logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 15 Oktober 2006 NASIONAL
Line

Melawan meski Perut Tertembus Peluru

KEKEJAMAN komplotan perampok bersenjata api yang mulai merambah wilayah eks Karesidenan Surakarta, kemarin dirasakan Saidi (55) asal Wonogiri. Tidak hanya dia, keluarga juga dibuat shock dengan aksi perampokan yang terjadi di wilayah perbatasan Wonogiri-Gunungkidul itu.

Sabtu siang (14/10) pedagang sapi itu langsung menjalani operasi sejak pukul 11.00-13.30 di RS Dokter Oen Solo Baru, Sukoharjo karena peluru perampok mengeram di tubuhnya.

''Saya sempat melawan dengan memukul mereka, meski sudah tertembak,'' ujar bapak dua anak itu saat hendak masuk ruang operasi.

Meski darah kering akibat timah yang menembus lambungnya masih terlihat di selimut penutup perut, kakek tiga cucu itu terlihat tegar.

Nada bicaranya juga lancar, meski sesekali meringis karena menahan perih. Dia menceritakan, saat ditodong perampok dengan pistol, yang dia pikirkan hanya satu, yaitu melawan hidup atau mati. Sebab, dia menduga para pelaku tetap akan nekat menghabisinya di tengah lokasi yang sepi.

Terlebih pagi kemarin, dia hanya bersama tetangga kampungnya, yakni Paiman (45) warga Nglepung, Tegalrejo, Eromoko, Wonogiri. Padahal komplotan itu terdiri atas empat orang. Dari empat pelaku itu, yang dia lihat hanya satu. Yakni pemegang senjata api. Postur tubuh pelaku sedang, tegap, tinggi 160 sentimeter, dan tidak banyak bicara.

Dia hanya membentak sekali dengan logat Jawa saat meminta uangnya.

Setelah itu, pelaku menembak kaca. Paiman yang ketakutan melarikan diri bersembunyi. Mengetahui kaca mobil tertembak, Saidi berang. Pelaku tetap meminta paksa cincin dan ponselnya .

Diduga jengkel karena uang tak kunjung diserahkan, sekali lagi pelaku meletuskan pistol dan nyasar di perutnya hingga lambungnya bisa merasakan udara dingin. Darah pun membasahi baju. Mengetahui tertembak, pedagang yang semula hendak ke Pasar Praci itu bukannya menyerahkan uang, justru melawan. Dia berontak dan sempat memukul sebisa mungkin, sebelum akhirnya lari menyelamatkan diri serta meminta tolong warga.

''Meski terluka, saya mencari ojek untuk diantar pulang atau mencari puskesmas terdekat, '' lanjut dia.

Sejak berangkat dari rumah, dia mengaku tidak ada rasa waswas sama sekali. Sebab, selama puluhan tahun berdagang sapi, belum pernah dirampok meski kadang pulang malam hari. Istrinya Kateni (50) mengaku nyaris pingsan saat dikabari suaminya tertembak perampok.

''Bagaimana tidak takut namanya ditembak kena perut, '' ujarnya saat menunggu di ruang operasi.

Sebelum berangkat, keluarga juga tidak curiga. Sebab suaminya sudah terbiasa pergi pagi sampai pulang malam membawa uang untuk mencari atau membayar sapi dagangan. Untuk menghilangkan trauma, baju suaminya yang berlumuran darah akan dikubur. (Achmad Hussain-42m)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA