Tirmidzi).

Bersedekah haruslah dilakukan dengan niat semata-mata mematuhi perintah Allah, tidak perlu diketahui oleh orang lain, cukup diketahui antara kita dengan Allah saja, bahkan tangan kanan pun sebagai petugas pemberi sedekah jangan sampai diketahui oleh tangan kirinya. Sedekah yang dikeluarkan hendaklah berkualitas. Artinya besar-kecilnya sedekah itu sebanding dengan kemampuan seseorang dan memberi makna yang cukup berarti. Bila kita menerima rezeki yang tidak diperkirakan sebelumnya, maka keluarkanlah sedekah yang besarnya kira-kira penerimanya sanggup bergembira seperti apa yang kita rasakan.

Kedermawanan Usman

Coba perhatikan sebuah kisah/peristiwa bersejarah tentang kedermawanan seorang sahabat Nabi ialah Usman bin Affan. Di kota Madinah pernah terjadi peristiwa yang menyedihkan, buah kurma gagal panen, panas terik yang sangat menyengat, makanan dan minuman pun sukar untuk didapat. Terjadi kekeringan dan paceklik yang luar biasa, akibat kemarau yang berkepanjangan. Tumbuh-tumbuhan dan hewan pun banyak yang mati. Pada saat gawat itu, datang rombongan kafilah unta yang membawa sebagian besar makanan dari negeri Syam. Barang-barang kebutuhan pokok itu milik khalifah ke III Usman bin Affan. Para pedagang dan tengkulak Madinah bergerak berebutan ingin membelinya dan akan dijual kembali dagangan tersebut kepada yang membutuhkannya dengan harga yang berlipat ganda. Mereka pun bersedia membelinya dengan harga tiga kali lipat dari harga pembelian. Namun harga yang menggiurkan itu ditolak oleh Usman seraya berkata: Maaf saja sahabat-sahabatku, barang-barang ini telah terjual dengan harga yang jauh lebih tinggi dari yang kalian tawar. Para pedagang itu bertambah heran, siapakah gerangan yang berani membeli barang-barang itu dengan harga yang sangat tinggi. Maka para pedang itupun bertanya: Siapakah yang berani membeli dagangan anda dengan harga yang begitu tinggi, hai sahabatku? Usman bin Affan pun menjawab dengan tenang dan singkat: Allah. Dengan penuh keheranan mereka pun kembali bertanya: Bagaimana caranya Allah memberikan keuntungan itu kepadamu? Usman bin Affan menjawab: Allah menjanjikan kepadaku keuntungan tidak kurang 700 kali lipat. Tidakkah kalian ingat pada janji Allah itu dalam Alquran? Kemudian khalifah itu membacakan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 261: ''Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, tidak ubahnya sebutir biji yang tumbuh menjadi tujuh tangkai. Pada masing-masing tangkai itu terdapat seratus butir biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mahaluas (karunianya) lagi maha mengetahui''.

Para pedagang merasa takjub sambil bertanya: Apakah engkau akan sedekahkan seluruh dagangan ini? Usman pun menjawab: Benar. Seluruhnya akan saya berikan kepada masyarakat Madinah yang menderita karena paceklik yang parah ini. (Prof Dr HM Muchoyyar HS MA, Guru Besar Tafsir Alquran IAIN Walisongo-64)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA