| Minggu, 15 Oktober 2006 | SEMARANG |
Zakat Baru Terkumpul 2,5 % dari PotensiSEMARANG - Pengumpulan zakat di Indonesia, baru mencapai 2,5 % dari seluruh potensi yang ada. Padahal dana itu bisa dimanfaatkan untuk membantu kaum duafa. Seluk-beluk mengenai zakat, infak, dan sedekah, Sabtu (14/10) dini hari menjadi bahan perbincangan dalam Berkah Obrolan Sahur Ramadan 1427 H. Narasumber pagi itu adalah Alfath, Branch Manager Rumah Zakat Indonesia Cabang Semarang. Tampil sebagai mode-rator Eri Suganda dan host Bima Erlangga dari Radio Female. Acara itu terselenggara setiap pagi pukul 02.00 - 03.00, berkat kerja sama Hotel Ciputra, Suara Merdeka, Radio Female 96,1 FM, Yamaha Mataram Sakti, dan Djarum Super Mezzo. Warga bisa mengikuti acara yang diselenggarakan di lobi Hotel Ciputra itu melalui gelombang 96,1 FM Radio Female. Pendengar juga bisa menyampaikan pertanyaan lewat SMS ke 08157690961 atau telepon (024) 8447154. Alfath mengatakan, potensi zakat di Indonesia mencapai Rp 20 triliun per tahun. Namun dari jumlah itu, yang tergali baru Rp 500 miliar per tahun. ''Walau di Indonesia masih sedikit, keinginan masyarakat untuk berzakat dan berinfak selalu memperlihatkan peningkatan,'' tutur dia. Dia memberi contoh, Rumah Zakat Indonesia untuk tahun ini bisa menghimpun Rp 65 juta. Angka itu, 100% lebih banyak dibanding dengan tahun lalu. Menjawab pertanyaan pendengar tentang operasional, Alfath menyatakan dana untuk keperluan itu berasal dari berbagai sumber, beberapa di antaranya dana amil 12,5% dari zakat, infak, atau sedekah yang dibayarkan. Ada pula donatur yang memberi bantuan operasional. ''Kami juga sering menyelenggarakan kegiatan dengan dana sponsor,'' tuturnya. Dana yang terkumpul dari masyarakat itu kemudian digunakan untuk membantu kaum duafa, beberapa di antaranya lewat operasi bibir sumbing, operasi katarak, klinik kesehatan, operasi hernia, bantuan melahirkan, dokter spesialis, penyediaan mobil jenazah (semunya gratis), pemberdayaan ekonomi umat, serta beasiswa bagi anak yatim. (G6-62m) |