logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 12 Oktober 2006 WACANA
Line

Surat Pembaca

Suciwati Tagih Janji

Dua tahun berlalu sejak alm Munir meninggal dalam perjalanan naik pesawat Garuda dari Jakarta ke Amsterdam, tetapi misteri tersebut belum terungkap tuntas. Kalau Kapolri menunggu Pollycarpus buka mulut, justru saya menunggu keterangan laboratorium forensik Belanda, jenis/senyawa arsen apa yang terdapat dalam lambung almarhum.

Menurut dugaan saya, senyawa yang digunakan bukan arsen uloksida yang tidak berwarna, tapi Cupric Acetoarsenite berwarna hijau yang lazim dipakai sebagai racun tikus. Dugaan saya itu berdasarkan kesaksian dokter Tarmizi Taher di Pengadilan. Beliau katakan dalam perjalanan dari Singapura ke Amsterdam, almarhum muntah bewarna hijau sembilan kali.

Menurut textbook yang saya miliki berjudul "Poison", muntahan berwarna hijau itu menunjukkan korban menelan Cupric Acetoarsenite atau Cupric Arsenite. Seorang ahli forensik dari UI memberi kesaksian, senyawa arsen yang tidak berwarna itu, warnanya akan berubah menjadi hijau setelah masuk lambung.

Hal itu mustahil terjadi dan bisa dibuktikan baik in vitro maupun in vivo. Kesaksian itu saya bantah melalui media beberapa hari setelah kesaksiannya. Tetapi sayangnya Majelis Hakim terlalu percaya pada kesaksian satu orang saksi ahli tanpa minta second opinion dari saksi ahli lain.

Kalau dugaan saya benar, maka pemberian racun yang berwarna hijau tidak mungkin dilakukan selama penerbangan oleh awak Garuda. Orange juice atau apple juice warnanya akan berubah menjadi hijau kalau diberi racun tikus tersebut. Kalau ditaburkan pada mie goreng atau pasta akan mencolok mata dan menimbulkan kecurigaan dan tanda tanya penumpang.

Saya sarankan Bapak Kapolri minta keterangan laboratorium forensik Belanda mengenai arsen yang terdapat dalam lambung almarhum Munir dari jenis atau senyawa apa.

Drs Sunarto Prawirosujanto

Jl Patiunus 8 Kebayoran Baru, Jaksel

***

Nikmat Naik Bus Kota

Menje!ang berakhirnya masa jabatan Gubernur DKI Jaya Bang Yos bebenah terus. Sudah barang tentu terjadi pro dan kontra, tetapi dia balik bersuara, "Kalau tidak berani diprotes ya jadi lurah saja," salut bagi Bang Yos, karena pada dasarnya pembangunan DKI Jaya untuk golongan menengah ke bawah.

Kalau kebetulan tinggal di kawasan Ciledug yang terkenal macetnya sepanjang hari, kini tertolong adanya bus AC Ciledug 44 Senen yang hampir 10 menit sekali lewat Jl Raya Ciledug. Enaknya lagi kalau dapat tempat duduk, pasti akan menikmati perjalanan 1 sampai 1,5 jam bisa tidur-tidur ayam. Lucunya lagi tanpa disadari sekali-kali mengorok.

Sebaliknya bagi yang tidak dapat tempat duduk, terpaksa berjubel bagaikan "sardencis", bergelantungan persis seperti monyet. Paling tidak sampai di pertigaan air mancur, pintu I Senayan dan Ratu Plaza Jl Jend Sudirman dan seterusnya. Angkutan bus umum ini cukup efektif meski baju kusut namun tiba di kantor tidak terlambat.

Tarifnya relatif terjangkau Rp 4.800 tetapi anehnya kalau menyodorkan pecahan Rp 5.000 dianggap impas dan penumpang pun tidak komplain. Dengan proyek Megapolitan Tangerang, Bogor, Bekasi, Depok Cianjur yang merupakan kota penyangga DKI Jaya, pendatang dengan modal bonek (bondo nekad) mulai membanjiri kota.

Tolong Bang Yos sebelum hengkang dari kursi Gubernur, busway hendaknya lewat Ciledug Raya, setidak-tidaknya jalan raya dilebarkan karena warga Ciledug mendambakan kelancaran transportasi yang nyaman.

Drs JP Arisnosusatyo

Cempaka Baru Rt 13/Rw 6, Jakpus

***

Honor Guru Madin

Ustadz atau guru Madrasah Diniyah (Madin) adalah sebuah profesi. Mereka beraktivitas 13.00 - 17.00, hari kerja (5 x seminggu, 25 x sebulan) dan libur hari Jumat. Tetapi mereka kebanyakan enggan disebut pekerja karena sebagian besar memahami kata bekerja bermakna mengandung akibat menghasilkan uang atau materi.

Padahal bisyarah atau honor guru diniyah umumnya di bawah UMR (Rp 75.000 s.d Rp 150.000/bulan). Atas minimnya honor, pengelola juga kurang berani/tidak tega menanamkan kedisiplinan tinggi pada para guru. Dalam patokan umum, tuntutan kedisiplinan mestinya sebanding besarnya kesejahteraan. Jadi guru madin adalah panggilan jiwa dan hati.

Terbukti ketika hampir semua profesi di negeri ini (DPR, PNS, guru, buruh) ramai-ramai demo menuntut kenaikan gaji, guru madin tidak ikut. Mayoritas mereka terpatri prinsip bahwa makin kecil imbalan duniawi, makin besar pahala tabungan ukhrowi. Guru diniyah bukan fenomena kecil, karena merata dan menyebar hampir ke seluruh penjuru negeri.

Mereka membangun pondasi akal dan budi, meneruskan perjuangan para wali dan kiai. Namun ujung-ujungnya, ada pameo: "Guru Diniyah Juga Manusia", (maksudnya bukan malaikat). Umumnya sudah punya anak dan istri meski tak berharap kaya kecuali nafkah yang mencukupi. Mereka enggan menuntut bahkan lebih baik merangkap jadi buruh atau tani.

Saya cuma mengimbau masyarakat dan wali santri agar maklum jika guru diniyah kurang rajin dan ngantuk saat mengajar. Mereka lelah merangkap kewajiban kerja lain demi mencukupi kebutuhan keluarga. Kepada DPR, pemerintah agar tidak gerah karena kerusakan moral mewabah. Mari dukung guru diniyah agar mengajar lebih istiqomah. Mungkin cukup dengan sedikit pos APBN/APBD yang halal namun berkah.

M Mahyail SSi

Jatirejo Rt 2/Rw 1 Suruh Kab Semarang

***

Koruptainment

Acara Infotainment di berbagai teve banyak ragamnya. Acara pergunjingan senantiasa asyik dilihat dan enak didengar bahkan mungkin ditiru generasi selanjutnya. Inilah yang menyebabkan "pengharaman" untuk tayangan infotainment oleh NU, Barisan Mahasiswa Muslim, Dewan Pers dan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan.

Inti penolakan, karena acara ini telah merambah terlalu jauh ke ruang privat dan menimbulkan budaya bergunjing. Separah itukah efek yang ditimbulkan?. Bagaimana dengan gunjingan ibu-ibu pejabat, para wanita saat arisan, PKK, pengajian. Justru lebih parah dan berbahaya. Bedanya tidak diekspose di media dan tidak di-infotainment-kan.

Nyatanya hingga kini acaranya tetap gayeng. Segala hal yang membahas gunjingan dan fitnah biasanya laris manis. Coba adakah produser yang berani membuat acara bertajuk Koruptainment. Sebab korupsi dengan segala bentuknya membuat keuangan negara hancur total yang berdampak pada macetnya peningkatan kesejahteraan rakyat.

Para koruptor mudah bernegosiasi dengan para mafia peradilan. Ini bukan omong kosong lagi. Isi tayangan bisa dengan mewawancarai langsung koruptor, keluarganya, prestasi jabatan, pendidikan serta mengapa korupsi. Juga siapa saja yang diajak korupsi berjamaah.

Hal ini justru akan menjadi efek jera bagi yang akan berbuat korupsi dan pembelajaran positif terhadap masyarakat luas serta membuat kapok/malu koruptor beserta keluarga besarnya. Jadi "pengharaman" Infotainment hanya lecutan kecil yang kurang punya greget besar. Perselingkuhan pejabat/pemimpin/tokoh masyarakat di hotel berkelas/vila lebih banyak dan mengerikan.

Wisnu Widjaja

Jl Sindoro I/16 Panggung, Tegal

***

Peran Perempuan

Saat ini kaum feminis sedang gencar menyerukan istilah 'pembebasan perempuan' dan 'kesetaraan gender'. Mereka melihat kaum perempuan sejak dulu berada dalam posisi tertindas, terpinggirkan dan terkungkung hanya dalam area 'sumur, dapur, kasur'. Dari sini muncul tuntutan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam segala bidang.

Padahal faktanya, ada hal tertentu yang memang antara laki-laki dengan perempuan berbeda. Contoh, pernahkah mendengar kegiatan ronda malam dibebankan kepada kaum wanita/ibu. Pernahkan petugas KUA yang akan menikahkan sepasang pengantin adalah perempuan dan pernahkah seorang laki-laki bisa hamil, melahirkan dan menyusui?.

Ide persamaan hak justru memunculkan banyak persoalan baru. Maraknya pergaulan bebas, tingginya tingkat perceraian, keluarga berantakan (broken home), kenakalan anak dan remaja akibat minimnya kasih sayang dalam keluarga. Hal ini terjadi karena terabaikannya peran utama perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.

Perempuan saat ini lebih tertarik keluar rumah mengejar materi melalui berbagai jenjang profesi seperti halnya yang dilakukan laki-laki, ketimbang menjalankan perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Kalau seorang perempuan sudah tidak lagi menjalankan peranannya sebagai wanita, maka kehancuran sebuah keluarga segera nampak.

Agustin Lisafitri

Jl Tm Sri Rejeki Tmr II/9, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA