| Selasa, 17 Oktober 2006 | KEDU & DIY |
PASANANJualan di Halaman Masjid Baitulmutaqin
HALAMAN Masjid Baitulmutaqin, Desa Trasan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, malam itu sangat ramai bak pasar. Halaman seluas kira-kira 300 meter persegi tersebut dipadati ratusan pedagang kaki lima. Bahkan sampai pekarangan rumah warga sekitar masjid dan bahu jalan sepanjang 300 meter juga dipenuhi pedagang. Ada yang berjualan makanan, minuman, busana muslim termasuk peci, cendera mata, mainan anak dan peralatan rumah tangga. Mereka menggelar barang dagangannya menjelang berbuka puasa hingga sekitar pukul 01.00. "Dahulu mereka berkemas setelah sahur," kata Ustad Asyuri Abdul Hadi, imam Masjid Baitulmutaqin. Tradisi itu dimulai sekitar tahun 1800. KH M Tasraf (meninggal 1920 dalam usia 150 tahun), pengelola masjid itu minta warga sekitar masjid berjualan untuk melayani makan sahur umat Islam berbagai daerah yang mengikuti mujahadah lailatulkadar. Ternyata laris. Pengalaman itu berlanjut menjadi tradisi berjualan setiap malam selikuran. Sejak beberapa tahun terakhir, jumlah umat yang mengikuti mujahadah lailatulkadar berkurang, sedangkan pedagang yang berjualan semakin banyak. Para pedagang itu yakin akan mendapat rezeki yang cukup setahun ke depan, bila malam selikuran berjualan di sekitar Masjid Baitulmutaqin, yang terletak di Dusun Sengon, Desa Trasan. Keistimewaan masjid itu, konon didirikan oleh salah seorang Wali Songo. Karena itu, diasumsikan umurnya sama dengan Masjid Agung De -mak. (Tuhu Prihantoro-39d) |