| Selasa, 17 Oktober 2006 | KEDU & DIY |
Pedagang Beras Mengeluh Sepi Pembeli
KEBUMEN - Para pedagang beras di Kebumen dan Gombong merasa heran, mendekati Lebaran permintaan beras masih sepi-sepi saja. Bahkan harga beras lokal malah turun dari Rp 3.800 per kilogram menjadi Rp 3.600 per kilogram. Sejumlah pengecer beras memperkirakan, hal itu sedikit banyak akibat isu impor beras dan juga terkait dengan penyaluran beras bantuan dari Taiwan sebanyak 150 ton di daerah Kebumen. Pedagang beras di Pasar Tumenggungan yang ditemui kemarin mengaku tak ada lonjakan pembelian beras menjelang Lebaran. Mahfur, pedagang di Jl Kolopaking mengatakan, permintaan beras lumayan meningkat justru saat hari-hari pertama puasa hingga pertengahan Ramadan. Kini permintaan beras malah menurun. Di kios paling timur di Jalan Kolopaking itu terlihat sepi pembeli. ''Kami baru menerima pesanan beras dari PLN dan satu sekolah. Biasanya, mendekati Lebaran, permintaan meningkat,'' ucap Mahfur yang didampingi kakaknya, H Yasirudin. Ia menambahkan, awal puasa lalu harga beras lokal Rp 3.800 per kilogran. Namun saat ini harga beras lokal jenis Cisedane, IR 64 dan Ciherang turun menjadi Rp 3.600 per kilogram. Bahkan ada beras yang dijual eceran hanya Rp 3.400 per kilogram. Disalurkan Keluhan senada diungkapkan Ny Suroso, pedagang beras yang juga mangkal di kios Kolopaking Pasar Tumenggungan. Menurut wanita itu, beras yang bagus saat ini harganya Rp 4.000 per kilogram dan relatif stabil. Sebaliknya, harga beras lokal turun. Dia juga mengatakan, biasanya saat mendekati Lebaran, penjualan beras naik drastis. Namun saat ini, H-9 Lebaran, penjualan relatif sepi dan belum ada lonjakan berarti. ''Biasanya bisa menjual dua ton per hari, kini malah turun,'' jelasnya. Para pedagang beras cenderung tidak berani menyimpan stok dalam jumlah besar. Mereka khawatir dengan merebaknya isu beras impor. Belum lagi saat ini di Kebumen ada pembagian beras bantuan dari Taiwan lewat para pengusaha. Secara terpisah, Untung Santoso dari Kelenteng Kong Hwie Kiong selaku penerima beras bantuan 150 ton dari Yayasan Buddha Tzu Chi Taiwan menjelaskan, beras bantuan tersebut sebagian sudah tersalurkan ke korban bencana alam di Kecamatan Ayah. Senin kemarin pihaknya juga mendistribusikan bantuan beras ke Desa Selogiri, Karanggayam, dan Selasa ini rencananya ke Kecamatan Buayan. Menyinggung kemungkinan ada beras impor mendompleng beras bantuan, Untung menjamin tidak ada. Sebab, beras bantuan itu resmi dan juga telah dites oleh Sucofindo. ''Beras ini murni bantuan dan kami bagikan kepada korban bencana alam dan warga miskin. Tak boleh sedikit pun dijualbelikan,'' tandas Untung yang dihubungi usai membagi beras di Kecamatan Karanggayam siang kemarin. (B3-24) |