logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 13 Oktober 2006 BANYUMAS
Line

SEMARAK RAMADHAN

Pertebal Iman melalui Pelatihan Dai

WALAU duduk sejak pagi mendengarkan ceramah dalam keadaan berpuasa, sampai saat shalat asar, tak seorang pun mengantuk. Mereka mengikuti pembicaraan dengan saksama. Saat acara diskusi, berbagai pertanyaan dilontarkan kepada pembicara.

Pemandangan itu terlihat dalam pelatihan dai di aula Rektorat Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto, kemarin. Kegiatan itu diadakan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Wilayah Banyumas, bekerja sama dengan Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Unsoed dan Forum Studi Amaliyah Bersama (Forsab).

Acara dimulai Kamis (12/10) dan akan berakhir Minggu (15/10). Selama pelatihan, peserta yang berjumlah 50 orang, mengikuti kegiatan sejak pukul 08.00 sampai 22.00. Mereka istirahat hanya saat shalat wajib, berbuka, dan shalat tarawih.

Para peserta adalah wakil dari lembaga dakwah, masjid-masjid di seputar Purwokerto, fakultas-fakultas di Unsoed dan STAIN, organisasi Islam, dan dari yayasan. Pembicara yang tampil adalah Ustad Abud Deedat, Adian Husaini, Avid Solihin, dan Henry Sholahudin, semuanya dari DDII pusat.

Wicki, salah satu peserta dari Unsoed menuturkan, topik yang dibahas sangat menarik, yaitu mengenai tantangan yang dihadapi umat Islam. Kegiatan itu sekaligus mengisi acara pada bulan Ramadan. "Saya jadi tahu keadaan yang sebenarnya. Karena pembicaraan menarik, tahu-tahu sudah sore."

Rekannya, Hanung, juga dari Unsoed, menyatakan tertarik mengikuti pelatihan itu karena ada penyajian data kenyataan di lapangan mengenai pemurtadan dan liberalisasi. "Ternyata data-data itu memang benar-benar disajikan," katanya.

Perubahan Diri

Menurut ketua panitia Haris Pemugar, bulan suci Ramadan merupakan momentum untuk mempertebal iman seseorang dan mengubah diri menjadi pribadi muslim yang bertakwa dan berakhlak mulia. Kedua hal itu sebagai fondasi untuk menghalau upaya pemurtadan dan pemikiran liberal yang dapat menggoyahkan keimanan.

Anggota panitia, Panggah, menambahkan, upaya pemurtadan dan liberalisasi itu banyak terjadi.

Salah satu contohnya, upaya menyamakan semua ajaran agama. Pada dasarnya setiap agama mengajarkan kebaikan, tetapi semua pemeluk agama harus meyakini agama yang dipeluknya. "Namun yang terjadi, diarahkan untuk meyakini semua keyakinan agama," katanya. (Budi Hartono-42n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA