| Kamis, 12 Oktober 2006 | NASIONAL |
Tol Tetap Dibuka meski Jalan Berupa TanahSURABAYA - Uji coba jalan tol Surabaya-Gempol, Rabu (11/10) tetap dilaksanakan Tim Nasional (Timnas) Penanggulangan Lumpur Panas Porong. Saat uji coba, kondisi fisik badan jalan sebagian besar masih berupa tanah. Memang ada sebagian beberapa ruas yang terlihat aspalnya, tetapi dalam kondisi rusak dan bergelombang. Uji coba pembukaan jalan bebas hambatan Surabaya-Gempol, khususnya di ruas Porong-Gempol itu dilakukan lebih cepat dibanding dengan jadwal semula. Berdasar rencana awal, jalan tol mulai dibuka pukul 06.00. Kenyataannya, 20 menit sebelum pukul 06.00, jalan tol telah dibuka. Sebagian besar badan jalan itu tertutup tanah uruk. Di sebelah kanan dan kiri jalan tol, tepatnya di KM 36 sampai 39, ada tanggul pengaman luberan lumpur panas PT Lapindo yang tingginya mencapai 7-8 meter. Mobil Tangki Saat uji coba, karena kondisi fisik tol berupa tanah, banyak debu yang beterbangan. Untuk mengatasi masalah itu, PT Jasa Marga dan Timnas Penanggulangan Lumpur Panas Porong menurunkan sejumlah mobil tangki air guna menyirami badan jalan yang berdebu. Mesin penyedot air juga disiapkan sebagai langkah antisipasi perembesan air dari celah tanggul. Petugas juga memasang rambu-rambu laju maksimal kendaraan 25 kilometer per jam. Tujuan memperlambat laju kendaraan itu agar tidak menimbulkan getaran terhadap tanggul yang masih labil. ''Izin dari Tim Nasional sudah ada," ujar Kepala PT Jasa Marga Cabang Surabaya-Gempol Ir Subakti Syukur, Rabu (11/10). Ruas jalan tol Surabaya-Gempol sangat vital bagi kepentingan warga Jatim di kawasan timur, seperti Kabupaten Pasuruan, Malang, Probolinggo, Jember, Situbondo, Bondowoso, Lumajang, dan Banyuwangi. Sebab jalan tol itu menjadi akses penghubung paling strategis bagi Jatim bagian tengah dan barat dengan kawasan bagian timur. Uji coba jalan tol kemarin masih untuk satu lajur, yakni dari Porong-Gempol, sedangkan untuk lajur Gempol-Porong, belum bisa dipastikan kapan akan dibuka. Kendaraan yang diizinkan melintasi juga dibatasi kendaraan golongan I seperti sedan, Colt diesel, mobil station, dan kendaraan golongan II A seperti bus dan truk dengan gardan 1. Kendaraan golongan II B atau kendaraan besar seperti trailer dan truk gandeng, masih dilarang melintas. Sebab, getaran kendaraan berat itu sangat berpengaruh terhadap fisik tanggul. ''Kami mengutamakan kendaraan pribadi dan kendaraan kecil, karena kendaraan besar biasanya berpotensi menjadikan jalan macet. Apalagi kondisi jalan sekitar semburan belum stabil,'' tutur Subakti. Dengan pembukaan jalan tol itu, tingkat kemacetan di jalan reguler depan Pasar Porong langsung berkurang. Kepala Induk PJR Tol Jatim I Satelit AKP Sartono menyatakan, biasanya setiap jam jumlah kendaraan yang melintasi jalan raya Porong mencapai 700-900 unit. "Namun mulai hari ini berkurang," tutur dia. Sementara itu, prediksi banyak ahli geologi bahwa telah terjadi penurunan tanah di sekitar kawasan semburan lumpur panas PT Lapindo Brantas, mulai menunjukkan tanda-tanda kebenaran. Sebelumnya, setiap hari diperkirakan terjadi penurunan tanah sekitar 2 sentimeter. Sejumlah bangunan di Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (TAS) I ada yang mulai retak-retak. Bahkan Balai Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin juga mengalami hal sama. Beberapa hari lalu, anggota Timnas Penanggulangan Lumpur Panas Porong Sofyan Hadi pernah menyatakan ada pemuaian rel KA di jalur Siring-Jatirejo. Akibatnya, rel melengkung. Itu merupakan peringatan dini terhadap kondisi lingkungan di sekitar kawasan luapan lumpur. Dia juga menambahkan, penurunan kedalaman itu tak selalu 2 sentimeter. Bisa saja penurunan terjadi seketika dan cukup dalam. ''Perhitungan itu secara konklusi belum final. Yang jelas, penelitian terus kami lakukan untuk memperjelas data. Tidak menutup kemungkinan data perubahan itu terus berkembang.'' (G14-46m) |