| Jumat, 13 Oktober 2006 | KEDU & DIY |
Berangkat dari Cibiran dan Modal Nol
SORE itu, ratusan santri usia SD dan SMP tekun memperdalam bacaan Juz Amma. Ada yang di ruang utama, ada yang di kamar-kamar dan di lorong-lorong ruangan Pondok Pesantren Mambaul Ihsan, Desa Sitibentar, Kecamatan Mirit, Kebumen. Sementara santri yang lebih dewasa memperdalam kitab di serambi masjid, ditunggui seorang ustad. Namun yang paling banyak adalah santri usia belasan tahun yang mengaji di rumah utama atau ndalem. Dengan tekun, pimpinan pondok KH Abdul Mufti (58), duduk bersila menuntun para santrinya belajar membaca Alquran. Tongkat dari pipa peralon terus dipegangnya, sembari mengedril santri-santrinya. Sekali saat, Kiai Mufti berjalan mengontrol santriwati. Lalu balik lagi duduk bersila di tengah-tengah santri. ''Untuk tahap hafalan Juz Amma, harus saya sendiri yang mengajar. Konsekuensinya, setiap hari saya mendampingi mereka,'' kata alumnus Pondok Al Muayad Solo itu. Ada tiga tahapan pembelajaran di pondok itu. Dimulai dari membaca Alquran, memperdalam kemampuan dan kefasihan bacaan, termasuk dari sisi gramatikal atau ilmu nahwu sharaf-nya, serta memperdalam kitab kuning. Menurut Kiai Mufti, selama Ramadan, kajian kitab yang biasanya malam hari, diajukan selepas shalat asar. Pagi Sore Pondok Pesantren Sitibentar berdiri di tengah-tengah perkampungan. Pondok tersebut juga mengelola sekolah umum, dari TK, MI sampai MTs. Jumlah murid MI kini sekitar 200 orang, murid MTs ada tiga kelas dan murid TK satu kelas. Kini telah disiapkan satu unit gedung untuk sekolah lanjutan atas, setingkat SMA. Gedungnya di sisi timur rumah induk. Bangunan TK, MI dan MTs berada di depan pondok. Pada hari biasa, kegiatan belajar mengajar di pondok dan sekolah yang dikelola Yayasan Al Jufri (diambil dari nama kakek Kiai Mufti) adalah sekolah umum di pagi hari, pendidikan diniyah di sore hari, dan kajian kitab kuning di malam hari. Kompleks pondok beserta madrasah dan masjid itu menempati areal seluas 5.000 hektare. Di dalamnya juga ada aula yang representatif, koperasi, warung telekomunikasi. Di sekitarnya berdiri pula warung dan kios-kios. Kiai Mufti yang pernah memperdalam bacaan Alquran di Pondok Sidayu Gresik Jatim dan belajar kitab kuning di Pondok Tegalrejo Magelang itu mengaku mendirikan pondok tahun 1991 setelah merasa ''gagal'' merintis pondok di Jakarta selama 13 tahun merantau. Pulang kampung, Kiai Mufti merasa berat membuka daerah tersebut. Maklumlah, modal yang ada hanya sebuah rumah kecil warisan orang tuanya. Sementara lingkungan sekitar kurang mendukung. Daerah Kecamatan Mirit memang dikenal daerah abangan. Dukungan Awalnya para santri dan keluarga tidur dan mengaji di rumah induk itu. Kemudian perlahan bisa membangun fondasi masjid. Masjid tempat ibadah dan ngaji itu hanya ditutup gedhek atau anyaman bambu. Hampir tiga tahun Kiai Mufti benar-benar menderita bersama santrinya. Namun ada yang selalu mendorong pria kelahiran Solo itu untuk bersemangat membesarkan pondok. Yakni, dukungan moral dari KH Muhammad bin Sofwan dari Sidayu Gresik. ''Mbah Sofwan selalu berpesan, aja mung dadi guru. Kowe ra bisa duwe pondok yen ora balik kampung,'' ujar Kiai Mufti menirukan gurunya. Sejak itu bapak sebelas anak tersebut makin tertantang. Jumlah murid dan santrinya terus bertambah. Bahkan kini tergolong salah satu pondok pesantren tradisional yang berkembang pesat. (Komper Wardopo-24) |