| Minggu, 15 Oktober 2006 | NASIONAL |
kisah "Greget" di Asian Festival, Osaka (2)Tubuh Penat, Keriangan Tak Boleh Tersumbat
BUKAN sesuatu yang mudah untuk tampil di hadapan publik asing dengan membawa nama bangsa. Selain kesiapan mental, kami (para penari Greget dan kru) harus punya fisik yang prima. Lebih-lebih lagi, selain jadwal yang padat selama tiga hari (29 September-1 Oktober), kami pun harus rela keluar masuk stasiun subway untuk memburu kereta. Itu satu-satunya transportasi paling praktis untuk pulang balik dari hotel ke venue (tempat pentas di Shin-Mueda City). Mau tak mau dalam waktu yang sangat singkat, kami seolah-olah dituntut untuk mengikuti irama hidup orang Jepang yang serbacepat seperti laju shinkansen (kereta supercepat-Red) itu. Simak saja, begitu kami tiba di Hotel Mitsui Garden dengan bus jemputan dari pihak Konsulat Jenderal RI di Osaka pada tengah hari 28 September, pada pukul 18:00 waktu setempat harus sudah sampai di gedung KJRI dengan naik subway. Sekitar pukul 21:00, kami pulang ke hotel dan beberapa penari langsung berlatih beberapa jam sebelum tidur. Keesokan harinya, seusai sarapan pagi, kami harus segera ke venue untuk geladi bersih. Jangan tanya berapa panjang jalan dan berapa trap tangga yang kami lalui untuk sampai lokasi. Sebab, dari hotel kami harus berjalan kaki ke stasiun subway terdekat di Yodoyabashi Station. Turun di Umeda Dari station itu, Kami masih harus berjalan lagi melewati pertokoan dan lorong yang panjang sebelum sampai di venue. Kami yang sebagian besar gadis-gadis usia SMP dan SMA memang banyak bercanda sepanjang berjalan kaki itu. Tapi, candaan itu tetap tak cukup membuat kami melupakan betis dan tumit yang penat. Tak bisa berlama-lama meredakan kepenatan, kami harus segera beraktivitas lagi. Para penari bersiap-siap untuk geladi bersih, sementara kru pameran harus segera menyiapkan stan dibantu staf dari KJRI Osaka. Satu jam, geladi bersih itu kelar, para penari segera masuk ke ruang ganti untuk persiapan tampil pada sesi pertama di hari tersebut. Itu bukan pekerjaan yang enteng pula, sebab mereka harus membawakan beberapa tarian, dan semua penari menarikan beberapa nomor. Jadi bisa Anda bayangkan, bagaimana ribet-nya mereka mempersiapkan diri, mulai dari riasan muka, pemilihan busana, hingga pernik-pernik aksesori yang harus dipakai. Dalam situasi seperti itu, tak ada yang bisa ber-leha-leha. Pasalnya, mereka harus berpacu dengan jam tampil. Mengamati para penari itu merias diri, ibarat menonton sebuah adegan teater yang memikat. Lihat saja, bagaimana beberapa anak perempuan usia SMP sudah piawai memilih lipstik, maskara, eyeshadow atau blush-on mana yang pas untuk riasannya. Atau bagaimana mereka menyulap wajah kekanak-kanakan itu menjadi muka seorang perempuan dewasa yang cantik. Untuk urusan mempercantik diri itu, mereka tak kalah dengan penari lain yang lebih tua usianya. Jadi, tak sia-sia pelajaran yang mereka peroleh selama ini di Greget. Perlu dicatat, selain tari dan karawitan, Yoyok Bambang Priyambodo dan tim instruktur juga mengajarkan pula cara berias diri. Yoyok sendiri juga tak bisa bersantai-santai ketika itu. Selain merias diri karena akan ikut menari, dia juga sibuk membetulkan garis alis beberapa penari. Selama tiga hari tampil di Asian Festival itu, kami memang harus rela terjebak dalam rutinitas yang melelahkan. Berangkat seusai sarapan dengan berjalan kaki menuju subway, berdesak-desakan di dalam kereta, berjalan lagi menuju venue untuk segera bersiap-siap geladi bersih, merias diri, tampil, lalu pulang pada sekitar pukul 22:30 ke hotel dalam pola yang sama dengan keberangkatan. Semua itu memang melelahkan. Tapi jangan Anda bayangkan ada kekusutan atau kebosanan pada wajah-wajah kami. Ya, tubuh boleh saja penat, tapi keriangan tak boleh tersumbat. Itu energi yang bagus untuk tampil bagus. Buktinya, penonton dari pelbagai bangsa yang memadati panggung di bawah Umeda Sky Building, salah satu gedung tertinggi di Osaka, itu tak henti-henti memberi aplaus setiap kali para penari Greget menunjukkan kebolehannya.(Saroni Asikin-41a) | ||||