| Selasa, 17 Oktober 2006 | NASIONAL |
Data Tanker Masih Dicari
JAKARTA - Api meluluhlantakkan ruang operasi tanker milik Direktorat Perkapalan Pertamina di lantai 19. Tiga pegawai Pertamina sibuk mengais-ngais sisa kebakaran, mencari data tanker yang tersimpan dalam hard disc. Di lantai tersebut diperkirakan sebagai lokasi sumber api yang membakar lantai 19 hingga 2. Di lokasi kebakaran pun telah dipasangi police line. Kondisi ruangan tampak hancur berantakan. Kaca-kaca gedung pecah, besi-besi berserakan. Demikian pula meja, kursi, dan pembatas dinding serta kertas-kertas hangus terbakar. Langit-langit plafon juga terbakar, sehingga beton pun terlihat. Lantai gedung becek akibat semprotan air dari Dinas Pemadam. Air terus menetes dari plafon. "Kami mencari hard disc. Data kapal tanker ada di hard disc," kata salah satu pegawai Pertamina. Sementara itu petugas pemadam kebakaran dan polisi masih memeriksa lokasi. Kebakaran yang melanda ruang direksi Pertamina itu mengkhawatirkan banyak pihak, karena di ruangan tersebut banyak tersimpan data-data penting. Namun Direktur Utama Pertamina, Ari Sumarno menegaskan, dokumen-dokumen tersebut aman dari amukan si jago merah. "Dokumen penting tidak kami simpan di situ (di lantai yang terbakar). Dokumen penting kami aman," kata Ari dalam jumpa pers di Gedung Perwira Pertamina, Jalan Perwira, Jakarta, Senin (16/10). Masih Baik Ari menjelaskan, dokumen yang ada di lantai 19 dan 20, yang merupakan ruangan wakil direktur utama dan direktur utama, sudah memiliki back up data. "Back up-nya di direktorat masing-masing. Itu yang dapat kami selamatkan," ujarnya. Ari juga memastikan sistem operasi Pertamina masih berjalan baik. "Kami sudah memastikan sistem operasi masih berjalan baik," tandas Ari. Dalam peristiwa kebakaran yang menimpa tiga lantai di ruang direksi Pertamina itu, hanya satu unit operasional yang terkena langsung dampak kebakaran tersebut, yaitu unit operasi tanker. "Operasi tanker dipindahkan ke direktorat perkapalan yang juga memiliki gedung di Tanjungpriok," papar Ari. Sementara itu unit-unit operasi lainnya akan dipindahkan ke beberapa gedung di kompleks Pertamina Jakarta. "Akan kami pindah ke Gedung Perwira dan Gedung Annex," tutur pria bertubuh besar itu. Akibat peristiwa tersebut karyawan Pertamina pun diliburkan. Mereka baru kembali masuk kerja pada Selasa, 17 Oktober 2006. Sengaja Anggota Komisi VII DPR RI, Ade Daud Nasution menyayangkan sikap Pertamina yang tidak mempersiapkan sistem pengamanan kebakaran, meski sejak Agustus 2004 sudah diperingatkan oleh Dinas Kebakaran DKI Jakarta. Ade curiga ada unsur kesengajaan dalam kebakaran tersebut. "Sikap ngeyel itu bisa mencurigakan bagi publik, apakah kebakaran tersebut disengaja untuk menghilangkan data atau untuk tujuan lain," ujar Ade Daud Nasution di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (16/10). Menurut dia, kebakaran tersebut tidak masuk akal karena terjadi di lantai 18 sampai 21. Padahal tidak ada aktivitas apa pun pada saat itu. "Kan ada satpam ketika terjadi kebakaran, seharusnya bisa langsung dilaporkan. Nggak masuk akal itu, kenapa satpam tidak lapor secepatnya," ujar dia. Ade mendesak Polri mengusut kebakaran itu, apakah betul karena korsleting listrik atau ada upaya menghilangkan jejak berkait dengan kasus-kasus di Pertamina. "Itu harus diusut tuntas," tegasnya. Gedung Pertamina yang terletak di Jalan Perwira, Jakarta Pusat, Senin dini hari pukul 04:10 kemarin terbakar. Api membakar tiga lantai atas, yakni 18 sampai dengan 20. Lantai tersebut merupakan ruang kerja Direktur Utama dan Wakil Direktur Utama Pertamina, dan jajaran direksi lainnya. Api baru berhasil dipadamkan hampir delapan jam kemudian, yakni pada pukul 12:00 WIB, setelah dikerahkan sejumlah mobil dinas kebakaran, ditunjang dengan tiga heli yang mengangkut kantong air. Menurut saksi mata Nana Supriatna, seorang petugas satpam, kali pertama Gedung Pertamina terlihat ada asap hitam tebal mengepul di lantai 19 di ruang Dirut Pertamina. Tidak lama kemudian, asap mulai menjalar di lantai 18 dan 20, di tempat Wakil Dirut Pertamina. Api pun mulai berkobar. Situasi mulai hiruk. Nana kemudian menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran Kota Jakarta. Butuh 45 menit bagi 11 mobil pemadam kebakaran untuk bisa mencapai lokasi tempat kejadian. Saat itu api sudah mulai membesar. Kaca gedung pun mulai berguguran, berserak di area parkir yang berada di lantai bawah. ''Lokasinya sulit, Mas. Sebab beberapa proteksi kebakaran gedung tidak berjalan, sehingga menyulitkan tim untuk memadamkan api; padahal tim sudah sampai ke lantai 18-20,'' kata Humas Pemadam Kebakaran, Aminuddin. Beberapa karyawan pun mencoba menyelamatkan dokumen yang berada di lantai 18-20. Upaya tersebut kandas. Mereka hanya bisa menyelamatkan dokumen yang berada di lantai 11 gedung Pertamina. ''Untuk naik ke lantai 12 ke atas sudah sulit, sebab asapnya sudah tebal dan menghalau pandangan serta menimbulkan sesak napas,'' ujar salah seorang karyawan Pertamina tersebut. Tak berapa lama, 24 mobil pemadam kebakaran juga sudah berada di lokasi kejadian. Beberapa petugas pemadam kebakaran segera menurunkan selang untuk bisa memadamkan api yang sudah membesar. ''Kami harus naik hingga ruang direksi di lantai 18, 19, dan 20, untuk bisa melokalisasi titik api supaya tidak menyebar ke lantai di bawahnya, melalui tangga darurat,'' tambah Aminuddin. (H27,F4-49a) | ||||