logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 13 Oktober 2006 NASIONAL
Line

SBY Minta Maaf ke PM Singapura

  • Soal Polusi Asap

JAKARTA - Sehari setelah menerima surat bernada kecewa dari PM Lee Hsien Loong, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis (12/10) siang kemarin, menelepon pemimpin Singapura itu.

Kepada koleganya tersebut, Presiden menyampaikan permintaan maaf dan menjelaskan upaya yang sudah dilakukan Indonesia mengatasi kebakaran hutan yang menyebabkan polusi asap hingga negara-negara tetangga.

Menurut Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal, pembicaraan telepon antara Presiden SBY dan PM Lee Hsien Loog itu berlangsung pukul 12.00.

''Mereka berdua membahas soal asap yang terjadi di Indonesia yang menyebar sampai di Singapura. Presiden SBY menjelaskan penyebab terjadinya asap itu, langkah-langkah yang telah dilakukan pemerintah Indonesia dalam menanggulanginya, dan apa saja hambantan yang dihadapi di lapangan,'' katanya.

Atas nama Pemerintah RI, Presiden juga menyampaikan permintaan maaf akibat kiriman asap dari wilayah Sumatra dan Kalimantan ke negeri tersebut. Kepada PM Singapura, Presiden juga menekankan pentingnya solusi jangka panjang terhadap masalah asap itu.

''Sebab, seperti diketahui, masalah asap ini setiap tahun terjadi, dan bukan saja menyulitkan Indonesia, tapi juga kawasan Asia Tenggara dengan berbagai dampak sosial dan ekonomi,'' sambung Dino.

Pertemuan ASEAN

Dalam pembicaraan itu, Presiden menaruh harapan pada pertemuan para menteri lingkungan hidup se-ASEAN yang akan diadakan Jumat (13/10) ini, di Pekanbaru, Riau.

Sebelumnya, di tempat yang sama, Menko Kesra Aburizal Bakrie yang juga Ketua Bakornas Penanggulangan Bencana mengemukakan, pemerintah menyiapkan anggaran dari pos dana bencana Rp 100 miliar untuk tahapan upaya pengurangan kabut asap di wilayah Indonesia yang telah menyeberang ke Singapura dan Malaysia. Alokasi anggaran itu telah mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

''Presiden sudah menyiapkan dana Rp 100 miliar untuk penanganan asap. Rabu malam saya sudah ke DPR. Pemerintah akan ajukan untuk menggunakan dana bencana yang masih ada,'' ujarnya.

Menurut Ical, panggilan akrab Aburizal, dana untuk penanganan asap tersebut terutama akan digunakan untuk menyewa dua helikopter dari perusahaan swasta Malaysia dan Australia.

''Helikopter Malaysia mampu mengangkut 9.000 liter air untuk dibomkan ke titik-titik api di Sumatra Selatan, Jambi, dan Kalimantan Tengah,'' jelas dia.

Pengeboman titik api dengan helikopter itu menurutnya akan mulai dilakukan Minggu (15/10). Itu merupakan upaya jangka pendek yang dilakukan untuk mematikan api dan mengusir asap.

Sementara itu, pesawat yang akan disewa dari Rusia belum dapat dipastikan kapan mulai beroperasi. Pesawat Rusia itu bisa membawa 40 ton air yang diharapkan secara efektif bisa mematikan api dan mengusir asap.

Upaya lain yang akan dilakukan untuk mengatasi bencana asap adalah menyiapkan hujan buatan sesuai dengan kondisi dan kesiapan awan. Hujan buatan kali pertama akan dilakukan di Jambi dan Kalimantan Tengah. (A20-64n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA