logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 15 Oktober 2006 BINCANG BINCANG
Line

Pernah Ingin Jadi Anak Band

MENJADI aktivis hak asasi manusia (HAM) bukanlah cita-cita awal Usman Hamid. Pria berkacamata minus ini sejak remaja justru ingin menjadi pemain band andal. Untuk mewujudkan cita-cita itu, ia sudah menjalani proses tidak gampang. "Sejak remaja saya sudah belajar berbagai macam alat musik. Akhirnya saya bisa main gitar, bas, dan drum. Juga sedikit-sedikit bisa main piano. Lalu saat kuliah di Trisakti saya dan teman-teman membentuk grup Black Stone," kata pria kelahiran Jakarta 6 Mei 1976 ini.

Usman bahkan suka "Brown Sugar" Stones dan "Revolution" Beatles, dan 'Imagine' John Lennon. "Dari tampil di kampus, akhirnya Black Stone diminta untuk mengisi acara di kafe-kafe di seputaran Semanggi-Sudirman. Saya akhirnya dapat juga tawaran rekaman pada 1997 tetapi dengan band lain, Airmesta," kata anak ke-9 dari 10 bersaudara pasangan Abdul Hamid dan Halimatussa'diah ini.

Badai krisis ekonomi pada 1997, menyebabkan rekaman ditunda. Pada 1998 setelah krisis mulai mereda, dia dipanggil lagi oleh produser untuk memulai rekaman. "Saat itu saya dimarahi produser karena tahu saya terlibat demonstrasi antipemeintah. Menurut dia hal itu berpotensi menimbulkan masalah pada proses rekaman Airmesta. Karena tidak mau membebani produser, akhirnya saya memilih total jadi aktivis mahasiswa," kata alumnus FH Trisakti ini.

Bung Karno

Usman menjalani masa kecil dan muda di daerah Jelambar Jakarta Barat. Saat kecil ia dididik agama cukup ketat dari kedua orang tuan. "Karena itu, pagi saya belajar di sekolah negeri, sore sekolah di madrasah," katanya.

Saat duduk di bangku SMA dia mulai senang membaca buku-buku karya Nurcholish Madjid dan Bung Karno. Ia jadi hormat dan kagum pada pemikiran Cak Nur terutama yang berkait dengan Islam yang lebih indah, progresif, dinamis dan menujung tinggi moralitas politik. Dari Bung Karno, ia mendapatkan ilmu tentang bahasa yang digunakan untuk membakar semangat kaum muda dan pemikiran politik yang filosofis, dan ide-ide besar bagi bangsa Indonesia.

Kuliah di Fakultas Hukum Universitas Trisakti, dia mulai berkenalan dengan para aktivis mahasiswa. Dia pun ikut terjun dalam demo besar-besaran mahasiswa 1998 untuk menuntut reformasi dan memaksa Soeharto lengser. Pada tahun sama dia didaulat teman-teman maju ke pemilihan Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Trisakti dan akhirnya terpilih.

Lalu dia mulai bersemangat berjuang menegakkan HAM berkaitan dengan gugurnya mahasiswa Trisakti dalam peristiwa Tragedi Trisakti 1998. Saat mulai terjun dalam perjuangan menegakkan HAM, dia kagum pada sosok Koordinator Kontras Munir. Ia bakan mulai bergabung dengan Kontras saat masih kuliah. Setelah lulus ia menjadikan Kontras sebagai tempat paling cocok untuk mengembangkan diri sehingga tidak berkeinginan melamar pekerjaan ke mana-mana.

Ia beruntung karena ayahnya yang berprofesi sebagai pedagang bahan bangunan dan guru ngaji itu mendukung aktivitasnya. Yang terpenting aktivitas itu selaras dengan ajaran Islam, yaitu menegakkan yang hak dan menolong kaum yang dizalimi.

Selama aktif di Kontras dia mendapat kesempatan mengikuti kursus tentang HAM di Columbia University AS pada 2003. Pada awal Juni 2003 dalam rapat kerja yang berlangsung di Cisarua Jabar, ia terpilih menjadi Koordinator Kontras menggantikan Ori Rahman SH (ketua Presidium). Ia menjadi nahkoda Kontras yang keempat setelah Munir SH, Munarman SH, dan Ori Rahman.

Saat ditanya apa obsesinya, dia bilang, ingin meluruskan Reformasi 1998. Ia mengaku sangat kecewa karena Reformasi 1998 hanya menghasilkan demokrasi bilik suara atau demokasi yang dikuasai oleh kekuasan oligarki parpol.

"Bahkan di parpol sendiri ada oligarki kekuasan elite-elite politik tertentu. Jadi rakyat tidak bisa mengontrol wakil yang mengeluarkan kebijakan merugikan hak-haknya. Apa jadinya kalau wakil mereka condong kepada kepentingan pemilik modal," kata pemuda yang fasih berbahasa Inggris ini. (Hartono Harimurti-35)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA