logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 15 Oktober 2006 NASIONAL
Line

Menulis Berita Sama dengan Mengarang?

''MENULIS berita apa sama dengan mengarang?'' Pertayaan itu kemarin dilontarkan Tri Astuti, anggota PAC Fatayat dari Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas. Dia menjadi salah satu peserta Sarasehan Jurnalistik Ramadan 2006 yang diselenggarakan Harian Umum Suara Merdeka di Pondok Pesantren Daarul Istiqomah Desa Kedungbanteng, kemarin sore (14/10).

Dalam pandangan santri putri itu, saat mengarang cerita atau menulis tentang sisi perjalanan hidupnya di buku harian, dia merasa sudah mengenal dunia jurnalistik, seperti layaknya menulis berita di koran.

Pertayaan lugas itu ternyata juga sempat menyita perhatian para peserta yang datang dari berbagai organisasi keagamaan Islam seperti IPPNU, IPNU, dan fatayat.

Ada pula yang bertanya, apakah saat menulis berita yang mengangkat kejelekan orang lain, wartawan harus siap menanggung risiko? Apa syarat menjadi wartawan. Apakah kalau setiap mau memberitakan harus memberi ''amplop'' kepada wartawan? Juga bagaimana menulis berita singkat dan menarik, sehingga bisa dimuat di koran.

Pertanyaan itu dilontarkan kepada Pemimpin Redaksi Suara Merdeka H Sasangko Tedjo SE MM, Kepala Biro Banyumas Suara Merdeka Didi Wahyu SH MH, Kepala Desk Nasional Agus Fathuddin Yusuf, anggota Desk Daerah halaman Suara Banyumas Imam Nuryanto, dan wartawan Biro Banyumas sekaligus Ketua PWI Banyumas Chaerudin Islam.

Sarasehan Jurnalistik Ramadan putaran terakhir itu dihadiri 300 peserta dari berbagai kecamatan. Bahkan ada juga yang datang dari Brebes karena ingin ikut menimba ilmu dari kegiatan tersebut.

Acara dibuka oleh Asisten Administrasi H Muhammad Santosa SH MHum, mewakili Bupati HM Aris Setiono. Sebelumnya, Pimpinan Pompes Daarul Istiqomah KH Ahcmad Mansyur memberikan sambutan.

Bercurhat

Kepada Sasangko, para peserta lebih banyak bercurhat, berharap, dan bertanya seputar kondisi serta peran Suara Merdeka selama ini, seperti yang dilontarkan oleh Hasan dari Gumelar dan Sukron PAC IPNU Jatilawang. Mereka merasa kalau mengirim artikel sulit dimuat. Dalam pandangannya, untuk bisa masuk, harus dekat dengan wartawan atau jajaran redaksi.

Karena itu, untuk membantu menumbuhkan budaya menulis para santri seperti yang diusung dalam tema saresehan, Sukron berharap agar Suara Merdeka membuat rubrik khusus tentang dunia pesantren. Sementara Amin Latif, Ketua PAC IPNU Banyumas bertanya, kenapa Suara Merdeka tidak ingin menjadi koran nasional, tetapi tetap bertahan sebagai koran regional.

Sasangko mengatakan, Suara Merdeka tetap konsisten untuk menjadi perekat komunitas masyarakat Jateng. Sebab potensi pasar di wilayah ini besar, bahkan masih banyak yang belum tergarap. Perekat tak sekadar mengkritik, menyampaikan informasi, hiburan, dan pendidikan, tetapi juga ikut menjadi mediator atau penengah untuk menemukan solusi atas berbagai permasalahan yang muncul di masyarakat.

''Karena itu, bagaimanapun, media cetak masih punya keunggulan dibanding dengan media elektronik. Khususnya dalam membangun opini masyarakat. Sebab ini bisa langsung menggugah kesadaran masyarakat. Lain dengan media elektronik yang penyampaiannya terlalu cepat dan sulit terdokumentasikan,'' ujar dia.

Dalam pandangannya, dunia menulis harus terus ditumbuhkan, mengingat anak muda sekarang lebih suka melihat dan mendegar dari media elektronik. Lewat sarasehan seperti itu, minimal pengenalan terhadap jurnalistik dasar dan sekilas tentang dunia pers bisa terus disebarluaskan ke masyarakat. Sebab generasi akan terus berganti dan pengetahuan harus terus berjalan.

Lain halnya dengan Didi Wahyu. Dia lebih banyak bercerita tentang kiat menjadi wartawan. Ada empat hal yang harus dipahami calon wartawan atau orang yang mau terjun ke dunia jurnalistik. Pertama punya pengalaman, punya daya khayal atau imajinasi yang tinggi, rasa ingin tahu, dan memiliki pengetahuan memadai.

Agus Fathuddin mengulas tentang teknik menulis berita singkat yang mudah dicerna dan enak dibaca. Dalam berita, selain harus ada unsur 5 W + 1 H (who, what, where, why, when, how), juga harus dimasukkan unsur S (security). Faktor keamanan dari segi hukum, keamanan diri, konflik dan unsur SARA. (Agus Wahyudi-46m)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA