| Jumat, 13 Oktober 2006 | MURIA |
Warga Terima PLTU asal Dapat KompensasiREMBANG - Warga Desa Terahan, Kecamatan Sluke, pada dasarnya menerima dengan baik pembangunan PLTU di wilayah mereka, kata Solikul Hadi, juru bicara warga. ''Yang penting, warga menerima kompensasi,'' tegasnya, Kamis (12/10) kemarin. Khusus tanah tanah banda desa, katanya, warga sepakat tidak akan menjualnya kepada PLN. ''Menurut kesepakatan, tanah tersebut takkan kami jual. Warga hanya bersedia menyewakan tanah itu dengan harga tertentu atau dengan perjanjian hitam di atas putih dengan PLN,'' katanya. Dia juga berharap PLN tidak membeli tanah yang bakal terkena proyek PLTU itu dengan harga Rp 40.000. ''Warga tetap minta Rp 100.000 per meter persegi,'' jelasnya. Dikatakan, permintaan harga Rp 100.000 bukannya tanpa alasan. ''Pasalnya, lahan yang akan dipakai PLN adalah lahan produktif. Padahal untuk mencari lahan pengganti tidaklah mudah,'' katanya. Zainal Abidin dan M Syaiful, juga warga Terahan, mengatakan ada indikasi Terahan telah dimasuki oknum-oknum yang datang dengan tujuan tidak jelas. Dikatakan, oknum-oknum tersebut biasanya beraktivitas pada malam hari. ''Yang jelas warga merasa sangat terganggu. Hampir setiap malam ada orang-orang yang tidak kami ketahui identitasnya berkeliaran di desa kami,'' tegasnya. Tim Datangi Warga Sementara itu, juru bicara tim analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) proyek PLTU tersebut, Dwi Purwanto MSi, mengatakan pihaknya akan mendatangi warga untuk menjaring aspirasi dan melakukan kajian, Jumat ini. Dia menegaskan, amdal bukan dimaksudkan untuk meyakinkan warga agar mau menerima keberadaan PLTU di desa mereka, melainkan mengkaji dampak lingkungan dari keberadaan PLTU tersebut. ''Amdal hanyalah untuk memotret perilaku lingkungan, kondisi sosial, ekonomi, fisik, biologi, dan kimia. Amdal tidak berupaya menyakinkan dan tidak menyakinkan masyarakat,'' jelasnya, kemarin. Kemarin, sosialisasi kerangka acuan (KA) amdal proyek PLTU digelar di lantai IV Gedung Sekda Rembang. Dalam acara tersebut, warga Desa Leran masih belum mau bisa menerima kehadiran PLTU di wilayah mereka. (H19-58) |