| Selasa, 17 Oktober 2006 | KEDU & DIY |
Dana Hibah UMY untuk Bangun Rumah SusunYOGYAKARTA - Kalangan kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar buka bersama di gedung rektorat, Jl Ahmad Dahlan, kampus terpadu. Acara tersebut sekaligus sosialisasi pihak kampus dengan masyarakat setempat mengenai rencana pembangunan rumah susun sewa. Seperti diberitakan, UMY mendapatkan dana hibah untuk pembangunan rumah susun sewa di kampusnya, Jalan Lingkar Barat, Kasihan, Bantul. Rencananya, rumah tersebut bukan sekadar tempat indekos atau persewaan, namun merupakan pondok pesantren bagi mahasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu. Salah seorang panitia kegiatan yang juga perencana pembangunan, Ghoffar Ismail mengungkapkan, buka bersama merupakan sharing dengan warga mengenai pengelolaan indekos di sekitar kampus. Persoalan indekos bukan sekadar fisik namun juga lingkungan. ''Sebagai tempat tinggal sementara, seperti layaknya penginapan komersial, tempat indekos perlu dipersiapkan sebaik mungkin, bukan saja segi fisik tetapi juga semua hal yang bisa menunjang proses akademik dan moril penghuninya,'' papar Ghoffar. Dia menambahkan, pihak kampus meminta masukan mengenai kondisi indekos yang berdekatan dengan UMY. Harapannya, indekos tidaklah menjadi tempat yang sebebas-bebasnya. Masyarakat setempat bersama kampus bisa melakukan pengawasan, dalam arti memberikan berbagai kegiatan untuk menepis anggapan bahwa tempat indekos atau kontrakan sebagai rumah bebas tanpa kendali. Penunjang Akademik Dalam buka puasa bersama itu, Ghoffar menyampaikan kepada aparat kampung, desa, takmir masjid, dan tokoh masyarakat mengenai rencana pembangunan rumah susun sewa. Kelak, rumah susun itu akan menjadi tempat hunian sebagian mahasiswa UMY, atau lebih tepatnya sebagai pesantren untuk mencari ilmu agama sebagai penunjang akademik. Menurutnya, langkah sosialisasi itu untuk menghindari kecemburuan warga sekitar penyedia indekos terhadap pembangunan rumah susun sewa (rusunawa). Ketakutan yang dihadapi warga dengan keberadaan rusunawa, seperti bakal berkurangnya pemakai indekos, tidaklah benar. ''Yang akan dibangun ini bukan sekadar tempat tinggal biasa dan hanya disediakan untuk sekitar 300 mahasiswa dengan persyaratan akademik. Jadi masih tersisa ribuan mahasiswa lain dari total mahasiswa UMY sekitar 10.000. Masyarakat tak perlu khawatir,'' jelas Ghoffar. Keberadaan rusunawa yang bernuansa pesantren, menurutnya justru akan menyinergikan hubungan antara kampus dan warga sekitar dalam hal penyediaan tempat tinggal siap huni ''lahir batin''. Warga sekitar kampus juga bisa menggunakan pesantren itu. (D19-39d) |