| Kamis, 12 Oktober 2006 | NASIONAL |
Pasien Cangkok Hati Sempat Infeksi ParuSEMARANG - Kondisi anak balita pasien cangkok hati, Ulung Hara Hutama (15 bulan), saat ini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dokter Kariadi. Dia ditempatkan di ruang perawatan Pediatric Intensive Care Unit (PICU) untuk mendapat pengawasan 24 jam dari tim dokter. Ulung sudah bisa memberikan respons terhadap situasi sekitarnya. Asupan untuknya juga tak lagi lewat selang. Dia sudah mulai belajar makan bubur yang disuapkan sedikit demi sedikit melalui mulut. ''Sejauh ini, kondisinya terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan,'' ungkap Scientific Committee Tim Cangkok Hati RSUP Dokter Kariadi, Prof Dr dokter Ag Soemantri SpA(K) saat ditemui di ruang PICU, Rabu (11/10). Kendati demikian, dia menjelaskan pascaoperasi, Ulung sempat menderita infeksi paru. Gejala itu muncul enam hari setelah operasi yang dilaksanakan pada Minggu (1/10). Infeksi paru itu merupakan hal biasa pada pasien transplan. ''Tim dokter sudah memberinya obat sehingga infeksi itu teratasi,'' tutur dia. Reaksi Penolakan Di samping infeksi, menurut salah satu anggota Tim Cangkok Hati, dokter Tatty Ermin Setiati SpA, anak itu juga mengalami reaksi penolakan atas sebagian hati milik ibunya. Reaksi penolakan itu diketahui dari gejala yang menyertainya. "Gejala yang timbul antara lain suhu tubuh meningkat, terjadi kenaikan enzim hati dan sel darah putih. Seiring berakhirnya masa kritis, kemungkinan reaksi penolakan akan semakin kecil,'' jelas dia. Seperti diberitakan, RSUP Dokter Kariadi kembali menorehkan prestasi di bidang kedokteran. Kali ini, tim dokter yang beranggotakan 30 orang, berhasil mencangkokkan hati seorang ibu kepada anaknya yang berusia 15 bulan. Sebelumnya, rumah sakit itu berhasil melakukan transplantasi ginjal dan cangkok sumsum belakang. Tindakan cangkok hati ditempuh karena warga Puspowarno III No 30 itu menderita sirosis kriptogenik. "Sirosis kriptogenik adalah suatu kondisi di mana anak balita itu tidak memiliki saluran empedu. Tanda-tandanya, kulit pasien akan menjadi kuning dalam jangka waktu lama,'' ungkap dia. Saat ini, kondisi Ulung terus dipantau. Tubuh anak itu dipasangi alat monitoring jantung. Selain itu, terpasang juga infus yang berfungsi untuk memasukkan obat. Asupan untuk anak itu harus memenuhi ketentuan yang dianjurkan dokter. Saat ini, lanjut Tatty, pasien mendapatkan air susu ibu (ASI) ditambah dengan susu formula khusus. Jumlahnya pun tidak boleh terlalu banyak ataupun sedikit. Operasi yang dilakukan terhadap Ulung, tergolong memiliki tingkat kesulitan tinggi. Sebab hati merupakan organ tubuh yang mudah sekali berdarah. "Untuk memotong hati milik ibunya, diperlukan teknik tersendiri, dengan alat harmonic skaltel,'' ungkap dia. (H31-60m) |