| Kamis, 12 Oktober 2006 | NASIONAL |
Presiden Minta ASEAN Bertemu Membahas AsapJAKARTA -Protes negara-negara tetangga atas kegagalan pemerintah Indonesia mengatasi polusi asap hutan dan belum diratifikasinya perjanjian ASEAN tentang penanganan polusi asap secara lintas batas yang disekapati 2002, direspons oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden memerintahkan Menlu Hassan Wirajuda untuk menggelar pertemuan dengan negara-negara ASEAN membahas masalah itu. ''Presiden sudah memberikan petunjuk agar kami mengambil inisiatif mengadakan pertemuan dengan negara-negara ASEAN yang terkena imbas asap di Indonesia,'' kata Menlu usai mendampingi Presiden SBY membuka Pameran Produk Ekspor (PPE) Ke-21 di Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Rabu (11/10). Menlu menjelaskan, pihaknya sedang merancang pertemuan di Riau atau di Pekanbaru. Dikatakan, Indonesia memahami keluhan negara-negara tetangga akibat asap yang berasal dari pulau-pulau di Indonesia dan berusaha mengadakan upaya mengatasinya bersama dengan lima negara di ASEAN. Oleh karena itu pemerintah berinisiatif untuk mengadakan pertemuan bersama dengan lima negara ASEAN yang terkena asap, yakni Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, dan Indonesia sendiri. Di Indonesia Menurut Menlu, inisiatif itu diperlukan sebagai reaksi positif Indonesia atas masalah asap. Hassan mengatakan, sebelumnya Pemerintah Singapura memang mengambil inisiatif mengadakan pertemuan bersama dengan lima negara ASEAN untuk membicarakan masalah asap. Lima negara yang akan mengadakan pertemuan itu adalah Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Indonesia. ''Pertemuan tingkat menteri luar negeri itu direncanakan dilakukan pada 13 Oktober mendatang di Singapura. Akan tetapi, itu masih dirundingkan apakah tetap dilaksanakan di Singapura atau di Riau,'' kata dia. Kendati masih belum diputuskan apakah pertemuan akan dilakukan di Singapura atau di Indonesia, namun menurut Menlu, Presiden menghendaki pertemuan itu dilakukan di Indonesia. Di tempat terpisah, Sekretaris Menko Kesra (Sesmenko Kesra) Sutedjo Yuwono mengatakan, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Riau, dan Palembang yang menimbulkan bencana kabut asap hingga ke negeri tetangga, ternyata masih sulit diatasi karena pemerintah masih menemui beberapa kendala. Kabut asap yang semakin tebal saat ini dikarenakan oleh kecepatan angin yang sangat lambat untuk menghalau asap, selain tidak turun hujan pada Oktober ini. ''Itulah kendala kita, bahwa kecepatan angin tidak cukup untuk menghalau kabut asap yang terjadi di Kalimantan dan beberapa daerah di Sumatra tersebut,'' kata Sutedjo ketika dihubungi. Menurutnya, di beberapa daerah masih banyak titik api yang berpotensi menimbulkan asap tebal. Dalam melakukan kegiatan water bombing selama kurang lebih sepekan itu, pihaknya dibantu oleh TNI AU untuk menghemat biaya. ''Sudah disiapkan 10 helikopter untuk melakukan water bombing, dan TNI AU sudah menyiapkan bombing pocket,'' ujarnya. Selain water bombing, pemerintah juga akan menyiapkan hujan buatan yang memadukan jasa teknologi modifikasi cuaca. (A20,H27-49a) |