logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 13 Oktober 2006 NASIONAL
Line

HIKMAH RAMADHAN

Menuju Lailatulkadar

  • Oleh: Rozihan

SM/dok

TUHAN memang tidak pernah dendam kepada penentangnya. Suatu hari, seorang pria menghadap Rasul yang seluruh tubuhnya telah belepotan dosa puluhan tahun.

Dia telah menyekutukan Tuhan, telah menjadi pembunuh, telah berzina, dan telah melawan semua perintah Tuhan. Pria itu bernama Wahsyi, yang telah membunuh Hamzah, paman Rasul secara kejam.

Jantung Hamzah diambil dan dimakannya. Ketika Wahsyi bertanya kepada Rasulullah Muhammad, "Apakah dosa-dosa yang telah saya lakukan dapat diampuni oleh Allah?" Nabi Muhammad memahami bahwa pemberian ampunan bukan menjadi wewenangnya. Karena itu, beliau diam tidak memberikan jawaban apa pun.

Tuhan memberikan jawaban itu dalam surat Az-Zumar Ayat 53 yang artinya, "Katakanlah hai Muhammad kepada orang-orang yang dosanya telah melampaui batas, tidak dapat dihitung dan dijumlah dalam deret ukur. Janganlah mereka putus asa dari kasih sayang Allah. Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa mereka semuanya."

Firman Allah itu memberi informasi kepada kita, bahwa tidak ada dosa sebesar apa pun yang tidak diampuni oleh Allah.

Apakah ada orang yang berdosa seluas bumi dan langit ini?

Sudah tentu tidak ada orang yang mampu melakukannya. Padahal, Allah menyediakan ampunan itu seluas langit dan bumi.

Bagi siapa saja yang ingin bersegera menuju ampunan Allah, bertaubat secara tulus, tidak akan mengulangi dosa-dosanya, Allah akan segera menjemput hambanya yang berlumuran dosa itu dengan penuh kasih sayang. Tanpa kemurkaan dan rasa dendam terhadap umat yang telah menginjak-injak dan menodai istana-Nya.

Tuhan tidak tidak pernah mengajarkan kepada umat untuk melakukan perbuatan dosa. Tetapi Dia selalu menyediakan ruang, waktu, dan tempat kepada hambanya untuk mengajukan permohonan ampunan.

Sebagai sebuah contoh, Nabi telah memberi informasi kepada kita, "Bahwa puasa yang dilakukan dengan keyakinan dan penuh ketulusan, Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah kita perbuat sebelumnya.''

Raih Kemuliaan

Wahsyi adalah sosok manusia lailatulkadar; dalam jiwanya yang telah letih menghimpun dosa sepanjang hidup itu, mulai bersemi kesadarannya. Merindukan datangnya sang kekasih, yaitu pelita hati bagi perjalanan hidupnya pada masa mendatang.

Jiwa yang telah siap dan sadar itu, lailatuladar menemuinya. Kehadirannya merupakan saat qadr, yaitu saat yang menentukan sebagai titik tolak meraih kemuliaan dan kejayaan hidup di dunia dan akhirat kelak.

Menghimpun dosa adalah perbuatan yang bertentangan dengan nurani manusia sebagaimana halnya manusia tidak suka melumuri tubuhnya dengan kotoran.

Kita tidak boleh memandang ringan sebuah dosa, betapapun kecilnya dosa itu. Dosa kecil yang terbiasa dilakukan, akan menjadi noda dalam jiwa. Jika noda itu tidak segera dibersihkan dan bahkan terjadi pengulangan dosa, noda itu akan menjadi daki yang berkarat dan sulit untuk dikikis.

Kesombongan adalah sumber dari segala dosa. Ibadah yang kita lakukan juga tidak patut disombongkan. Iblis menjadi kufur (tertutup jiwanya) karena sombong.

Dengan kesombongan, kita tidak akan dapat menginjakkan kaki ke Istana Tuhan. Sifat sombong itu selalu ada pada diri manusia, betapapun kecilnya.

Jika kita pupuk, dia akan berkembang dan akan sembuh ketika setiap saat kita memupusnya. Cara memupus sifat sombong itu adalah dengan rendah hati.

Salah satu bentuk sikap rendah hati yang diajarkan oleh Nabi dalam ibadah adalah selalu memohon kepada Allah di antara harap dan cemas agar ibadah, salat, dan puasa, kita diterima dan disempurnakan kekurangannya oleh Allah. Karena Dia adalah Zat Yang Mahasempurna.

Jika ibadah saja tidak patut untuk disombongkan, apalagi dosa. Keduanya dapat direnungi dengan iktikaf.

Iktikaf yang berakar kata pada 'akafa, artinya mencegah; wa'takafa 'anil ma'siyah, artinya mengasingkan diri dari maksiat.

Menjemput lailatulkadar dengan iktikaf secara terstruktur, dianjurkan oleh Nabi dilakukan di Masjid, karena masjid sebagai tempat suci. Iktikaf dapat dilakukan kapan saja. Bahkan versi Imam Syafi'i, walau beberapa saat, tetapi dengan kualitas niat yang suci, Insya Allah kita dapat merengkuh segala kebajikan dan ampunan dari segala dosa.

Apakah itu dosa individual, dosa sosial, dosa kultural, dosa keterbelakanagan, dosa intelektual, dosa penindasan, ataupun sederet dosa yang harus dibebaskan tidak hanya cukup dengan iktikaf. Tetapi juga action iktikaf. Yang disebut terakhir itulah, yang harus selalu diperjuangkan. Amin.(60a)

- Drs H Rozihan SH MAg, Dosen Fakultas Agama Islam Unissula Semarang. Peserta Program Doktor Ilmu Hukum Undip Semarang dan Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jateng


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA