logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 13 Oktober 2006 INTERNASIONAL
Line

665.000 Warga Irak Tewas sejak Invasi

WASHINGTON - Tidak kurang dari 665.000 warga Irak tewas dalam keganasan perang Irak. Data itu dikemukakan tim peneliti, Kamis kemarin. Namun, Presiden AS George W Bush menganggap temuan itu tidak bisa dipercaya, sementara seorang panglima AS memperkirakan korban tewas ''hanya'' sekitar 50.000 jiwa.

Penelitian oleh tim AS dan Irak itu dilakukan dengan metode wawancara dari rumah ke rumah. Penelitian itu untuk menghitung jumlah korban tewas sejak invasi Amerika 3,5 tahun lalu.

Ternyata, jumlah korban tewas naik lipat tiga dibandingkan sebelum invasi 2003. Peneliti Gilbert Burnham dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health di Maryland, AS, mengatakan hasil temuan yang dimuat jurnal medis The Lancet memperkirakan korban tewas sebelum invasi adalah 143.000 setahun.

Tim peneliti memperkirakan, akibat dari perang Irak, tidak kurang dari 665.000 warga negara itu tewas. Hal itu berarti, 2,5 persen dari total populasi penduduk sebesar 27 jiwa itu menjadi korban keganasan invasi dan konflik kekerasan.

Menanggapi penelitian itu, Bush saat jumpa pers di Gedung Putih mengatakan, ''Saya anggap laporan itu tidak bisa dipercaya. Begitu pula Jenderal Casey (panglima pasukan AS di Irak) dan para pejabat Irak tidak akan percaya dengan laporan tersebut.''

Casey mengatakan, dia belum membaca hasil penelitian tersebut. ''Namun, tampaknya jumlahnya sangat jauh dari data yang saya ketahui. Sepengetahuan saya, jumlah korban tewas tidak lebih dari 50.000 orang,'' kata Casey.

Tak Bisa Dipercaya

Bush mengatakan, ''Saya tahu ada banyak orang tak berdosa meninggal, dan hal itu merisaukan saya. Saya sedih karenanya.'' Dia menganggap metodologi riset itu sangat tidak valid. Desember lalu, Bush memperkirakan sekitar 30.000 warga Irak tewas dalam perang.

Juru bicara pemerintah Irak Ali al-Dabbagh mengatakan, ''Laporan itu tidak bisa dipercaya. Jumlah yang dilaporkan dilebih-lebihkan.'' Pemerintah Irak menyatakan jumlah korban tewas dalam perang itu mencapai 40.000 orang.

Burnham, si peneliti, mempertahankan validitas metodologi yang digunakan. Dia memaparkan pula kesulitan mengumpulkan data selama masa perang. Peneliti itu mengatakan, sekitar 600.000 orang tewas karena kekerasan, sebagian besar korban jatuh dalam baku tembak, namun korban tewas karena serangan bom mobil terus meningkat jumlahnya. (rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA