logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 13 Oktober 2006 NASIONAL
Line

Berislam Cara Jawa, Beragama Cara Emha

SHALAT dengan langgam bacaan ala Masjidil Haram, boleh jadi akan menolong kekhusyukan ibadah. Tapi, pernahkah Anda merasakan kenikmatan menghadap Tuhan, dengan irama bacaan yang sangat Jawa? Belum? Kata Emha Ainun Nadjib, budayawan mbeling yang akrab dipanggil Cak Nun, shalat dengan bacaan bercengkok Jawa tak kalah nikmat dengan yang dilagukan seperti cara Arab.

Ya, di hadapan sekitar 1000-an umat Islam yang menghadiri peringatan Nuzulul Quran di halaman Balai Kota Semarang Jl Pemuda 148, semalam, dia memaparkan pengalaman spiritualnya itu. Katanya, acapkali ketika ngimami shalat, dia memakai irama bacaan yang njawani.

''Yang jadi makmum rupanya seneng. Dia shalat sambil senyam-senyum,'' selorohnya, sembari melirik istrinya Novia Kolopaking, yang tersenyum-senyum di samping kirinya.

Hadirin pun tertawa melihat ekspresi kehangatan rumah tangga Cak Nun-Novia itu. Tak terkecuali Wali Kota Sukawi Sutarip, Wakil Wali Kota Mahfudz Ali, para pejabat Pemkot, dan para hadirin. Ketawa mereka kian melebar, setelah Cak Nun mencontohkan cara dia ngimami.

''Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdu lillahi rabbil alamin. Arrahmanirrahiim...,'' lantunnya, dengan irama yang sekilas mengingatkan pada ura-ura di kampung-kampung Jawa.

Muamalah

Cak Nun tengah mendedah, keislaman seseorang tak harus diidentikkan atau dilekatkan dengan budaya tanah Arab, tempat kelahiran Islam. Orang Jawa pun berhak menikmati Islam dengan cara dan budayanya. Orang Semarang boleh saja berislam dengan cara yang berbeda dengan orang Jombang, orang Yogya, atau orang Amerika. ''Yang penting, tidak sampai masuk ke ibadah mahdhah, amalan wajib yang memang tidak boleh diutak-atik. Soal shalat, kata Rasulullah, shallu kama raaitumuni ushalli, shalatlah seperti yang kulakukan. Tidak boleh diganti dengan bahasa Jawa atau bahasa Indonesia.''

Namun dalam soal muamalah-masalah-masalah keduniaan-setiap muslim dituntut punya kreativitas. Cak Nun bersama kelompok musik Kiai Kanjeng mengusung sederet contoh, tentang muamalah lewat musik yang dimainkannya. (Achiar M Permana-64)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA