| Jumat, 13 Oktober 2006 | WACANA |
Surat PembacaReformasi Birokrasi yang Dijanjikan SBYJika rakyat ditanya apakah birokrasi pemerintah pusat sampai daerah sudah berjalan efektif dan efisien, jawabnya pasti belum. Pemerintah masih bingung membuat konsep birokrasi yang bersih, efisien, efektif, transparan dan akuntabel. Postur birokrasi kita sangat gembrot karena yang dipikir perut melulu. Karena gembrot digerakkan pun sulit hingga perlu diet dan beraneka ragam stimulus agar menjadi langsing dan mudah bergerak. Tidak dapat dipungkiri birokrasi sekarang sebagai warisan rezim masa lalu yang penuh KKN dalam proses rekrutmennya yang menghasilkan output kurang berkualitas. Rakyat merasa prihatin melihat di kantor kelurahan, kecamatan, dinas sampai ke gubernuran banyak PNS sedang santai, main catur, pingpong bahkan jalan-jalan ke mal pada jam kerja. Mengapa demikian dan siapa yang salah. Kepala daerah atau para pejabat di lembaga pengawasan. Apa fungsi Irjen, Bawasda dan PP No 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil ? Menurut Prof Dr Eko Prasojo (pakar administrasi publik UI), birokrasi i Indonesia sebagai sesuatu yang berat, lambat, tidak kreatif dan tidak sensitif terhadap publik. Ini yang menjadi penyebab krisis yang luas. Pembangunan ke depan harus diletakkan dengan reformasi birokrasi. Orang mencuri harta rakyat dengan mengatasnamakan birokrasi. Seperti kleptomania, mereka dilindungi oleh asas legal formal". Di lingkungan PNS lazim kalau DP3 pasti selalu bagus, setiap 4 tahun sekali bisa naik pangkat tak peduli berprestasi atau tidak, rajin atau malas. Permasalah-an lain yang tidak kalah penting,distribusi pegawai yang tidak seimbang. Penempatan pejabat biasanya atas dasar kedekatan dan nepotisme, sehingga banyak yang tidak kapabel justru mendapat job basah. Sistem kerja birokrasi kalau mau maju harus "diswastanisasi", ukuran standar kinerja/sanksi/penghargaan harus jelas, rekrutmen transparan dan sesuai kebutuhan. Bila reformasi birokrasi berhasil diwujudkan, saya yakin mungkin kebodohan dan kemiskinan dapat berkurang signifikan. Rakyat menunggu realisasi janji SBY dalam mereformasi birokrasi. Aris Soenarto Jl Setyaki Rt 2/Rw 6 Mijen, Semarang *** Kecewa Petugas FIF Saya membayar angsuran motor FIF 20 September 2006 di dealer Jl Majapahit 189A Semarang sebesar Rp 446.000 dan diterima petugas wanita yang bertugas sendirian) dengan uang Rp 500.000, Mungkin kurang konsentrasi karena harus menulis kuitansi dan diajak ngomong petugas lain, dia hanya memberi uang pengembalian Rp 4000. Sorenya saya baru sadar bila uang pengennbalian hanya Rp 4 ribu padahal seharusnya Rp 54.000. Saat itu juga saya langsung datang ke dealer tetapi tutup. Esok harinya saya datang lagi untuk meminta kekurangan uang pengembalian Rp 50.000, tapi petugas tidak merasa hanya mengembalikan Rp 4.000 dan tidak mau memberi kekurangannya Rp 50.000. Karena kecewa saya pun pulang. Tidak lama orang tua saya datang ke dealer untuk hal sama, yaitu menanyakan kembali kekurangan uang pengembalian tapi tidak juga membuahkan hasil. Buat saya bukan nominalnya yang menjadi masalah, tapi kejujuran. Apalagi saya bukan hanya sekali ini pengguna jasa FIF. walau baru kali ini dibuat kecewa. Semoga pengalaman ini yang terakhir buat saya, jangan sampai terjadi pada pengguna lain. Saya juga imbau kepada masyarakat lebih berhati - hati pada saat pembayaran angsuran. Arum Puspita Sari Bumi Wanamukti Blok GII/17, Semarang *** Abonemen Telkom Saya pelanggan Fixed Phone PT Telkom yang awalnya kagum atas layanan dan penanganan hingga pemasangan dan penyambungan. Semuanya dilakukan lancar serta menyenangkan. Pada Agustus 2006 saya menerima buku panduan yang menyebutkan abonemen pelanggan perumahan tidak berubah (tetap Rp 28.700). Sebelumnya di arsip dicantumkan biaya abonemen saya meningkat menjadi Rp 31.700 sejak Mei 2006. Tanggal 23 Agustus 2006 saya ke Plasa Telkom dan mendapat pengakuan hal itu sebagai kesalahan Telkom yang baru merubah sistem penagihan. Menurut petugas secara prosedural Telkom hanya akan mengembalikan (me-restitusi) kelebihan pada bulan terakhir bagi pelanggan yang komplain. Padahal tidak semua pelanggan setiap bulan selalu memperhatikan detail tagihannya dan kejadian ini telah berlangsung sejak bulan Mei 2006. Lebih parah lagi, walau bulan lalu sudah melapor ke Plasa Telkom, ternyata abonemen tagihan saya bulan September 2006 juga tetap Rp. 31.700. Padahal saat ke kantornya, semua fitur untuk nomor saya telah dimatikan. Apakah memang setiap bulan kami semua harus mendatangi Plasa Telkom, untuk mendapatkan pengembalian uang abonemen ?.Hal ini berarti harus antre lama, mengeluarkan biaya parkir, bensin atau membayar angkutan. Saya jadi bertanya apakah ini memang disengaja untuk mendapatkan dana dari masyarakat. BiIa dihitung setiap bulan seorang pelanggan kena tambahan biaya ngaco sebesar Rp 3000, berapa juta dana tak resmi yang diperoleh oleh PT Telkom setiap bulannya. Oh ... jadi konsumen kok susah bener ya ... Agus Ahmad Muzahid Jl Koro Raya 8B, Semarang *** Mudik Tidak Pamer Tradisi mudik ternyata juga menjadi milik semua umat. Terbukti mudik sudah menjadi gawe nasional termasuk pelayanan transportasi, ketersediaan barang kebutuhan pokok, terkonsentrasinya orang di tempat umum dan permasalahan kesehatan serta keselamatan di perjalanan. Karenanya perlu penanganan tersendiri. Sejatinya rnudik merupakan bentuk silaturahmi biasa antara yang muda kepada orang tua, saudara dan kerabat di kampung nun jauh. Paling tidak dilaksanakan setahun sekali pada hari lebaran itu. Masalahnya, saat lebaran yang bersilaturahmi mencapai jutaan orang, belum lagi jarak tempuh jauh dan diperlukan alat transportasi yang memadai. Dengan pergerakan manusia dalam waktu yang bersamaan dan satu tujuan tentu membawa dampak sosial tersendiri. Mudik seharusnya sarat dengan nilai kesucian setelah selesai menjalani ibadah puasa, kadang malah ternoda oleh nafsu pamer. Di antaranya pamer keberhasilan materi selama bekerja di rantau yang diwujudkan dengan pemakaian barang berharga. Padahal fakta menunjukkan angka kemiskinan di sekitar makin meningkat, belum lagi pengaruh daya tarik warga untuk bekerja di kota setelah melihat kerabat atau temannya berhasil secara materi. Hal ini juga bisa meningkatkan urbanisasi yang sulit dikendalikan. Kalau pekerjaan di sektor informal itu tidak membawa hasil seperti yang diharapkan akhirnya hanya menyisakan permasalahan sosial di perkotaan, seperti tumbuhnya kampung kurnuh dan liar, gelandangan, pengangguran maupun tindak kejahatan. Mudik tidak untuk pamer kemewahan, malah seharusnya bisa memberdayakan masyarakat dengan memberi kontribusi pengetahuan bagi kehidupan sosial ekonomi. Misal, bagi pemudik yang berhasil secara materi bisa memanfaatkan waktu yang singkat untuk memberi bantuan modal dan keterampilan usaha kepada kerabat/teman untuk berusaha di kampungnya sendiri. Noor EL Mohammadi Kutabanjarnegara Rt 5/Rw 2 Banjarnegara *** Mohon Info Stroke Saya mengalami stroke dua kali, tahun 1995 dan 2003. Di saat proses penyembuhan stroke pertama belum sempurna saya mendapat serangan kedua akibat bekerja berat dan keras sehingga tensi naik. Orang melihat saya seperti sudah sembuh, karena bisa mengerjakan pekerjaaan apa pun. Padahal gerakan saya itu terasa berat/kaku, refleksi lambat, bicara kurang jelas, sering lupa dan berpikir kadang terasa buntu. Jadi selama ini saya masih dalam kondisi sakit. Sudah banyak saya berobat pada dokter, sinshe, pijat dan pengobatan alternatif lain tetapi belum berhasil sembuh. Akibat stroke, separo badan sebelah kiri dari kepala sampai ujung kaki terasa mengganggu. Pada tiap persediaan bagian, di telinga/syaraf keseimbangan, leher, bahu, siku, tangan, rusuk, pangkal paha, lutut dan engkel kaki seperti ada gumpalan. Bisa bergerak tapi begitu kaku/terasa berat atau nggedibel (Jawa). Mohon siapa pun yang bersedia memberi pengalaman, informasi, saran atau obat yang dapat menolong saya ke 6705739. Syukur yang pernah menderita seperti saya dan kini sembuh total. B Soeprasetyo Jl Sambiroto Asri Barat I/185 Semarang |