| Jumat, 13 Oktober 2006 | NASIONAL |
Tragedi Jatuhnya MandalaKonfigurasi Penerbangan Tidak Sesuai PersyaratanJAKARTA -Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menilai, flap dan slat yang tidak turun pada Mandala MDL 091 sehingga mengakibatkan pesawat gagal tinggal landas pada 5 September 2005, diduga karena prosedur pengecekan diabaikan oleh penerbang. Flap dan slat adalah bagian dari sayap pesawat yang posisinya di belakang dan di depan. Fungsinya untuk membantu gaya angkat, sehingga pesawat bisa terbang atau sebaliknya untuk pendaratan. Hal itu diungkapkan Ketua Tim Investigasi Tragedi Mandala, Frans Wenas, kepada wartawan di Gedung Dephub, Jakarta, kemarin. Keadaan tersebut dinilai tidak sesuai dengan persyaratan penerbangan. Hal itu dapat menyebabkan tidak terindentifikasinya keadaan flap yang belum turun. Dalam situasi seperti itu, seharusnya penerbang mengaktifkan suara take off warning horn, namun ternyata dari rekaman cockpit voice recorder (CVR) tidak terdengar. Kecelakaan pesawat Mandala Airlines di Jalan Jamin Ginting Medan, tidak jauh dari Bandara Polonia Medan, itu mengakibatkan lima orang awak pesawat dan 95 penumpang tewas. Sebanyak 15 penumpang luka-luka, 49 orang penduduk meninggal, dan 26 warga luka. Korban meninggal di antaranya adalah Gubernur Sumatera Utara, Rizal Nurdin. (bn-60a) |